RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Pemerintah Kota Banjarmasin akan mengkaji usulan penerapan work from home (WFH) bagi guru apabila kualitas udara akibat kabut asap dinilai berisiko. Aspirasi tersebut akan disampaikan kepada wali kota untuk menentukan kebijakan.
Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar mengatakan, guru meminta kebijakan khusus selama kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda.
“Salah satu harapannya adalah penerapan WFH apabila kondisi udara dinilai berisiko,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (1/10/2026).
Pernyataan tersebut masih berupa rencana pengkajian. Pemko Banjarmasin belum mengumumkan keputusan penerapan WFH bagi guru.
Usulan WFH Saat Kabut Asap
Menurut pejabat yang akrab disapa Tezar itu, aspirasi guru akan diteruskan kepada Wali Kota Banjarmasin sebagai bahan pertimbangan kebijakan.
Perhatian terhadap keselamatan warga sekolah juga mengemuka setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 tentang layanan pendidikan di daerah terdampak asap karhutla.
Keselamatan dan kesehatan peserta didik, pendidik, serta tenaga kependidikan menjadi salah satu pertimbangan dalam surat edaran tersebut.
Guru Meninggal, Penyebab Medis Belum Dikonfirmasi
Di tengah kondisi kabut asap, Lisna, guru honorer SD Tanjung Pagar 3, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) malam.
Informasi awal menyebut asmanya kambuh saat kabut asap melanda Banjarmasin. Namun, belum ada keterangan medis yang menyatakan kabut asap sebagai penyebab langsung kematiannya.
Tezar turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Lisna.
“Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan,” ujarnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno