BANJARBARU – Ketidakpastian pelaksanaan Musda XI Partai Golkar Kabupaten Barito Kuala (Batola) dinilai sebagai sinyal serius yang tak boleh diabaikan. Situasi ini disebut menjadi alarm bagi soliditas internal Golkar di salah satu daerah basis kekuatannya.
Antropolog sekaligus dosen Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah menilai kondisi tersebut sebagai anomali dalam tradisi organisasi Golkar yang dikenal cepat menyelesaikan dinamika internal. “Segera tetapkan Ketua DPD yang baru. Lalu konsolidasi kader langsung berjalan,” ujar Nasrullah di Banjarbaru, Senin (22/12) sore.
Menurutnya, ketidakjelasan jadwal Musda membuka ruang spekulasi di kalangan kader. Termasuk dugaan persoalan serius dalam kaderisasi. Kondisi ini, kata Nasrullah, tak terlepas dari kegagalan Golkar mengusung kadernya sebagai kepala daerah pada Pilkada Barito Kuala 2024. “Kondisi ini menjadi alarm keras bagi terang atau redupnya eksistensi Golkar Batola ke depan,” tegasnya.
Nasrullah juga menilai ketidakpastian musda memicu kecenderungan sebagian elite melirik peluang politik di luar partai. Situasi ini dinilai berpotensi melemahkan konsolidasi dan memperpanjang konflik laten. “Hilangnya figur sentral pascawafatnya Hasanuddin Murad juga berdampak besar pada soliditas kader di tingkat lokal,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Nasrullah mendorong Ketua DPD Golkar Kalsel, Hasnuryadi Sulaiman untuk turun langsung ke Batola guna memastikan kaderisasi dan konsolidasi berjalan optimal. “Momentum ini seharusnya digunakan untuk menegakkan prinsip meritokrasi,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika musda terus berlarut-larut, turbulensi internal sulit dihindari dan dapat melemahkan posisi Golkar dalam peta politik lokal ke depan. “Kepemimpinan partai perlu diberikan kepada kader yang memiliki kemampuan, prestasi, dan kompetensi, bukan sekadar hasil kompromi elite,” sebut Nasrullah.
Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Barito Kuala (Batola), H Abdul Khair mengungkapkan hingga saat ini informasi yang diterima pihaknya masih sama seperti sebelumnya. “Belum ada titik terang terkait pelaksanaan Musda di Batola dari DPD Provinsi, khususnya mengenai penjadwalan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penundaan Musda sebelumnya disebut-sebut karena adanya agenda Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar di Jakarta. Namun, hingga kini belum ada kejelasan lanjutan. “Kemarin memang ada penundaan, salah satunya karena agenda Munas di Jakarta. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” jelas Khair.
Padahal, lanjutnya, DPD Partai Golkar Batola telah jauh hari membentuk tim panitia serta mengusulkan jadwal pelaksanaan musda. Pihaknya juga telah melakukan konsultasi dan menyampaikan secara resmi melalui surat-menyurat. “Sejauh ini yang kami dengar baru sebatas kabar angin. Kami pun tidak berani mengambil sikap karena ini organisasi. Kami memerlukan kejelasan secara organisasi, baik melalui instruksi resmi dalam bentuk surat maupun pemberitahuan lainnya,” harapnya.
Khair menambahkan, masa bakti kepengurusan DPD Partai Golkar Batola akan segera berakhir dalam waktu dekat. Karena itu, ia berharap ada kepastian dari DPD Provinsi. “Masa bakti ini berakhir pada bulan Desember. Kami berharap segera ada kejelasan dan kepastian,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief