Gerakan LA2M ULM Banjarmasin Menjaga Demokrasi, Literasi Digital Jadi Benteng Terakhir di Tengah Banjir Disinformasi
Eddy Hardiyanto• Kamis, 6 November 2025 | 14:57 WIB
LITERASI DIGITAL: LA2M ULM Banjarmasin menggelar seminar di Mini Theater General Building ULM, Kamis (6/11/2025).
Bijak Bermedia, Kuatkan Suara Bangsa
Di era ketika satu jempol bisa mengguncang opini publik, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan. Tapi, benteng terakhir menjaga warasnya demokrasi.
M Fata Shiddiq Rinaldi, Banjarmasin
Semangat menjaga warasnya demokrasi inilah yang menggema dalam seminar bertajuk “Literasi Digital untuk Demokrasi yang Sehat: Mendorong Transparansi dan Memerangi Disinformasi di Era New Media” yang digelar Lembaga Advokasi dan Aksi Mahasiswa (LA2M) di Banjarmasin, Kamis (6/11/2025).
Acara ini menghadirkan tiga narasumber yang mewakili dunia praktis dan akademis: Novri Gitayanti (Humas Pemko Banjarmasin), Fahrianoor (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP ULM), dan Arini Husna Khuluqiki.
Ketiganya sepakat: di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah kebenaran adalah bentuk baru dari perjuangan demokrasi.
Menurut Novri Gitayanti, literasi digital adalah tameng utama menghadapi konten negatif dan hoaks yang merajalela di media sosial.
“Masyarakat harus cerdas, kritis, dan bijak. Literasi digital bukan sekadar tahu cara pakai media, tapi juga sadar dampaknya bagi bangsa,” ujarnya.
Ia menekankan, warganet sebaiknya tak hanya jadi penyebar informasi, tapi juga pencipta konten positif. “Bijak bermedia bukan pilihan, tapi tanggung jawab,” tambahnya.
Fahrianoor menyoroti realitas digital yang makin kompleks.
Berdasarkan datanya, 229 juta warga Indonesia kini telah terkoneksi internet pada 2025.
“Konektivitas tinggi tak menjamin kualitas informasi. Demokrasi bisa goyah kalau publik gagal membedakan fakta dan opini,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya kejelasan sumber informasi agar masyarakat tak mudah terjebak disinformasi dan polarisasi politik yang mengancam kohesi sosial.
Bagi Arini Husna Khuluqiki, literasi digital tak cukup berhenti di kemampuan teknis.
Etika menjadi pondasi utama.
“Empat pilar literasi digital — kecakapan, budaya, etika, dan keamanan digital — harus berjalan beriringan,” katanya.
Ia mengingatkan, ruang digital yang sehat hanya bisa tercipta bila pengguna sadar tanggung jawab moralnya.
Seminar ini tak hanya mengundang pakar, tetapi juga menggugah kesadaran mahasiswa.
Reza Amrullah (19), mahasiswa Administrasi Bisnis FISIP ULM, mengaku seminar ini membuka matanya tentang peran penting generasi muda dalam menjaga ruang digital.
“Korupsi informasi itu nyata. Salah satu caranya melawan adalah dengan berpikir kritis sebelum membagikan,” ujarnya.
Senada, Sariatun (19), mahasiswi Akuntansi FEB ULM sekaligus ketua pelaksana kegiatan berharap kesadaran literasi digital bisa tumbuh jadi gerakan kolektif.
“Kita harus belajar menahan diri untuk tidak asal klik ‘bagikan’. Saring dulu, baru sharing,” katanya.
Melalui kegiatan ini, LA2M ingin membangun kesadaran baru di kalangan generasi muda.
Menjaga demokrasi tidak cukup dengan turun ke jalan, tapi juga dengan menjaga akal sehat di ruang digital.
“Literasi digital adalah perlawanan baru terhadap kebohongan,” tutup salah satu panitia dengan semangat.