BANJARBARU - Tempat wisata Kampung Pelangi kini tampak sepi.
Tempat wisata di bantaran Sungai Kemuning, Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan tersebut diresmikan pada 2017 lalu.
Keindahan rumah warga sekitar yang dicat dengan berbagai warna, kini sudah pudar.
Bahkan, belasan pedagang yang dulunya ramai dikunjungi, kini tersisa menyisakan sedikit pedagang yang aktif berjualan dengan kondisi pembeli yang tak begitu ramai.
Terkait hal itu, Anggota Komisi III DPRD Banjarbaru Nurkhalis Ansari turut prihatin dengan fenomena tersebut.
Ia menuturkan Kampung Pelangi merupakan salah satu kampung tematik yang menjadi suatu kebanggaan maupun ikon kota Banjarbaru.
"Karena kondisi yang tak terawat, sehingga mengurangi minat untuk berkunjung dan sepi," ucap politisi PKS ini kepada Radar Banjarmasin, Kamis (9/5/2024).
Khalis berharap ke depannya ada stimulan atau kepedulian Dinas terkait untuk bisa membantu menghidupkan kembali wisata di Kampung Pelangi.
"Kampung pelangi ini ciri khas Banjarbaru, karena dulunya merupakan kawasan kumuh yang kemudian berhasil dituntaskan menjadi kampung tematik, ini merupakan hal-hal baik yang perlu diperhatikan," nilainya.
"Mungkin beragam kegiatan bisa kembali diarahkan ke Kampung Pelangi," sebutnya.
"Angkringan atau orang berjualan dihidupkan kembali dengan peran Pemerintah," ucapnya lagi.
Karena dengan adanya peran Pemerintah, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Apalagi era sekarang, kembali diberikan perhatian, dengan teknologi sekarang, Kampung Pelangi bisa diviralkan dan dimaksimalkan," tuturnya.
Khalis mengingatkan melibatkan peran masyarakat sekitar, sehingga apa yang menjadi harapan warga dapat selaras dengan program pemerintah itu sendiri.
Diberitakan sebelumnya, Utuh Asrani (50) pedagang gorengan di Kampung Pelangi mengaku semakin sepi pengunjung.
Terutama sejak dilanda banjir di kawasan Kemuning, beberapa waktu lalu.
Beberapa fasilitas mulai berkurang dan pengunjung semakin jarang.
"Warna ornamen yang ada ini juga mulai pudar, melintasi jembatannya perlu berhati-hati, karena kalau menyeberang besi yang kita injak itu berbunyi," ujarnya.
Karena itu, ujar Utuh Asrani, kunjungan ke Kampung Pelangi pun sudah tak seramai dulu.
Karena semakin minimnya jumlah pengunjung, Utuh Asrani menduga hal itulah yang jadi alasan beberapa pedagang banyak berpindah lapak.
"Kalau hari biasa memang sepi, tapi Alhamdulillah ada aja, cuma tidak seramai dulu," ujar Utuh Asrani kepada Radar Banjarmasin.
Meski demikian, ujar Utuh Asrani, masyarakat sekitar kerap melakukan berbagai kegiatan untuk meramaikan Kampung Pelangi.
Editor : Fauzan Ridhani