RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI - Di tengah kontroversi dan penolakan terhadap film dokumenter Pesta Babi, siswa-siswi SMAN 1 Barabai justru memilih melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Para pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik sekolah tersebut menggelar nonton bareng (nobar) film itu bersama guru dan siswa lain, kemudian melanjutkannya dengan diskusi terbuka mengenai isi dan pesan yang mereka tangkap dari film tersebut.
Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik SMAN 1 Barabai, Ahmad Fahruzi mengatakan kegiatan nobar telah dilaksanakan pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional.
Menurutnya, film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk melatih kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis.
“Film ini sangat baik ditonton untuk mengasah kepekaan dan argumentasi siswa terhadap realitas sosial yang sering kali tersembunyi di balik layar,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Tak hanya itu, para siswa juga diajak memahami isu lingkungan, meningkatkan literasi, serta mengaitkan persoalan dalam film dengan kondisi sosial dan lingkungan di Kalimantan Selatan.
Usai menonton, siswa diberi ruang menyampaikan pendapat dan berdiskusi secara terbuka. Menurut Fahruzi, cara itu penting untuk membiasakan siswa menerima perbedaan pandangan dengan sikap santun dan argumentasi logis.
“Akhirnya siswa terbiasa berdiskusi dan menerima perbedaan setiap isi kepala orang, berlatih membedah pesan, dan menyusun argumen yang logis namun tetap santun,” katanya.
Ia menambahkan, melalui film tersebut siswa juga belajar mengenai etika lingkungan dan hubungan manusia dengan alam serta tradisi yang harus dijaga.
Fahruzi memastikan hingga saat ini kegiatan nobar tersebut tidak menimbulkan intimidasi maupun tekanan terhadap pihak sekolah.
Salah seorang siswi kelas X, Keyra Aurelya Ardiansyah menilai film itu membuka wawasan mengenai kondisi masyarakat Papua yang selama ini jarang diketahui publik.
“Dalam film itu masyarakat Papua kehilangan banyak hak mereka. Mereka kehilangan akses pendidikan, kehidupan dan juga alam,” ujarnya.
Menurut Keyra, film tersebut membuat dirinya memahami bahwa persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) tidak hanya berkaitan dengan alam, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan sekitar.
Sementara itu, siswi lainnya, Risty Myiesha Humaira mengaku terkejut melihat kondisi Papua yang digambarkan dalam film dokumenter tersebut.
Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa kebijakan pembangunan harus tetap memperhatikan kepentingan warga lokal dan kondisi lingkungan.
“Banyak warga mengungsi, krisis air, serta pengurangan lahan tertutup dikarenakan ada proyek bio etanol. Dari sini kita belajar, bahwa membuat kebijakan harus berpihak pada masyarakat setempat,” tandasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto