BARABAI – DPRD Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menyoroti polemik bantuan sosial (bansos) yang memicu pertikaian antara warga dan aparat desa hingga menimbulkan korban.
Ketua Komisi I DPRD HST, Yajid Fahmi menyebut ada ketidaksinkronan data penerima bantuan antara data nasional dan kondisi faktual di desa.
Hampir seluruh kepala desa di HST mengeluhkan persoalan serupa.
“Ketidaksinkronan ini tidak boleh menjadi beban sosial bagi pemerintah desa,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Untuk menindaklanjuti masalah tersebut, DPRD memanggil sejumlah instansi terkait, termasuk Dinas PMD, Dinas Sosial, Perum Bulog Barabai, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, serta para kepala desa.
Hasil pertemuan menghasilkan dorongan agar dilakukan perbaikan data secara terintegrasi, memastikan kesesuaian antara data dan kondisi lapangan.
Salah satu solusi yang disorot adalah penganggaran stiker “Keluarga Miskin” yang akan dipasang di rumah penerima bantuan, demi transparansi dan meminimalkan kecemburuan sosial.
DPRD juga menegaskan pentingnya edukasi masyarakat soal strata kemiskinan, karena perbedaannya sangat tipis dan rawan menimbulkan salah paham.
Yajid turut menjelaskan adanya perubahan kebijakan nasional terkait data kemiskinan berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2015, termasuk integrasi data secara menyeluruh oleh pemerintah pusat.
Karena itu, usulan di daerah tidak dapat serta-merta diterapkan tanpa sinkronisasi kebijakan.
Saat ini, penyaluran bantuan sosial dan ketahanan pangan mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan basis SIKS-NG.
Sorotan DPRD menguat setelah insiden tragis menimpa aparat Desa Banua Budi, Muhammad Saleh (51), yang dianiaya warganya sendiri pada Rabu (26/11/2025).
Pelaku, Syahriadi Fami (36), marah karena tidak terdaftar sebagai penerima bantuan beras keluarga miskin.
Meski pemerintah desa memberikan satu karung beras sebagai kebijakan, ia menuntut dua karung seperti penerima resmi lainnya.
Tak puas, beberapa hari kemudian pelaku mendatangi rumah Saleh, dan melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban mengalami luka serius di kepala.
Editor : Eddy Hardiyanto