RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Rentetan insiden fatal tanah longsor yang kerap mengancam keselamatan penambang intan tradisional di kawasan Cempaka mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Sebagai langkah mitigasi nyata, tim pengabdian kepada masyarakat menggelar sosialisasi dan edukasi pembacaan peta zona rawan longsor kepada komunitas penambang di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, belum lama ini.
Kegiatan strategis yang direalisasikan berkat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui skema Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) tahun 2026 ini, diinisiasi oleh tim akademisi dari Program Studi Teknik Pertambangan Universitas lambung Mangkurat yang diketuai oleh Pillayati ST MT. Turut serta dalam tim tersebut tiga anggota lainnya, yakni Ir Nurhakim ST MT IPM, ASEAN Eng Dr mont. Ir Hafidz Noor Fikri ST MT dan Satrio Ramadhan ST MT. Pendekatan yang ditawarkan berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat tambang dalam mengenali potensi bahaya di lokasi galian melalui interpretasi peta kemiringan lereng yang sebelumnya telah diakuisisi secara presisi menggunakan teknologi drone.
Dalam sesi sosialisasi di lapangan pada Sabtu (22/8/2026), materi edukasi teknis disampaikan secara interaktif oleh Nurhakim dan Hafidz Noor Fikri. Keduanya secara bergantian membimbing para penambang untuk memahami arti gradasi warna pada peta topografi dan peta kemiringan lereng lubang galian. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, mereka membedah cara mengidentifikasi "zona merah" yang sangat curam dan rawan runtuh, serta "zona hijau" yang dikategorikan aman untuk beraktivitas. Edukasi ini juga mencakup pengenalan tanda-tanda fisis awal sebelum tebing mengalami kelongsoran.
Untuk memastikan keberlanjutan pemahaman warga di lapangan, tim pengabdian membagikan buku saku (booklet) mitigasi bencana kepada para peserta sosialisasi. Booklet tersebut dirancang khusus sebagai panduan visual yang aplikatif bagi para penambang sehari-hari. Di dalamnya memuat kelengkapan informasi mulai dari peta kemiringan lereng, indikator tanda-tanda akan terjadinya longsor, hingga panduan tindakan gawat darurat jika insiden terjadi. Guna mempercepat penanganan saat kondisi darurat, buku saku ini juga mencantumkan daftar nomor kontak penting seperti Tim SAR, layanan Ambulans, BPBD Kota Banjarbaru, serta Polres Banjarbaru.
Tidak hanya membagikan panduan saku, tim juga memperluas jangkauan edukasi spasial dengan menempelkan cetakan peta kemiringan lereng berukuran besar di papan informasi Desa Pumpung, yang berlokasi strategis di depan kediaman Ketua RT setempat. Pemasangan peta publik ini bertujuan agar informasi zona rawan bencana dapat diakses kapan saja oleh warga, sekaligus menjadi pengingat visual sehari-hari sebelum para penambang berangkat menuju lokasi galian.
Ketua Tim Pengabdian, Pillayati menegaskan program ini merupakan bentuk tanggung jawab moral perguruan tinggi terhadap keselamatan masyarakat di lingkungan tambang rakyat.
"Kehadiran kami di sini bukan untuk mencampuri atau menghentikan mata pencaharian warga yang sudah turun-temurun, melainkan untuk membekali mereka dengan pengetahuan mitigasi bencana yang tepat. Kami berharap peta dan buku saku yang dibagikan hari ini tidak hanya menjadi dokumen akademis, tetapi benar-benar difungsikan sebagai 'kompas keselamatan' sehari-hari bagi para penambang," tegas Pillayati.
Inisiatif mitigasi komprehensif ini disambut antusias oleh warga dan tokoh masyarakat setempat. Mewakili komunitas penambang rakyat, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Trisakti Pumpung, Ruslan menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian dan aksi nyata dari tim akademisi tersebut.
"Kami mewakili masyarakat penambang Desa Pumpung sangat berterima kasih atas ilmu, pendampingan, serta fasilitas yang diberikan hari ini. Selama ini warga turun menambang hanya berdasarkan kebiasaan saja, tanpa tahu ukuran bahaya tebing galian secara pasti. Adanya edukasi, buku saku, dan peta besar di lingkungan desa kami ini sangat membuka wawasan warga agar lebih waspada dan selalu mengutamakan keselamatan saat mencari rezeki," ungkap Ruslan.
Melalui sinergi antara akademisi dan Pokdarwis Trisakti Pumpung ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif yang kuat di tengah masyarakat. Pengetahuan geospasial yang telah ditransfer diharapkan mampu menekan angka kecelakaan kerja, sehingga tragedi tanah longsor di kawasan tambang rakyat Cempaka tidak lagi terulang di masa depan.
Editor : Fauzan Ridhani