MARABAHAN – Warga Kecamatan Alalak, khususnya di Desa Semangat Dalam, kembali menyuarakan keluhan terkait penanganan banjir yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.
Warga meminta agar anak-anak sungai tidak hanya dibersihkan, tetapi juga dikeruk karena kondisinya sudah mengalami pendangkalan parah.
Hingga kini, genangan air masih merendam sejumlah jalan lingkungan dan kawasan perumahan. Kondisi tersebut dikhawatirkan mempercepat kerusakan jalan, baik yang sudah beraspal maupun jalan lingkungan yang kondisinya masih rusak.
Menurut Kepala Desa Semangat Dalam, Norman, belum lama tadi sejumlah anak sungai yang seharusnya menjadi prioritas pengerukan di antaranya Sungai Semangat, Sungai Gatah, Sungai Bagiwas, termasuk sungai yang membentang di sisi Jalan Trans Kalimantan Handil Bakti dengan muara di kawasan terminal.
Sungai-sungai tersebut kini dinilai sangat dangkal sehingga tidak lagi mampu menampung dan mengalirkan air secara optimal. Dengan dilakukan pengerukan, aliran air di sejumlah kawasan desa diharapkan kembali lancar serta mampu mengurangi genangan saat air pasang maupun hujan turun.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD Barito Kuala, Muhammad Agung Purnomo, menyatakan bahwa normalisasi sungai memang seharusnya dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas pembersihan.
"Iya, memang seharusnya dibersihkan, dikeruk, dan dikembalikan luasnya seperti semula,"ujarnya.
Namun demikian, Agung mengakui bahwa langkah pengerukan membutuhkan kebijakan dan keberanian dari pemerintah daerah. Pasalnya, upaya tersebut bersinggungan langsung dengan keberadaan bangunan warga di bantaran sungai.
"Ini tinggal kebijakan dan keberanian, karena sedikit banyak juga bersinggungan dengan warga yang berada di pinggir sungai. Banyak terjadi pelebaran rumah atau penambahan bangunan ke belakang yang justru memakan badan sungai," jelas Agung Ketua DPC PKS Batola, periode Tahun 2020-2025 ini.
Ia mencontohkan kondisi sungai di samping jembatan depan Perumahan Griya Permata.
Menurutnya, secara perhitungan ideal, lebar sungai seharusnya sebanding dengan lebar jembatan. Namun di lapangan, sungai tersebut telah disiring dan diuruk oleh warga, sehingga menyisakan lebar sekira satu meter saja.
Terkait metode penanganan yang saat ini lebih banyak menggunakan tenaga manual, Agung menilai pemerintah perlu merespons aspirasi warga secara lebih solutif dan strategis, terlebih kondisi saat ini masih dalam situasi darurat banjir.
"Pembersihan sungai saja belum cukup, karena masalah utamanya adalah pendangkalan. Genangan air ini berdampak langsung pada kerusakan jalan dan berpotensi menambah beban anggaran perbaikan ke depan," tegasnya.
Ia mendorong agar pengerukan anak-anak sungai dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dan dampak aliran air.
Sungai Semangat, Gatah, Bagiwas, serta sungai di sisi Jalan Trans Kalimantan Handil Bakti disebutnya perlu menjadi prioritas.
Selain itu, Agung juga menyoroti perlunya rekonstruksi sungai di kawasan perumahan, karena wilayah tersebut memiliki persoalan khusus dalam sistem drainase dan aliran air.
"Rekonstruksi sungai di dalam kompleks perumahan ini harus menjadi perhatian serius, karena di sanalah sering terjadi sumbatan dan genangan berkepanjangan," ujarnya.
Dalam waktu dekat, DPRD Barito Kuala bersama pihak terkait dijadwalkan akan menggelar rapat untuk membahas penanganan banjir secara lebih komprehensif.
"Termasuk langkah normalisasi sungai yang dinilai mendesak oleh warga," ungkapnya.
Editor: Arif Subekti
Editor : Arief