RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI - Anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Salpia Riduan meminta pihak berwajib merazia SPBU di wilayah HST.
Hal ini menurutnya penting dilakukan agar distribusi BBM jenis Pertalite tepat sasaran dirasakan masyatakat kecil.
Salpia juga meminta pemilik SPBU adil, jangan hanya mengutamakan para pelangsir. Dengan begitu antrean panjang bisa diatasi.
"Selama pelangsir masih dilayani di SPBU, antrean panjang itu tidak akan hilang," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Politisi Gerindra itu juga mengungkap bahwa harga Pertalite yang dijual ke pelangsir tidak sama dengan harga yang dijual ke masyarakat biasa. Hal ini yang membuat pelangsir lebih diutamakan.
"Saya sendiri melihat antrean panjang sekali di SPBU. Pelangsir banyak, warga biasa juga ikut antre. Kasihan warga yang bekerja harus menunggu lama mengisi pertalite. Sedangkan harga Pertamax mahal sekali," cetusnya.
Secara aturan Salpia menjelaskan, menurut UU Nomor 22 tahun 2021 tentang minyak dan migas, SPBU tidak dibenarkn menjual BBM kepada pelangsir.
"Undang-undang dibuat itu untuk ditaati itulah falsafah hukum yang sering kita dengar," pungkasnya.
Sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite sudah dikeluhkan sejumlah warga di HST. Antrean panjang di sejumlah SPBU dan bahkan kerap kehabisan stok membuat warga makin geram.
Kondisi tersebut dinilai membuat masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM subsidi jenis Pertalite harus bersaing dengan untuk mendapatkan jatah pengisian.
Sedangkan harga Pertalite di eceran melambung hingga 13-15 ribu perliter. Padahal harga normal di SPBU masih 10 ribu per liter. Menurut warga kondisi ini menjadi anomali. Sebab kenaikan BBM hanya terjadi pada jenis Pertamax.
Riduan, warga Barabai, mengatakan antrean panjang sudah menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat di sejumlah SPBU HST. Khususnya kendaraan roda empat.
"Jujur saja, masyarakat biasa sekarang makin susah mendapatkan Pertalite. Antreannya panjang sekali dan sering kehabisan stok," ujarnya.
Editor : Sutrisno