BANJARMASIN - Banjarmasin masih dalam situasi darurat sampah. Tengok saja Jalan Rajawali Raya di Banjarmasin Selatan. Di sini, tumpukan sampah yang tidak terangkut menciptakan TPS liar.
Ironisnya, lokasi TPS liar ini hanya selemparan batu dari kantor Kelurahan Basirih Selatan.
Kondisi semakin memburuk saat banjir rob melanda. Air pasang membuat sampah mengambang dan menyebar hingga ke badan jalan, menciptakan kekacauan.
Bau menyengat dan sampah yang berserakan tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengganggu aktivitas warga.
Pardi (60), warga setempat, mengaku sangat terganggu. "Bau menyengat dan sampah ini mengganggu arus lalu lintas. Banyak kendaraan kesulitan melintas. Bahkan ada yang hampir terbalik," keluhnya, Rabu (12/3).
Jalan Rajawali Raya sering menjadi jalan tembus ke Jalan Gubernur Subarjo. Tetapi tumpukan sampah basah membuat para pengendara harus ekstra hati-hati.
Muhadi, ketua rukun tetangga (RT) setempat, bahkan memilih mencari jalan lain. "Saya lebih memilih memutar jalan. Sangat membahayakan," ujarnya.
Menurut Muhadi, masalah ini sudah berlangsung hampir sebulan sejak Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih disegel.
Sebelum TPAS tersebut ditutup, sampah di jalan ini rutin diangkut. "Kondisinya makin parah karena beberapa warga dari luar Jalan Rajawali Raya ikut membuang sampah di sini," ungkap Muhadi.
Untuk mengatasi permasalahan itu, lurah sudah mengumpulkan para ketua RT, ketua RW, Dewan Kelurahan, dan paman gerobak sampah.
Hasil pertemuan, disepakati agar warga diminta menaruh sampah di RT 16 atau eks Pasar Burung. "Di sana, sampah akan dipilah sebelum dibuang ke TPS. Mungkin sore ini sudah bisa dimulai," katanya.
Selain itu, ada juga opsi agar warga membungkus sampahnya di dalam karung, lalu menaruhnya di samping kantor kelurahan.
Muhadi berharap, warga dapat lebih tertib dalam mengelola sampahnya agar masalah ini tidak semakin memburuk.
Jadi Sumber Penyakit
Di Kompleks Grand Batuah Mahatama, Lingkar Dalam Selatan, warga juga mengeluhkan bau menyengat dan kerumunan lalat akibat tumpukan sampah di TPS3R Lingkar Madani yang berada di dekat permukiman.
Rizqon (32), salah seorang warga, mengaku terganggu dengan kerumunan lalat yang sering masuk ke rumah mereka, terutama pada pagi hingga sore hari.
"Bahkan kadang malam juga ada. Jelas kami terganggu," katanya.
Tak hanya bau dan lalat, Rizqon juga khawatir dengan potensi penyebaran penyakit akibat buruknya pengelolaan sampah di TPS tersebut.
"Akibat lingkungan kotor, bisa-bisa jadi sumber penyakit, apakah pemerintah mau bertanggung jawab?"
Rida Noor Karina (28), warga lainnya, mengatakan masyarakat pernah melakukan aksi protes untuk menolak keberadaan TPS tersebut. Namun, protes tersebut tidak membuahkan hasil.
"Sekarang banyak sampah menumpuk di sana," katanya.
Rida berharap pemerintah bisa mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini. Jika pemindahan TPS tidak memungkinkan, ia menginginkan pengelolaan sampah yang lebih baik.
"Supaya sama-sama nyaman, dan warga di sini tidak lagi terganggu, terutama soal lalat dan bau sampah," ucapnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief