RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Kota Banjarbaru resmi mengadopsi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk menekan angka perundungan dan memperkuat sistem pendidikan inklusif.
Kebijakan yang digagas Kementerian Agama (Kemenag) ini tak sekadar menyasar pencapaian nilai akademik, tetapi mengubah pendekatan mendidik berbasis empati, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak anak.
Langkah ini ditandai dengan penetapan seluruh Madrasah dan Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Banjarbaru sebagai ruang implementasi KBC, dengan MTs Ulumul Qur’an bertindak sebagai proyek percontohan (piloting project).
Melihat potensi dampaknya pada kesehatan mental dan karakter siswa, Pemerintah Kota Banjarbaru berencana memperluas jangkauan kurikulum ini hingga ke sekolah-sekolah umum non-madrasah.
Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dalam KBC sangat dibutuhkan di seluruh jenjang pendidikan. Pemkot telah menyiapkan langkah konkret untuk mengadopsi pola pembelajaran ini ke sekolah negeri melalui sinergi antar-instansi.
"Harapannya, kurikulum berbasis cinta ini tidak hanya berjalan di madrasah dan RA, tetapi juga diterapkan di sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya. Kami sudah berkomunikasi dengan Kemenag agar segera berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru," kata Lisa.
Menurut Lisa, kurikulum ini meletakkan panca cinta serta nasionalisme sebagai fondasi utama interaksi di sekolah. Siswa dibentuk untuk memahami keberagaman tanpa mengenyampingkan identitas kebangsaan dan nilai agama.
"Tanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. Namun yang paling utama, tanamkan rasa cinta kepada agama serta terapkan prinsip panca cinta dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Banjarbaru H Mukhlis Ridahni menjelaskan, KBC mewajibkan pendidik mengubah gaya mengajar dari instruktif menjadi partisipatif dan humanis.
Poin utamanya adalah menjamin lingkungan belajar bebas dari rasa takut dan diskriminasi, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Penerapan KBC ini mengacu pada praktik pendidikan inklusif yang telah berjalan di RA Ulumul Qur'an Al Madani. Model tersebut kini diekstensi ke tingkat menengah melalui MTs Ulumul Qur'an.
Kepala MTs Ulumul Qur'an Sativa Perdana menyatakan, status piloting project yang diemban sekolahnya berfokus pada perbaikan ekosistem belajar secara menyeluruh.
KBC diterapkan langsung pada metode interaksi guru-murid di dalam kelas hingga pembuatan regulasi sekolah yang ramah anak.
"KBC diimplementasikan pada seluruh ekosistem madrasah, mulai dari kultur belajar hingga pola komunikasi harian. Target kami, sekolah benar-benar menjadi ruang aman dan inklusif yang memanusiakan setiap anak," ujar Sativa.
Penerapan KBC di Banjarbaru diyakini menjadi modal penting dalam menggeser pola pendidikan konvensional menuju sistem yang lebih adaptif, berkeadilan, dan responsif terhadap kebutuhan emosional peserta didik.
Editor : Fauzan Ridhani