RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,
AMUNTAI - Sorotan terhadap dugaan kolonialisme modern di Papua menggema dalam nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar Pimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Hulu Sungai Utara (HSU), Kamis (21/5/2026) malam.
Melalui forum tersebut, para pemuda diajak membuka kesadaran kritis terhadap eksploitasi sumber daya alam dan nasib masyarakat adat di Papua.
Kegiatan berlangsung di halaman SMP Muhammadiyah Sungai Pandan itu diikuti kader IMM bersama masyarakat umum. Film dokumenter yang diputar mengangkat persoalan eksploitasi sumber daya alam serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat adat Papua.
Suasana diskusi berlangsung dinamis setelah pemutaran film selesai. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan kritis terkait ketidakadilan sosial, peran negara, hingga dampak industri ekstraktif terhadap masyarakat lokal.
Ketua Umum IMM HSU, Rusmawardi, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar bersama untuk membangun kesadaran kritis generasi muda terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.
Menurut dia, film Pesta Babi memperlihatkan bahwa kolonialisme tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi juga melalui eksploitasi sumber daya alam dan ketidakadilan terhadap masyarakat adat.
“Pemuda harus peka terhadap persoalan seperti ini dan berani membuka ruang diskusi agar kesadaran sosial terus tumbuh,” ujarnya Jumat (22/5).
Rusmawardi menegaskan, IMM sebagai organisasi gerakan intelektual memiliki tanggung jawab menghadirkan forum-forum yang mampu mendorong kader berpikir kritis, humanis, dan berpihak kepada masyarakat.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai wadah memperluas perspektif kader sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan bangsa dan kemanusiaan.
Kegiatan nobar dan diskusi ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi sekaligus simbol semangat kolektif menghadirkan ruang intelektual di kalangan pemuda.
Editor : Arif Subekti