RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Menyiapkan generasi emas tak harus dengan menambah jam belajar. Pemko Banjarmasin justru menyelipkan pemahaman soal kependudukan ke dalam pelajaran yang sudah ada melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Program ini mulai digeber dari jenjang SMP.
Program tersebut dicanangkan dalam rangkaian Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin di SMPN 2 Banjarmasin, Selasa (8/9/2026) pagi. Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda mengatakan SSK menjadi salah satu upaya menanamkan nilai-nilai kependudukan kepada siswa sejak dini. “Tujuan utamanya adalah mempersiapkan generasi emas,” ujar Ananda.
Menurutnya, SSK tidak dibuat sebagai kurikulum baru. Begitu pula tidak ada mata pelajaran maupun tambahan jam belajar. Materi kependudukan diintegrasikan dengan pelajaran yang sudah berjalan.
Misalnya, materi kesehatan reproduksi dapat diselipkan dalam pelajaran IPA. Sedangkan persoalan demografi dan angka kependudukan bisa dikaitkan dengan pelajaran IPS.
Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, Ahmad Syauqi menambahkan SSK merupakan bagian dari program Bangga Kencana dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Selain pembelajaran di kelas, sekolah didorong membuat kegiatan pendukung di luar kelas. Di antaranya melalui kegiatan ekstrakurikuler, pojok kependudukan hingga kelompok konseling remaja. “Sekolah diharapkan bisa mengemasnya secara kreatif sehingga menarik bagi seluruh siswa,” katanya.
Pendekatan teman sebaya juga menjadi bagian penting. Para siswa dibekali kemampuan komunikasi agar bisa mengedukasi teman-temannya mengenai berbagai persoalan remaja.
Mulai dari risiko pergaulan, penyalahgunaan narkoba hingga penggunaan media sosial (medsos) yang berpotensi memicu perundungan.
Di sekolah juga telah dibentuk Duta Generasi Remaja sebagai salah satu penggerak edukasi di kalangan siswa.
Saat ini sekitar 20 sekolah di Banjarmasin telah masuk program SSK. Tahun ini sekitar 10 sekolah digarap, melanjutkan pelaksanaan tahun sebelumnya.
Program tersebut dilakukan bertahap. Untuk tahap awal, Pemko fokus pada jenjang SMP karena SMA merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Targetnya, tahapan di SMP dapat dituntaskan dalam tiga tahun sebelum diperluas ke jenjang SD.
Syauqi mengatakan pendidikan kependudukan penting sebagai bekal siswa merencanakan masa depan. Tak hanya soal kesehatan reproduksi, tetapi juga menyangkut persoalan tenaga kerja dan berbagai tantangan kependudukan lainnya. “Sehingga mereka siap untuk menjadi generasi penerus,” pungkasnya.
Editor : Fauzan Ridhani