Nahdlatul Ulama (NU) sedang dilanda kisruh internal. Isu pemakzulan terhadap posisi KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus berlarut.
MARTAPURA – Kisruh yang terjadi ini pun mulai berimbas hingga ke daerah. Di Kabupaten Banjar yang menjadi basis para ulama, sejumlah tokoh NU ikut angkat suara. Namun, para pengurus Cabang NU (PCNU) Banjar memilih bersikap hati-hati.
Mereka menahan komentar keras dan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kepada struktur PBNU. Wakil Pimpinan Umum Pondok Pesantren Darussalam Martapura sekaligus Katib Syuriah PCNU Banjar, KH Muhammad Naufal Rosyad, menyayangkan kisruh internal ini.
“Saya prihatin dengan kondisi seperti ini. Tapi ulun (saya) yakin, Insya Allah PBNU bisa mengatasi semua itu. NU sudah terbiasa menghadapi situasi genting seperti saat ini. Semoga cepat selesai, amin,” ucapnya.
Menurutnya, PCNU Banjar memilih tidak berspekulasi atas polemik yang terjadi. “Kami dari pengurus cabang menunggu keputusan resmi saja. Insya Allah kami yakin itu adalah keputusan terbaik dari Rais Aam PBNU beserta jajarannya,” imbuhnya.
Ia menambahkan, bahwa setiap keputusan di PBNU tentu melalui pandangan para kiai sepuh, musyawarah mendalam, bahkan istikharah. “Keputusan itu tidak mungkin lahir tanpa pemikiran matang. Semoga membuahkan hasil terbaik,” tuturnya.
Sikap berbeda muncul dari Mukhtasar NU Kabupaten Banjar, M Zaini, melihat perlunya langkah penyelesaian segera agar warga NU tidak terus diliputi kebingungan. “Semoga Syuriyah dan Tanfidziyah bisa duduk bersama dalam forum islah, menata ulang, dan mempersiapkan Ukhtamar 2026 dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, jika islah tidak tercapai, maka opsi Muktamar Luar Biasa (MLB) sebaiknya mulai dipikirkan. “Umat NU, baik yang kultural maupun struktural saat ini sedang bingung melihat kisruh di PBNU,” katanya.
Di tingkat bawah, aktivitas warga NU di Banjar sejatinya tetap berjalan normal pengajian, halaqah, khidmah sosial, hingga kegiatan pesantren tidak terhenti. Namun, para tokoh mengakui keresahan sudah mulai terasa di sebagian jemaah, terutama saat menyimak silang pendapat di pusat melalui media sosial.
“Warga NU di daerah tetap istikamah. Kami hanya ingin prosesnya selesai dan tidak membuat umat semakin bingung,” tandasnya.
Sisi lain, suara penyejuk datang dari Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar, M Ali Syahbana. Ia menyerukan agar seluruh warga NU kembali pada Khittah 1926 sebagai pedoman merespons polemik yang terjadi.
“Kami memandang dinamika internal PBNU sebagai panggilan untuk kembali pada khittah 1926, yaitu tawassuth, i’tidal, dan tasamuh,” ujarnya.
Menurut Ali, NU adalah jam’iyyah yang lahir dari ulama pembaharu yang menjadikan ukhuwah dan tawadhu sebagai ruh perjuangan, bukan arena tarik-menarik kepentingan. “NU sejak awal bukan gelanggang konflik. Ini rumah besar yang dibangun dengan akhlak dan kearifan para kiai,” tegasnya.
Ali menyebut, meski gejolak terjadi di level struktur pusat, jemaah di Banua tetap fokus pada kegiatan pengajian, taklim, dan khidmah sosial. “Di akar rumput Banjar, jemaah tetap istikamah. Itu bukti bahwa esensi NU lebih agung daripada gejolak struktural manapun,” tekannya.
Sebagai salah satu cendekia dalam tubuh PCNU Banjar, ia menilai situasi yang terjadi justru momentum untuk memperteguh soliditas jam’iyyah melalui islah. “Islah itu lahir dari hati yang jernih, bukan dari keberpihakan. Ini saatnya saling merangkul, bukan saling menyudutkan,” jelasnya.
Dia mengingatkan, seluruh unsur NU agar berhati-hati menyikapi dinamika yang berkembang cepat, baik di media maupun ruang publik. “Mari kita tahan narasi yang memecah belah. Saling memaafkan. Fokus pada ta’lim mufid serta amar ma’ruf nahi mungkar dengan qaulan layyina,” ucapnya.
Menurutnya, ketenangan adalah ciri khas NU sejak masa para muassis. Karena itu, menjaga kesejukan di tengah turbulensi organisasi adalah bagian dari khidmah. “Insya Allah, dengan semangat tasamuh para kiai nusantara, NU akan terus menjadi penjaga ketenangan umat dan bangsa,” tutupnya.
Editor : Muhammad Rizky