Bedah Buku Suara dari Tenggara, Bahas Indeks Literasi Tanah Bumbu hingga Tantangan Kecerdasan Buatan

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 14:41 WIB

BEDAH BUKU: Sainul Hermawan membedah buku Suara dari Tenggara dalam agenda Book Talk di Waroeng Aksi Merah Putih, Batulicin, Ahad (9/8). (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
BEDAH BUKU: Sainul Hermawan membedah buku Suara dari Tenggara dalam agenda Book Talk di Waroeng Aksi Merah Putih, Batulicin, Ahad (9/8). (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin – Rumah Pena menggelar bedah buku Suara dari Tenggara di Waroeng Aksi Merah Putih, Ahad (9/8). Buku tersebut dibedah Sainul Hermawan, dosen Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, dengan Puja Mandela sebagai moderator.

Buku ini memuat karya 47 penulis dari Kabupaten Tanah Bumbu dan sejumlah daerah di Kalimantan Selatan. Mengusung tema “Tentang Pikiran, Manusia, dan Catatan Zaman”, buku tersebut menghimpun 50 tulisan berupa esai dan opini yang mengangkat beragam isu, mulai dari literasi, pendidikan, budaya, jurnalisme, teknologi, hingga dinamika sosial masyarakat.

Sainul mengawali pembahasannya dari tulisan Asniyati, guru SMKN 2 Simpang Empat, berjudul “Menyentuh Hati, Menggerakkan Harapan”. Tulisan itu membahas Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat berdasarkan data Perpustakaan Nasional 2024 yang menempatkan Tanah Bumbu di urutan ke-11 dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

Menurut Sainul, angka tersebut perlu menjadi perhatian karena menunjukkan masih adanya persoalan literasi yang perlu dibenahi. Hal itu sekaligus menjadi pengingat bagi pegiat literasi di Tanah Bumbu untuk bersama-sama menjawab tantangan tersebut.

“Itu titik yang perlu diperjuangkan bersama,” katanya.

Untuk menjawab tantangan itu, menurutnya, membaca, menulis, dan bersuara merupakan bagian dari gerakan literasi yang perlu terus dibangun. Berbeda dengan politisi yang memahami bersuara hanya sebagai urusan lima tahun sekali, bagi dia, suara masyarakat harus hadir setiap hari melalui gagasan, tulisan, dan keberanian menyampaikan persoalan di sekitarnya.

“Supaya pikiran kita juga terus bergizi,” katanya.

Ia pun menyarankan komunitas di Tanah Bumbu bergerak langsung ke desa untuk menjaring tokoh-tokoh literasi setempat. Menurutnya, gerakan dari bawah penting agar potensi literasi tumbuh dari orang-orang yang memahami kebutuhan dan persoalan di lingkungannya sendiri.

Dengan cara itu, kata dia, gerakan literasi dapat berkembang menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaca persoalan, menyampaikan gagasan, dan mendorong perubahan yang berkelanjutan.

Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan sejumlah penulis muda tingkat SMP dan SMA dalam buku tersebut. Dalam bedah buku, mereka diberi kesempatan menjelaskan opini masing-masing. Sainul mengapresiasi para penulis muda yang dinilainya sudah banyak membaca buku.

Menurut Sainul, kebiasaan membaca buku semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan media sosial yang memungkinkan informasi diperoleh dengan cepat. Menurutnya, teknologi memang memudahkan pencarian informasi, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses membaca dan berpikir secara mandiri.

Pembacaan buku secara serius memberi ruang bagi seseorang untuk memahami gagasan secara utuh, mengikuti alur pemikiran, dan membangun kesimpulan sendiri. 

“Jangan apa-apa minta dibacakan oleh kecerdasan buatan,” katanya.

Pada Sabtu (8/8) malam, digelar pula peluncuran buku Suara dari Tenggara. Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif mengapresiasi lahirnya buku yang menghimpun gagasan dan pengalaman para penulis dari Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan tersebut.

"Semoga budaya membaca dan menulis terus tumbuh di masyarakat Tanah Bumbu," katanya.

Editor : Arif Subekti
pentingnya membaca Tanah Bumbu bedah buku batulicin