Jurus di Balik Tawa Anak TK, Begini Catatan Kritis Dewan Gewsima Menagih Kesejahteraan Garda Depan Pendidikan Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 12:52 WIB
HADIR: Saat Gewsima Mega Putra hadir di HUT ke-76 IGTKI-PGRI 2026 di Gedung Paris Barantai Kotabaru.
Foto: Gewsima untuk Radar Banjarmasin. 
HADIR: Saat Gewsima Mega Putra hadir di HUT ke-76 IGTKI-PGRI 2026 di Gedung Paris Barantai Kotabaru. Foto: Gewsima untuk Radar Banjarmasin. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Di balik keriuhan anak-anak yang belajar mengeja dan mewarnai, ada deretan pahlawan sunyi yang kerap terlupakan dari riuk pembangunan, yaitu guru Taman Kanak-Kanak (TK). 

Padahal, dari tangan dingin merekalah arah masa depan Kabupaten Kotabaru ditempa, bukan dari retorika manis para pejabat di mimbar mimbar seremonial.

Momentum Pelantikan Pengurus IGTKI-PGRI Kabupaten Kotabaru periode 2025–2030 yang dirangkaikan dengan HUT ke-76 IGTKI-PGRI Tahun 2026 ini kembali membuka tabir lama. 

Narasi pembangunan daerah kerap terkooptasi oleh proyek fisik, sembari mengesampingkan fondasi paling krusial, yakni sumber daya manusia sejak usia dini. 

Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kabupaten Kotabaru dari Fraksi PDI Perjuangan, Gewsima Mega Putra, Kamis (30/7) mencoba mendobrak pola pikir klasik tersebut dengan mengingatkan bahwa investasi terbaik sebuah daerah berada di ruang-ruang kelas TK, bukan sekadar di atas tumpukan semen dan beton.

Isu kesejahteraan dan ruang gerak guru TK memang kerap menjadi anak tiri dalam penganggaran daerah. 

Padahal, seiring bergulirnya wacana fondasi wajib belajar 13 tahun, beban moril dan tuntutan profesionalisme pendidik anak usia dini kian melesat tinggi, yang sayangnya kerap tak sebanding dengan insentif yang mereka terima di lapangan.

"Anak-anak yang hari ini belajar di taman kanak-kanak adalah calon pemimpin, tenaga profesional, pengusaha, dan penggerak pembangunan Kotabaru di masa depan. Karena itu, guru TK harus mendapatkan perhatian yang layak, baik dari sisi kompetensi maupun kesejahteraannya," tegasnya.

Gewsima menilai bahwa janji manis pembenahan pendidikan anak usia dini akan selalu menjadi angin lalu jika Pemerintah Kabupaten Kotabaru tidak berani mengeksekusi sinergi nyata bersama IGTKI-PGRI.

Dorongan untuk memperkuat sarana dan prasarana yang ramah anak, pelatihan kompetensi yang berkelanjutan, hingga kepastian fasilitas belajar yang layak sampai ke pelosok daerah harus diwujudkan dalam bentuk komitmen anggaran, bukan sekadar formalitas ucapan selamat.

“Saatnya kita bisa lebih memperhatikan profesi guru tanpa terkecuali, khususnya juga di Taman Kanak Kanak,”tutupnya mengakhiri.

Editor : Arif Subekti
anggot dprd kotabaru kesejahteraan guru PGRI peningkatan kualitas guru