Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Potret Buram Pendidikan Meratus, Siswi Usia 20 Tahun Masih Berjuang di Kelas 6 SD

M Dirga • Sabtu, 18 April 2026 | 05:49 WIB
sdhfh
MENEMBUS PELOSOK:Tim relawan Ekspedisi Gerakan Buku Meratus (GBM) II saat menempuh jalur perbukitan menuju Dusun Ambatunin. (Foto:Wawan untuk Radar Banjarmasin)
 
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Hanya perlu waktu tiga jam berkendara dari pusat kota Paringin untuk sampai ke jalan hauling milik PT Jhonlin Group.
 
Namun, dari titik itu, kemewahan industri tambang seolah terputus. Untuk mencapai Dusun Ambatunin di lereng Meratus, satu-satunya cara adalah berjalan kaki mendaki perbukitan selama lebih dari dua jam.
 
Inilah realitas yang ditemui tim Ekspedisi Gerakan Buku Meratus (GBM) II saat menyambangi Sekolah Dasar Kecil (SDK) Ambatunin, akhir pekan tadi.
 
Baca Juga: Buka Amuntai Expo, Bupati Kunjungi Stand SKPD, Disdukcapil Buka Layanan Adminduk
 
Dusun ini seperti wilayah yang terjebak dalam lorong waktu. Tanpa sinyal seluler, tanpa internet, dan hanya mengandalkan lampu tenaga surya saat malam tiba.
 
Kondisi sekolah pun sangat sederhana. Terdiri dari dua ruang kelas dan satu kantor yang bangunannya terpisah-pisah, di sinilah 13 siswa dari berbagai usia menggantungkan harapan mereka. 
 
Potret ketertinggalan pendidikan di dusun ini terpampang nyata pada sosok Lana. Di usianya yang sudah 20 tahun, ia tetap bersemangat duduk di bangku kelas 6 SD bersama temannya yang berusia 17 tahun.
 
Baca Juga: PLN Dorong Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lewat Program Clean Energy Day
 
Bukan tanpa alasan Lana baru menuntaskan pendidikan dasar di usia dewasa. Fasilitas pendidikan baru menyapa kampungnya beberapa tahun silam.
 
SDK Ambatunin sendiri baru berdiri di dusun tersebut sekitar enam tahun lalu. Sebelum bangunan itu ada, akses pendidikan bagi warga setempat praktis tidak tersedia karena jarak yang sangat jauh dari pemukiman.
 
"Saya tetap ingin lulus sekolah. Nanti rencananya lanjut ke jenjang paket, sampai ke perguruan tinggi kalau bisa," tutur perempuan itu.
 
Baca Juga: Ada Dugaan Pungutan di PMB MAN 2 Model Banjarmasin, Kanwil Kemenag Kalsel Konfirmasi Langsung ke Pihak Madrasah  
 
Dedikasi di Ambatunin juga diuji lewat para pengajarnya. Kepala SDK Ambatunin, Lelu Dinata menceritakan beratnya mengabdi di wilayah tanpa akses komunikasi.
 
Sekali janji terucap untuk masuk dan mengajar, maka tidak ada kata batal karena pesan singkat tidak akan sampai ke sana. Baginya, medan berat yang dilalui adalah pemantik motivasi untuk mencerdaskan generasi penerus di pedalaman.
 
"Karena tidak ada akses komunikasi, jika kita sudah berjanji dengan para siswa akan masuk dan mengajar, maka apa pun kondisinya harus tiba di lokasi," tegas Lelu. 
 
Baca Juga: Derbi Kalimantan Di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Barito Putera Incar Puncak Klasemen, Persiba Berjuang Keluar Zona Merah
 
Misi ekspedisi yang diprakarsai Forum Gerakan Buku Meratus (GBM) ini melibatkan relawan dari Universitas Sapta Mandiri serta mahasiswa dari BEM KM Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dan BEM Universitas Ahmad Yani Banjarmasin.
 
Relawan GBM, Wawan Setiawan menjelaskan, ekspedisi jilid kedua ini merupakan bentuk konsistensi mereka dalam mengawal isu literasi di kawasan pelosok.
 
Pihaknya sengaja kembali masuk ke wilayah Meratus untuk memastikan bahwa anak-anak di dusun terpencil tetap mendapatkan perhatian dan dukungan moril untuk terus bersekolah.
 
Baca Juga: Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
 
"Ini adalah ekspedisi lanjutan dari gerakan kami untuk memperluas akses literasi bagi anak-anak di kaki Meratus. Kami tidak ingin mereka merasa sendirian dalam berjuang menuntut ilmu. Selain membawa donasi buku dan perlengkapan sekolah, misi utama kami adalah memantik semangat mereka bahwa pendidikan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik, sejauh apa pun lokasi sekolahnya," ujar Wawan.
 
Selain membagikan perlengkapan sekolah, relawan mahasiswa juga memberikan layanan cek kesehatan gratis berupa pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah bagi warga dusun. Aktivitas ini menjadi bantuan berharga mengingat dusun ini juga cukup jauh dari akses fasilitas medis.
Editor : Fauzan Ridhani
#industri tambang #PT Jhonlin Group #Meratus #Jalan Hauling #Balangan