BATULICIN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) pasca banjir yang melanda beberapa wilayah tersebut, Juni lalu.
Berdasarkan data Dinkes Tanbu, dari Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Tanbu, tercatat ada 18 kasus DBD Juni 2024 lalu.
Genangan air akibat banjir dikhawatirkan menjadi tempat berkembangbiak nyamuk Aedes Aegypti, pembawa virus DBD.
"Efeknya mungkin baru terlihat bulan Juli atau bulan depan. Usia hidup nyamuk DBD juga cukup tinggi," jelas Sekretaris Dinkes Tanbu, dr Arman Jaya Rikki, Rabu (3/7/2024).
Ia mengatakan fogging tidak selalu efektif memberantas nyamuk DBD, karena hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan larva atau telur.
Fogging sendiri hanya dilakukan berdasarkan rekomendasi tim survei lapangan setelah ada laporan dari Puskesmas.
“Kemudian tim Dinkes Tanbu akan melakukan survei untuk mencari penyebab penularan, baik dari kondisi lingkungan maupun riwayat perjalanan pasien. Fogging juga dilakukan dengan persetujuan masyarakat," jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan langkah 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti.
Langkah tambahan termasuk menanam tanaman penangkal nyamuk, memeriksa tempat penampungan air, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, dan memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
Kemudian melakukan meletakkan pakaian bekas dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang sulit dikuras, serta memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.
"Yang paling efektif adalah PSN. Edukasi terus dilakukan, dan kami juga mendorong masyarakat untuk rajin membersihkan lingkungan," tekannya.
Editor : Fauzan Ridhani