RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Pemadaman listrik yang berlangsung berulang kali di kawasan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, berdampak langsung terhadap penghasilan Yanti Karmila, 26. Pedagang daring asal Tatah Amuntai itu mengaku kesulitan bekerja karena aktivitas jualan dan siaran langsung bergantung pada listrik serta jaringan internet.
Keluhan tersebut disampaikan Yanti di tengah aksi mahasiswa di depan Kantor DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (19/8/2026).
Yanti datang ke lokasi setelah mengetahui aksi tersebut melalui siaran langsung di media sosial. Masih mengenakan helm dan tanpa persiapan khusus, dia kemudian menyampaikan keluhannya di hadapan massa dan unsur pemerintah.
"Saya cuma butuh tindakan, bukan sekadar janji. Kami yang bekerja di dunia online, pekerjaan kami semuanya ada di aplikasi. Kalau lampu mati, saya tidak bisa jualan," ujarnya.
Menurut Yanti, pemadaman listrik di wilayah tempat tinggalnya, khususnya Tatah Amuntai, terjadi dengan durasi dan waktu yang tidak menentu. Dalam sehari, pemadaman disebut bisa terjadi hingga tiga kali.
Kondisi tersebut turut mengganggu jaringan internet yang digunakannya untuk melakukan siaran langsung atau live penjualan melalui aplikasi media sosial.
"Kalau hari ini mati satu hari penuh, saya tidak bisa kerja. Meski dipaksakan, jaringannya tetap tidak mau, ngelag-ngelag," katanya.
Yanti menyebut penghasilannya dari affiliate bisa mencapai sekitar Rp500 ribu per hari. Selain itu, dia memperoleh pendapatan dari gift challenge sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.
"Kalau mati lampu penghasilan hilang," tuturnya.
Tabungan Terus Tergerus
Yanti mengatakan kondisi pemadaman tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan. Pemadaman masih terjadi meski sebelumnya terdapat informasi bahwa kondisi kelistrikan akan kembali normal pada awal Agustus.
"Di tempat saya masih mati lampu sampai enam jam. Dari pukul 09.10, baru pukul 15.30 menyala," ungkapnya.
Untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Yanti mengaku terpaksa menggunakan tabungan yang sebelumnya disiapkan untuk kebutuhan darurat.
"Kalau mati lampu terus selama dua bulan, habislah tabungannya," ujarnya.
Yanti juga menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Suaminya tidak bekerja, sementara dia harus memenuhi kebutuhan dua anak, salah satunya masih bayi, serta membantu membiayai orang tuanya.
Selain listrik, Yanti mengeluhkan keterbatasan air bersih di tempat tinggalnya. Dia mengaku telah beberapa hari kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
"Badan saya berbau, saya tidak mandi karena tidak ada air," katanya.
Yanti berharap keluhan masyarakat tidak berhenti pada janji, tetapi ditindaklanjuti melalui perbaikan pelayanan.
"Saya cuma ingin suara rakyat didengar. Kami butuh tindakan, bukan sekadar janji," pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno