RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Proses pemilihan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) periode 2026–2030 memasuki babak penentuan. Tiga dari empat bakal calon resmi ditetapkan sebagai calon rektor, dan berhak melaju ke tahapan berikutnya.
Penetapan tersebut merupakan hasil pemungutan suara tertutup yang dilakukan Senat ULM dalam sidang yang digelar Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek), Rabu (22/7) petang.
Menariknya, proses pemungutan suara harus dilakukan sebanyak dua kali. Hal itu terjadi karena dua bakal calon memperoleh jumlah suara yang sama pada putaran pertama.
Pada pemungutan suara tahap pertama, Rektor ULM sekaligus petahana, Prof Ahmad Alim Bachri, meraih suara terbanyak dengan 40 suara dari 62 anggota Senat yang hadir. Posisi kedua ditempati Dr Iwan Aflanie dengan 20 suara. Sementara Prof Muthia Elma dan Dr Rusmansyah masing-masing memperoleh satu suara. "Karena ada dua bakal calon yang seri, untuk Prof Muthia dan Dr Rusmansyah dilakukan lagi pemilihan ulang," ujar Ketua Panitia Pilrek ULM, Prof Ifrani.
Rusmansyah Menang di Putaran Kedua
Pada pemungutan suara ulang, Dr Rusmansyah berhasil unggul dengan meraih 36 suara. Sementara Prof Muthia Elma memperoleh 18 suara. Satu suara dinyatakan tidak sah dalam pemungutan suara putaran kedua yang diikuti 55 anggota Senat ULM. Dengan hasil tersebut, Dr Rusmansyah menjadi kandidat ketiga yang lolos, menyusul Prof Ahmad Alim Bachri dan Dr Iwan Aflanie.
Menurut Ifrani, ketiga nama tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi sebagai bagian dari tahapan pemilihan rektor. "Setelah tahapan ini, tiga nama yang diperoleh akan diserahkan kepada kementerian," katanya.
Pemilihan Rektor Digelar 26 Agustus
Pemungutan suara untuk menentukan Rektor ULM dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026. Sebelum memasuki tahap pemilihan akhir, ketiga calon akan mengikuti proses wawancara yang dilakukan oleh pihak kementerian.
Dalam pemilihan nanti, kementerian memiliki porsi 35 persen suara, sedangkan 65 persen suara berasal dari anggota Senat ULM.
Harapan untuk Rektor Terpilih
Ketua Senat ULM, Prof Luthfi mengapresiasi proses penjaringan yang dinilai berhasil menghadirkan figur-figur terbaik dari internal kampus. Menurutnya, setiap kandidat memiliki gagasan dan keunggulan masing-masing, namun sama-sama berorientasi membawa ULM semakin maju. Ia berharap rektor terpilih nantinya mampu merealisasikan seluruh program yang telah dipaparkan. Namun, keberhasilan tersebut, katanya, tidak hanya bergantung pada rektor, melainkan memerlukan dukungan seluruh civitas akademika. "Program-program yang sudah disampaikan sangat baik. Tinggal bagaimana nanti dapat direalisasikan dengan dukungan seluruh civitas akademika," katanya.
Tukin Dosen Jadi Perhatian
Sebelumnya, keempat bakal calon telah memaparkan visi, misi, dan program kerja dalam forum yang digelar di Lecture Theater General Building ULM pada hari yang sama. Satu isu menjadi perhatian utama para kandidat yakni keberlanjutan tunjangan kinerja (tukin) dosen yang selama ini diterima para tenaga pengajar. Kekhawatiran muncul karena tukin dosen yang bersumber dari anggaran pemerintah pusat disebut berpotensi tidak lagi dialokasikan mulai 2027. Kondisi tersebut membuat para kandidat menawarkan berbagai strategi agar kesejahteraan dosen tetap terjaga tanpa sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah.
Muthia Dorong Kampus Mandiri Finansial
Calon nomor urut 01, Prof. Muthia Elma, menilai ULM harus mulai memperkuat kemandirian finansial. Menurutnya, universitas tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat untuk meningkatkan kesejahteraan dosen. Karena itu, berbagai potensi internal kampus harus dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru.
Ia menyoroti hasil riset dosen, laboratorium terpadu, hingga layanan konsultasi yang dapat dikembangkan menjadi sumber income generating.
"Kita tidak bisa memaksakan pemerintah menaikkan gaji. Yang bisa dilakukan adalah memberdayakan hasil penelitian kampus menjadi sumber pendapatan yang memberi manfaat bagi sivitas akademika," ujarnya.
Muthia juga menawarkan pembangunan sistem ULM One Data sebagai wadah integrasi berbagai aktivitas kerja sama, penelitian, publikasi, hingga inovasi dosen dan mahasiswa. Melalui sistem tersebut, dosen yang aktif menghasilkan karya maupun menjalin kerja sama dengan pihak luar dapat diberikan penghargaan dan insentif.
Iwan Tawarkan Remunerasi dan Penguatan Unit Usaha
Calon nomor urut 02, Dr Iwan Aflanie, mengakui tukin selama ini menjadi motivasi bagi dosen, terutama dosen muda. Namun, menurutnya, keberlanjutan tukin sangat bergantung pada kemampuan fiskal pemerintah karena bersumber dari APBN. Karena itu, ULM perlu menyiapkan sumber pendapatan alternatif melalui optimalisasi aset dan unit usaha kampus.
Beberapa sektor yang dapat dikembangkan, kata Iwan, antara lain rumah sakit pendidikan, perkebunan, jasa asesmen, hingga berbagai layanan profesional.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan sistem remunerasi karena ULM telah berstatus sebagai perguruan tinggi Badan Layanan Umum (BLU).
"Kalau pendapatan universitas meningkat, maka remunerasi bisa diterapkan dan kesejahteraan dosen dapat dipertahankan tanpa bergantung sepenuhnya pada tukin," katanya.
Ahmad Alim Bidik Pendapatan Rp200 Miliar
Calon nomor urut 03, Prof. Ahmad Alim Bachri menawarkan optimalisasi aset produktif sebagai strategi utama. Petahana Rektor ULM itu menilai peningkatan kesejahteraan dosen harus dimulai dengan memperkuat sumber pendapatan universitas. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pengembangan kawasan perkebunan seluas 1.000 hektare serta optimalisasi aset lain, termasuk kawasan peternakan yang sudah berjalan melalui kerja sama berbagai pihak.
Menurutnya, kebutuhan anggaran untuk menggantikan tukin diperkirakan mencapai sekitar Rp170 miliar per tahun. Karena itu, ULM perlu memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan minimal Rp200 miliar setiap tahun.
"Tukin merupakan kebijakan pemerintah pusat. Perguruan tinggi harus memiliki strategi apabila kebijakan tersebut berubah. Minimal kesejahteraan dosen tetap berada pada level yang sama," tegasnya.
Rusmansyah Soroti Transparansi Keuangan
Sementara calon nomor urut 04, Dr Rusmansyah menilai pembenahan tata kelola keuangan menjadi kunci menjaga kesejahteraan sivitas akademika.
Ia mendorong penerapan sistem e-budgeting yang dapat diakses secara terbuka agar seluruh civitas akademika mengetahui kondisi keuangan universitas.
Menurutnya, keterbukaan anggaran dapat menghilangkan persoalan ketika suatu program terkendala alasan keterbatasan dana. "Kenapa tidak e-budgeting kita buka? Orang akan tahu uang kita seberapa. Jangan sampai ketika ada program, selalu dijawab tidak ada dana. Padahal semua tidak tahu kondisi keuangannya," ujarnya.
Rusmansyah juga menilai pembahasan anggaran perlu melibatkan Senat Universitas dan fakultas secara lebih luas. Menurutnya, dana perguruan tinggi merupakan amanah yang harus dikelola secara transparan dan bertanggung jawab. "Kita harus transparan. Dengan e-budgeting, semua orang bisa melihat uang itu digunakan untuk apa. Karena uang itu bukan milik pribadi, melainkan amanah," pungkasnya.(van/az/dye)