Anggota Komisi II DPRD Banjarbaru Emi Lasari mendesak Pertamina mengambil langkah serius untuk mengatasi persoalan pasokan yang dinilai sudah meresahkan warga.
Emi mengungkapkan, ia menerima banyak laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan Pertamax, terutama di kawasan pusat kota hingga Landasan Ulin.
Kondisi itu bahkan juga dialaminya sendiri saat hendak mengisi BBM.
Baca Juga: Ricuh di DPRD Kalsel, Mahasiswa dan Aparat Saling Dorong Saat Negosiasi Dialog Menemui Jalan Buntu
"Sering habis. Dari kantor mau isi, di sepanjang jalur itu sudah beberapa kali tidak kebagian. Awalnya saya curiga, kok bisa sering kosong," ujarnya, Senin (24/11) petang.
Melihat kelangkaan yang terus berulang, Emi langsung berkoordinasi dengan Pertamina untuk meminta penjelasan.
Dari komunikasi awal, Pertamina menyebutkan bahwa lonjakan penggunaan Pertamax menjadi pemicu utama kekosongan stok.
Baca Juga: Cegah Kebakaran, Semua Pom Mini di Tanah Bumbu Wajib Lengkapi APAR
"Menurut Pertamina, ini terjadi karena ada peralihan besar-besaran dari pengguna Pertalite ke Pertamax akibat isu Pertalite oplosan yang ramai diberitakan," jelasnya.
Peningkatan konsumsi tersebut membuat permintaan Pertamax melonjak tajam. Pertamina bahkan dikabarkan telah menambah pasokan hingga 40 persen, namun distribusi di lapangan masih membutuhkan penyesuaian agar dapat memenuhi kebutuhan Banjarbaru.
"Saya baru komunikasi untuk wilayah Banjarbaru. Perkembangan di lapangan masih terus saya pantau," kata Emi.
Baca Juga: Blue Light Patrol Polres Banjarbaru Jaring Remaja Diduga Balap Liar di Titik Rawan
Namun, menurut Emi, langkah menambah suplai saja tidak cukup. Ia menilai Pertamina perlu memulihkan kepercayaan publik melalui penjelasan resmi terkait isu Pertalite oplosan agar masyarakat tidak panik.
"Pertamina harus hadir menjelaskan ke publik supaya keadaan tetap kondusif. Penjelasan resmi penting agar masyarakat tidak panik atau mengambil keputusan tergesa-gesa," tegasnya.
Ia juga menyarankan Pertamina membuka kanal pengaduan khusus jika terdapat dugaan kasus terkait kualitas Pertalite di lapangan.
Baca Juga: Viral Insiden MBG, BGN Tutup Dapur di Banjar, Banjarmasin, dan Banjarbaru
Transparansi dalam menangani keluhan publik dinilai krusial untuk mengembalikan kepercayaan konsumen terhadap produk BBM Pertamina.
Lebih jauh, Emi menyinggung kebijakan pemerintah yang sebelumnya telah membatasi pembelian Pertalite melalui pendaftaran di aplikasi MyPertamina dan pembatasan volume harian.
Kebijakan ini, menurutnya, seharusnya diikuti dengan perhitungan matang mengenai potensi peralihan konsumsi ke Pertamax.
"Ini harus dihitung dampaknya. Kalau ada penambahan pengguna Pertamax, harusnya sudah dikalkulasi dan dipastikan pasokan mencukupi," ujarnya.
Emi menegaskan bahwa perencanaan distribusi BBM harus lebih antisipatif, terutama mengingat Banjarbaru merupakan kawasan urban dengan tingkat mobilitas tinggi.
Kekosongan Pertamax yang berkepanjangan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan produktivitas masyarakat.
Baca Juga: Krisis Dokter Spesialis di Kotabaru! Ini Penyebabnya
Karena itu, Emi memastikan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan suplai Pertamax untuk wilayah Banjarbaru.
Ia berjanji akan mengawal isu ini hingga pasokan BBM kembali stabil dan masyarakat tidak lagi kesulitan mengakses bahan bakar yang dibutuhkan.
"Kami ingin memastikan stabilitas BBM di Banjarbaru dapat segera kembali normal. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," tandasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno