Tak Sendiri di Hari Pertama Sekolah, Satu-Satunya Siswa Baru SDN 10 Teluk Tiram Gabung MPLS di SD Tetangga

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 12:05 WIB
KONDISI SEKOLAH: SDN Teluk Dalam 10 salah satu sekolah yang minim pendaftar. Pada SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, hanya ada satu pendaftar.
KONDISI SEKOLAH: SDN Teluk Dalam 10 salah satu sekolah yang minim pendaftar. Pada SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, hanya ada satu pendaftar.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Di balik angka-angka statistik tentang sekolah yang kekurangan murid, ada kisah seorang anak yang memulai perjalanan pendidikannya dengan cara berbeda.

Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi pengalaman yang tak biasa bagi satu-satunya murid baru SD Negeri Teluk Dalam 10 Banjarmasin. Saat sekolah-sekolah lain dipenuhi wajah-wajah baru yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bersama teman sekelas, siswa kelas I di sekolah tersebut justru menjadi satu-satunya peserta didik baru yang diterima.

Namun, ia tidak dibiarkan menjalani hari pertamanya seorang diri.

Untuk memastikan proses adaptasi tetap berjalan baik, SDN Teluk Dalam 10 berkolaborasi dengan sekolah tetangganya, SDN Teluk Dalam 9, yang hanya dipisahkan oleh lokasi berdampingan. Selama pelaksanaan MPLS hingga kegiatan pembelajaran awal, satu-satunya murid baru itu bergabung bersama siswa kelas I SDN Teluk Dalam 9.

Di ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak seusianya, ia tetap bisa berkenalan, bermain, dan belajar layaknya peserta didik baru lainnya.

Plt Kepala SDN Teluk Dalam 10, Arif Rahman Hakim mengatakan langkah tersebut merupakan hasil koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin sebagai solusi atas kondisi sekolah yang hanya menerima satu murid baru. "Karena lokasinya berdampingan, kegiatan MPLS dan pembelajaran awal kami gabungkan. Tujuannya agar anak tidak merasa sendirian, bisa berinteraksi dengan teman-teman seusianya, dan lebih cepat beradaptasi," ujarnya.

Kolaborasi itu tidak hanya melibatkan peserta didik. Guru kelas I dari kedua sekolah juga bersama-sama mendampingi proses belajar mengajar, sehingga pelayanan pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Bagi pihak sekolah, jumlah peserta didik bukan alasan untuk mengurangi kualitas layanan. "Justru kami ingin memastikan dia tetap merasa nyaman, memiliki teman, dan bersemangat datang ke sekolah setiap hari. Jumlah murid bukan menjadi alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan pendidikan," tegas Arif.

Hingga kini, pihak sekolah masih menunggu arahan Dinas Pendidikan mengenai pola pembelajaran selanjutnya, apakah siswa tersebut akan terus belajar bersama SDN Teluk Dalam 9, atau kembali mengikuti pembelajaran secara mandiri di sekolah asalnya.

Fenomena SDN Teluk Dalam 10 menjadi potret paling nyata dari persoalan yang sedang dihadapi pendidikan dasar di Kota Banjarmasin. Di saat sebagian sekolah harus menyeleksi calon peserta didik karena jumlah pendaftar membeludak, sekolah lain justru berupaya memastikan satu-satunya murid baru tetap merasakan pengalaman belajar yang utuh.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sekolah kekurangan murid bukan sekadar soal statistik penerimaan peserta didik. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk tetap menjamin hak setiap anak memperoleh lingkungan belajar yang sehat, kesempatan bersosialisasi, dan layanan pendidikan yang berkualitas, berapa pun jumlah siswa yang diterima.

Dalam konteks itulah, kolaborasi antarsekolah menjadi salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan sebelum pemerintah mengambil kebijakan jangka panjang, seperti penataan ulang persebaran sekolah maupun regrouping yang kini mulai dikaji. Dengan demikian, setiap anak tetap memperoleh pengalaman belajar yang setara, sementara sekolah berupaya menjawab tantangan perubahan demografi yang sedang berlangsung di Kota Banjarmasin.(gmp/az/dye)

Editor : Arief
Sekolah mpls PPDB berita Banjarmasin