Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Keterlibatan Seniman Lokal Minim di TPAF 2025, Anggota DPRD Tanah Laut Hidayatul Azizah Ikut Mengkritik

Norsalim Yahya • Kamis, 6 November 2025 | 12:45 WIB
BERI MASUKAN: Anggota DPRD Tanah Laut Hidayatul Azizah ikut mengkritik penyelenggaraan TPAF 2025 karena lebih banyak menampilkan seniman dari luar daerah.
BERI MASUKAN: Anggota DPRD Tanah Laut Hidayatul Azizah ikut mengkritik penyelenggaraan TPAF 2025 karena lebih banyak menampilkan seniman dari luar daerah.

PELAIHARI - Anggota DPRD Kabupaten Tanah Laut, Hidayatul Azizah ikut menyoroti penyelenggaraan Tuntung Pandang Art Festival (TPAF) 2025 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tala yang dinilai kurang memberi ruang bagi seniman lokal.

Festival seni yang dijadwalkan berlangsung pada 7-8 November 2025 di Pantai Batakan Baru, Kecamatan Panyipatan ini justru lebih banyak melibatkan seniman dari luar daerah.

“Secara konsep memang bagus untuk menarik wisatawan dengan menghadirkan seniman-seniman dari luar. Namun, alangkah lebih baik jika komposisinya seimbang. Kita ingin mempromosikan Tala, termasuk para seniman lokalnya, bukan malah menjadikan seniman luar sebagai daya tarik utama,” tegas Hidayatul Azizah, Kamis (6/11/2025).

Politisi dari Partai Demokrat ini menilai dominasi seniman luar berpotensi menimbulkan rasa kecewa di kalangan pelaku seni lokal yang selama ini sudah berjuang memperkenalkan Bumi Tuntung Pandang hingga ke tingkat nasional.

“Banyak seniman kita yang sudah membawa nama daerah ke luar, tapi justru kurang diberdayakan di rumah sendiri. Ini bisa menjadi bumerang, dan dianggap bentuk pelecehan terhadap seniman lokal,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya memberikan panggung utama kepada seniman-seniman lokal dalam setiap kegiatan yang mengusung nama Tanah Laut.

“Kalau mau menonjolkan identitas daerah, tampilkan juga identitas lokalnya, termasuk senimannya. Akan sangat lucu ketika ingin mempromosikan Tala, tapi justru mengandalkan seniman luar,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, Hidayatul menyebut contoh Meranti Putih Performance Arts Fest di Kabupaten Kotabaru yang tetap memberi porsi 60 persen bagi seniman lokal.

Sedangkan pada pelaksanaan TPAF 2025 di Tala, ia menyebut komposisinya terbalik yakni 80 persen diisi seniman luar.

“Harapan kami, ke depan kegiatan serupa bisa lebih berpihak pada pelaku seni daerah. Karena yang kita jual adalah budaya, identitas, dan potensi Tanah Laut itu sendiri,” tegas anggota dewan dari Kecamatan Takisung ini. 

Sekadar diketahui, salah satu yang menyampaikan kritik adalah Muhammad Sam’ani, seniman madihin asal Kecamatan Panyipatan.

Ia mengapresiasi terselenggaranya festival tersebut, namun menyayangkan minimnya pelibatan seniman lokal.

“Padahal kalau diisi oleh kawan-kawan seniman daerah sendiri, insya Allah banyak yang berkompeten,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

Menurutnya, keterlibatan seniman lokal bukan hanya soal tampil di panggung, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antar pelaku seni di daerah.

“Itu juga bisa memperkuat rasa kebersamaan antar seniman di Tala,” tambahnya.

Meski demikian, Sam’ani tetap mengapresiasi upaya Disdikbud Tala melalui Bidang Pembinaan Kebudayaan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD) dalam penyelenggaraan TPAF 2025.

“Ulun berharap para pemuda Tala, khususnya peserta didik di sekolah-sekolah, bisa dilibatkan agar menambah wawasan mereka tentang seni dan budaya,” harapnya.

Sam’ani juga menyoroti masih banyaknya seniman dan kelompok seni di Tala yang belum mendapat ruang atau perhatian.

“Kita ini banyak loh seniman. Misalnya Teater Damulka di Desa Kandangan Baru, Panyipatan, itu hampir punah, tapi masih bertahan dan perlu diapresiasi. Dulu di Panyipatan juga banyak kelompok seni seperti madihin, kuda lumping, tari jaipong, sampai sinoman hadrah,” tuturnya.

Ia menambahkan, di Kecamatan Takisung juga terdapat banyak seniman berpengalaman, seperti Guru Syahrani AR, seniman madihin senior yang kerap tampil di Radio Tuntung Pandang FM, namun tidak dilibatkan dalam festival kali ini.

“Melihat TPAF ini, jujur ulun merasa menyayangkan kenapa hampir semua pemateri dari luar daerah. Apa Tala sudah tidak punya seniman lagi? Padahal di DKD sendiri banyak yang hebat, ada yang ahli aransemen, teater, dan tari. Mereka sebenarnya cukup untuk mengisi acara seperti ini,” ucapnya.

Selain soal representasi, Sam’ani juga menyinggung aspek efisiensi anggaran.

“Kalau membawa orang luar, tentu biayanya lebih besar. Padahal kalau dari dalam daerah, selain lebih hemat, juga lebih paham dengan budaya dan bahasa kita,” tegasnya.

Terpisah, Plt Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Tala, Maulidi Rahman menjelaskan bahwa TPAF 2025 memang dikonsep untuk membangun kolaborasi seniman se-Kalimantan Selatan, sekaligus memperkenalkan potensi wisata Pantai Batakan Baru kepada wisatawan luar daerah.

“Makanya kami membuka kesempatan bagi seniman luar daerah untuk berpartisipasi. Namun kami juga tidak menutup diri bagi seniman lokal yang ingin ikut serta, tentu sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada,” jelas Maulidi.

Ia menambahkan, dalam kegiatan tersebut juga turut berpartisipasi para siswa dari sekolah-sekolah yang berada di sekitar kawasan Pantai Batakan Baru.

Editor : Eddy Hardiyanto
#DPRD Tanah Laut #seniman lokal #TPAF 2025 Tanah Laut