RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU - Arus digitalisasi yang semakin masif membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak. Gawai, media sosial, dan internet kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda.
Namun di balik kemudahan teknologi, tersimpan ancaman serius yang mulai menjadi perhatian di Kabupaten Kotabaru.
Anggota DPRD Kotabaru Fraksi PDI Perjuangan, Gewsima Mega Putra, mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan gawai pada anak demi mencegah dampak buruk terhadap kesehatan mental dan perkembangan karakter.
Menurutnya, ketergantungan anak terhadap gawai saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
“Kita bisa melihat sendiri, ruang terbuka dan lapangan bermain semakin sepi. Waktu bermain di luar rumah berkurang drastis, interaksi sosial menurun, dan aktivitas fisik mulai tergantikan oleh layar gawai,” ujarnya, Jumat (22/5).
Politisi muda itu menilai penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi pola pikir, menurunkan konsentrasi belajar, hingga berdampak pada kesehatan mental anak.
Dampaknya mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari anak yang lebih mudah emosi, sulit fokus, kurang disiplin, hingga kesulitan membangun komunikasi secara langsung.
Tak hanya itu, dunia digital juga membuka akses luas terhadap berbagai konten yang belum layak dikonsumsi anak-anak.
Mulai dari paparan perilaku negatif, judi online, kekerasan digital, hingga konten dewasa yang kini semakin mudah dijangkau hanya melalui telepon genggam.
“Banyak orang tua menganggap gawai hanya alat komunikasi atau hiburan. Padahal sekarang gawai sudah menjadi ruang hidup kedua bagi anak. Di situlah karakter mereka ikut terbentuk,” katanya.
Meski demikian, Gewsima menegaskan solusi persoalan ini bukan dengan melarang teknologi secara total.
Menurutnya, anak-anak tetap harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tidak tertinggal.
Yang dibutuhkan saat ini adalah keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dengan penguatan karakter.
Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah.
Di lingkungan keluarga, orang tua diminta lebih disiplin membatasi durasi penggunaan gawai sekaligus mengawasi konten yang diakses anak.
Sementara di sekolah, pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga perlu diperkuat dengan literasi digital serta edukasi kesehatan mental.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga diminta lebih aktif menghadirkan program penguatan karakter serta menyediakan ruang publik yang ramah anak.
“Masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga bagaimana kita menjaga karakter, mental, dan kualitas generasi muda,” tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto