AMUNTAI – Harga elpiji tiga kilogram (gas melon) di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), melonjak tajam hingga tembus Rp 50 ribu per tabung. Merespons kondisi itu, Komisi II DPRD HSU memanggil Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Senin (7/7) di ruang rapat DPRD HSU.
Rapat tersebut membahas penyebab mahalnya harga LPG subsidi dan meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
“RDP sudah kami gelar, dan kami mendengar penjelasan dari pihak eksekutif mengenai penyebab mahalnya harga elpiji 3 kg,” ujar Anggota Komisi II DPRD HSU H Teddy Suryana.
Ia menegaskan, Komisi II meminta pengawasan distribusi LPG dilakukan oleh tim khusus. “Kami ingin penyaluran LPG subsidi tepat sasaran dan tidak dinikmati oleh oknum yang mencari keuntungan pribadi,” tegasnya.
Hal senada disampaikan anggota Komisi II lainnya, Junaidi. Ia menekankan pentingnya kajian komprehensif terhadap regulasi gas subsidi. “Kami mendorong keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam pengawasan LPG di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Diskoperindag HSU Kamaruddin membenarkan pemanggilan dirinya oleh DPRD. Menurutnya, kelangkaan dan lonjakan harga elpiji disebabkan distribusi yang terganggu selama libur panjang Juni lalu.
“Stok terbatas dimanfaatkan pengecer untuk menjual di atas HET Rp 23 ribu. Akibatnya, harga di lapangan bisa mencapai Rp 40-50 ribu,” jelasnya.
Diskoperindag, lanjut Kamaruddin, juga sudah diminta membentuk tim terpadu bersama agen LPG. “Kami awasi pangkalan dua kali sebulan. Bila melanggar, izinnya bisa dicabut,” tegasnya.
Komisi II berharap, melalui RDP ini, ketersediaan LPG 3 kg di masyarakat bisa kembali stabil.
Editor: Ramli Arisno
Editor : Arief