RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Kualitas udara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) membaik setelah sempat terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Siswa pun kembali mengikuti pembelajaran tatap muka mulai Rabu (2/9/2026), setelah dua hari belajar dari rumah.
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada Selasa (1/9/2026) pukul 19.00 WITA, indeks kualitas udara HSS turun menjadi 69 atau berada dalam kategori sedang.
Pada kategori tersebut, kualitas udara masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Sebelumnya, pemantauan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) HSS pada Selasa sekitar pukul 15.00 WITA menunjukkan ISPU berada di angka 113. Perkembangan kondisi udara itu menjadi dasar untuk kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Kepala Disdikbud HSS Ronaldy Prana Putra mengatakan, informasi mengenai kembalinya pembelajaran tatap muka telah disampaikan kepada seluruh satuan pendidikan.
"Sudah kita laksanakan pemantauan terakhir pada pukul 15.00 Wita sore ini, nilainya 113. Insyaallah untuk besok pembelajaran seperti biasa," ujar Ronaldy.
Sekolah Tetap Pantau Kabut Asap
Meski pembelajaran tatap muka kembali berjalan, sekolah tetap diminta memantau perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing. Kebijakan pembelajaran bersifat situasional karena tingkat kepekatan kabut asap tidak sama di setiap wilayah.
Ronaldy menyebut kawasan Kalumpang masih relatif lebih pekat. Sementara itu, Padang Batung dan Loksado berada dalam kondisi relatif aman.
"Apabila masih dipandang tidak mengganggu, dipersilakan untuk kawan-kawan melaksanakan pembelajaran secara tatap muka," jelasnya.
Kondisi udara juga dapat berubah dalam hitungan jam. Karena itu, kepala sekolah diberi kewenangan mengambil langkah penyesuaian jika kabut asap kembali menebal saat kegiatan belajar berlangsung.
"Misalnya pagi masih aman, kemudian sekitar jam 10 kabutnya cukup pekat, ini diperkenankan kepala sekolah untuk memulangkan muridnya. Tergantung situasi dan kondisi," ujarnya.
Menurut Ronaldy, surat edaran mengenai penyesuaian pembelajaran akibat dampak karhutla yang sebelumnya diterbitkan masih berlaku. Dengan demikian, kepala sekolah dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi lingkungan dan keselamatan peserta didik.
Kewaspadaan masih diperlukan karena pada Selasa terdapat sejumlah titik kebakaran lahan di HSS. Petugas pemadam kebakaran dan relawan masih melakukan penanganan di lapangan.
"Ini kebetulan hari ini ada beberapa titik kebakaran lahan. Kawan-kawan pemadam kebakaran dan relawan sedang ada di lapangan. Titiknya cukup banyak hari ini, mudah-mudahan dapat teratasi," katanya.
Siswa Diminta Tetap Bermasker
Disdikbud HSS mengimbau siswa tetap membawa masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga sekolah juga diminta memperbanyak minum air putih serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara kembali memburuk.
Selain menjaga kesehatan, sekolah diminta terus memberikan edukasi mengenai bahaya karhutla. Edukasi tersebut diharapkan meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan serta pentingnya menjaga lingkungan.
Sebelumnya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan selama dua hari, Senin (31/8/2026) dan Selasa (1/9/2026), menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla.
Dengan membaiknya kualitas udara, pembelajaran tatap muka kembali berjalan mulai Rabu. Namun, kebijakan tersebut tetap dapat disesuaikan sewaktu-waktu apabila kabut asap kembali menebal.
Ronaldy berharap kondisi angin pada malam hari membantu mengurangi kabut asap sehingga kualitas udara terus membaik dan kegiatan pendidikan di HSS dapat berjalan normal.
"Kalau terpaksa keluar rumah, gunakan masker, perbanyak minum air putih, dan hindari aktivitas di luar ruangan," pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno