Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berebut Sisa Jatah PTN, Persaingan Masuk Kuliah di Kalsel Kian Ketat

Sheilla Farazela • Senin, 6 Juli 2026 | 13:02 WIB
Foto ilustrasi mencari kampus terbaik. (Foto: Gemini/Google)
Foto ilustrasi mencari kampus terbaik. (Foto: Gemini/Google)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Persaingan kampus di Kalsel kian ketat, tak sedikit calon mahasiswa tak tertampung di ULM dengan kursi terbatas. Sementara perguruan tinggi swasta terus berbenah dan tampil makin kompetitif sebagai pilihan alternatif.

           ***

BANJARMASIN – Tiap tahun, ribuan lulusan siswa SMA, SMK, dan sederajat bersaing melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, tidak seluruh lulusan berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN), karena ketatnya persaingan dan keterbatasan daya tampung.

Di tengah kondisi tersebut, perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi alternatif penting dalam membuka akses pendidikan tinggi. Tercatat sekitar 70 PTS tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalsel, masing-masing menawarkan keunggulan, mulai dari program studi yang beragam, biaya pendidikan yang terjangkau, hingga peluang beasiswa dan kedekatan dengan kebutuhan dunia kerja.

Kampus terbesar di Kalsel Universitas Lambung Mangkurat (ULM), tahun ini menyediakan total 7.001 kursi mahasiswa baru. Penerimaannya melalui tiga jalur. Pertama Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan jalur mandiri (saat ini masih berlangsung).

Jalur SNBP menyediakan 1.924 kursi. Dari jumlah itu, 1.904 peserta dinyatakan lulus. Sementara di jalur SNBT, ULM memperoleh tambahan kuota dari 3.291 kursi menjadi 3.405 kursi. Dari itu, sebanyak 3.282 peserta dinyatakan lulus.

Di jalur mandiri, ULM menyediakan 2.270 kursi dari total 1.786 daya tampung awal setelah dilakukan penyesuaian kuota. Seleksi jalur ini masih berlangsung sehingga data kelulusan maupun daftar ulang belum diumumkan.

Wakil Rektor I ULM, Iwan Aflanie mengungkap, sebanyak 11.909 peserta mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) 2026 tadi. Jika mengacu jumlah tersebut, tentu masih sangat banyak calon mahasiswa yang tak tertampung di ULM. "Daya tampung SNBT tahun ini hanya 3.405 kursi,” terang Iwan.

Tingginya minat masyarakat terhadap ULM bukan tanpa alasan. Selain memiliki keunggulan dari sisi akreditasi, fasilitasnya pun menjadi pilihan dasar. “Termasuk sumber daya dosen yang belum bisa disaingi perguruan tinggi swasta (PTS) di Kalsel,” terang Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI Kalimantan, Muhammad Akbar.

Meski demikian, seiring perkembangan kampus swasta sekarang tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Banyak PTS yang terus bertransformasi. Tak hanya fasilitas, termasuk tenaga pengajarnya.

Akbar menyebut, kualitas PTS di Kalsel terus mengalami peningkatan. Saat ini terdapat 45 PTS aktif di luar naungan Kemenkes maupun Kemenag. Terdiri atas sembilan universitas, dua institut, 18 sekolah tinggi, sembilan politeknik, enam akademi dan satu akademi komunitas.

Menurutnya, melalui pembinaan yang dilakukan LLDIKTI, sejumlah program studi di PTS kini telah berhasil meraih akreditasi Unggul maupun Baik Sekali sehingga kualitasnya semakin kompetitif.

Ia mengakui, PTS masih lebih banyak menjadi pilihan kedua bagi calon mahasiswa. Umumnya, mahasiswa yang tidak lolos seleksi di PTN baru beralih ke PTS. “Masih sangat jarang lulusan SMA langsung memilih PTS tanpa mencoba seleksi di PTN terlebih dahulu,” katanya.

Sisi lain, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak selamanya harus membidik status negeri. Bagi sebagian lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sudah mencicipi dunia kerja, fleksibilitas dan kepraktisan aturan kampus jauh lebih utama.

Sudut pandang realistis inilah yang diambil oleh Augi Naldy, alumni SMKN di Banjarbaru. Meski saat ini memilih fokus bekerja demi mengejar kemandirian finansial dan pengalaman lapangan, ia menegaskan niatnya untuk kuliah tetap ada. Namun, ia sudah memantapkan hati ia hanya akan melirik perguruan tinggi swasta (PTS).

Alasan di balik keputusan tersebut terbilang sangat pragmatis. Menurutnya, sistem di kampus swasta jauh lebih ramah dan bebas bagi mahasiswa yang memiliki kesibukan ganda sebagai pekerja. “Setidaknya kalau kuliah di swasta, masih bisa ambil waktu di jadwal akhir pekan atau di jam malam misalnya. Sebab tidak mengganggu jam bekerja, tuturnya.

Selain itu menurutnya, ia tak perlu berebutan dengan ribuan  pendaftaran seperti yang terjadi di kampus-kampus negeri lainnya. Pilihan jatuh ke kampus swasta karena adanya program reguler yang menyediakan jam kuliah akomodatif, seperti kelas karyawan atau kelas malam.

Hal ini dirasa sangat cocok dengan road map masa depan yang sudah ia susun rapi di pikirannya. Melalui jalur PTS, Augi optimistis tetap bisa membangun batu loncatan kariernya tanpa harus mengorbankan produktivitasnya di dunia kerja.

Kampus di Kalsel
Kampus di Kalsel

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Indepth #kalimantan selatan #Kampus #Pendidikan #mahasiswa