Pembinaan tersebut merupakan agenda lanjutan YABN setelah sehari sebelumnya, Selasa (30/6/2026), para dosen mentor mengikuti pelatihan mentoring. Pada hari kedua, giliran mahasiswa mendapatkan pembekalan sebagai persiapan memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Sebanyak 289 mahasiswa mengikuti kegiatan yang terbagi ke dalam empat kelas. Dua kelas dilaksanakan di ULM Banjarmasin, sedangkan dua kelas lainnya berlangsung di ULM Banjarbaru. Selain mahasiswa dari Kalimantan Selatan, peserta juga berasal dari Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah.
Staf Bidang Pendidikan YABN, Ahmad Ridhani, mengatakan pembinaan Career Readiness dirancang untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja melalui berbagai tahapan pembelajaran yang bersifat praktis.
"Pembinaan diawali dengan proses mereview CV masing-masing mahasiswa. Mahasiswa diberikan kesempatan mempresentasikan isi CV mereka, kemudian direview bersama-sama. Dari hasil review tersebut juga dilakukan identifikasi tantangan yang akan mereka hadapi di dunia kerja. Hari ini mereka didampingi langsung oleh dosen-dosen mentor yang telah mengikuti workshop sehari sebelumnya. Harapannya, mahasiswa dapat mempersiapkan diri lebih dini menjelang kelulusan sebelum nantinya terjun ke dunia kerja," ujar Ridhani.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mempelajari penyusunan portofolio sebagai salah satu tahapan awal dalam proses melamar pekerjaan. Salah satu materi utama yang diberikan adalah teknik menyusun curriculum vitae (CV) agar mampu menampilkan kompetensi dan pengalaman secara efektif kepada perekrut.
Fasilitator Dunamis Organization Service, Teddi Prasetya Yuliawan, mengatakan CV tidak hanya berfungsi sebagai daftar riwayat hidup, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan keunggulan pelamar sesuai kebutuhan perusahaan.
"Kadang-kadang orang menganggap CV hanya sebagai daftar riwayat hidup. Padahal yang paling penting adalah memahami pekerjaan yang akan dilamar dan apa yang ingin dilihat oleh perekrut. CV tidak bisa disamakan untuk semua perusahaan, tetapi harus disesuaikan dengan instansi yang dituju," kata Teddi.
Selain itu, mahasiswa juga diajarkan menyusun CV yang sederhana, namun mampu menampilkan informasi penting secara ringkas.
"Desain bisa dibuat bermacam-macam, tetapi yang paling penting adalah memiliki satu halaman utama yang memuat seluruh informasi penting. Perekrut biasanya hanya memiliki waktu sekitar enam detik untuk melihat sebuah CV, sehingga informasi utama harus mudah ditemukan," ujarnya.
Selain pembelajaran teknis penyusunan CV, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengenalan diri, proses mencari pekerjaan, serta pemahaman mengenai konsep bekerja sebagai pekerjaan (job), membangun jenjang karier (career), maupun panggilan hidup (calling).
Melalui pembinaan tersebut, YABN berharap mahasiswa penerima beasiswa IBFL memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi persaingan di dunia kerja setelah lulus.
Editor : Fauzan Ridhani