RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Sebanyak 37 guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tingkat SMP di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mendapat pembekalan mengenai sejarah pejuang lokal daerah. Kegiatan tersebut turut diikuti tiga budayawan HSS.
Pembekalan diberikan melalui Seminar Sejarah yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSS di Aula Hotel Qianna Inn Kandangan, Kamis (11/6/2026).
Dalam seminar tersebut, peserta memperoleh materi mengenai dua tokoh bersejarah HSS, yakni Tumenggung Antaludin dan Datu Durabu. Materi disampaikan langsung oleh zuriat kedua tokoh, yaitu Fachrudin selaku zuriat Tumenggung Antaludin dan Muhammad Iqbal Albaqir selaku zuriat Datu Durabu.
Tumenggung Antaludin dikenal sebagai salah satu panglima perang terkemuka dalam Perang Banjar. Namanya erat kaitannya dengan pembangunan Benteng Madang yang menjadi basis pertahanan penting bagi pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Sementara itu, Datu Durabu atau Kiai Durabu merupakan tokoh ulama yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Hulu Sungai Selatan. Selain dikenal sebagai penyebar Islam, Kiai Durabu juga tercatat pernah memimpin Distrik Amandit selama kurang lebih 30 tahun.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSS, Ronaldy Prana Putra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan dan ketokohan lokal kepada generasi muda melalui para pendidik.
"Harapannya melalui pengenalan tokoh pejuang ini, para guru IPS dapat menyampaikan dan mengenalkannya kembali kepada para siswa sebagai generasi penerus," ujarnya.
Salah seorang peserta, Mahrita, guru IPS SMPN 1 Kandangan, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, materi sejarah lokal sangat penting untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap identitas dan sejarah daerahnya sendiri.
Ia berharap pengenalan sejarah lokal tidak berhenti pada kegiatan seminar semata, melainkan dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan pendidikan yang memberikan ruang lebih luas bagi pembelajaran sejarah daerah di sekolah.
"Harapannya nanti ada kebijakan untuk memasukkan jam pelajaran khusus muatan lokal yang membahas materi kesejarahan daerah, sehingga siswa maupun guru dapat mempelajarinya lebih mendalam," katanya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pengetahuan mengenai tokoh-tokoh bersejarah HSS tidak hanya terdokumentasi sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya menjaga identitas, nilai perjuangan, dan kearifan lokal daerah.
Editor : Arif Subekti