BANJARMASIN – Proyek peningkatan sistem drainase di kawasan Jalan Kampung Melayu, Banjarmasin, menuai kritik dari warga setempat.
Warga menilai hasil pekerjaan yang baru saja rampung tidak memenuhi harapan dan terkesan dikerjakan asal-asalan.
Ahmad Nasari, salah satu warga RT 8, Kampung Melayu Darat mengungkapkan proyek sepanjang 255 meter yang menelan biaya Rp650 juta dari APBD tahun 2023 ini masih belum mampu mengatasi masalah genangan air dan banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
"Percuma saja, air tetap menggenang. Sistem yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Kalau memang mau berhasil, bangunan seharusnya mengikuti aturan rumah panggung, bukan diuruk begitu saja," kata Ahmad.
Ahmad menambahkan pengerjaan drainase terkesan dipaksakan. Ia menilai selama tidak ada penyesuaian pada sistem tata bangunan, hasil proyek ini akan sia-sia. “Lebih baik anggarannya dialokasikan untuk hal lain yang lebih dibutuhkan masyarakat,” lanjutnya.
Di sisi lain, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin melalui Kepala Bidang Drainase, Lutfi Fadillah menegaskan proyek ini telah selesai sesuai dengan standar operasional (SOP) yang berlaku.
“Proyek drainase di Kampung Melayu ini sudah sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Pekerjaan berjalan lancar dan tidak ada kekurangan dari segi volume,” ungkap Lutfi.
Ia juga menjelaskan proyek ini adalah bagian dari empat paket pekerjaan drainase yang kontraknya berakhir pada September 2024, dengan nilai total mencapai miliaran Rupiah, termasuk paket di Gunung Sari senilai Rp1,3 miliar.
Selain itu, Dinas PUPR Kota Banjarmasin juga mengerjakan 12 paket proyek drainase kecil lainnya yang tersebar di berbagai titik di Kota Banjarmasin.
Antaranya Gang Pestol (Pekapuran A), Gang Nusantara (S Parman), Gang Kafilah, (Sungai Andai), Jalan Kurma, dan Jalan Giok, serta beberapa titik lokasi lainnya.
Editor : Fauzan Ridhani