Tantangan Pendidikan Banjarbaru: Banyak Anak Tidak Sekolah, Guru Pensiun Lebih Banyak daripada yang Direkrut

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 13:52 WIB
WAWANCARA: Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Abdul Basid saat diwawancarai. 
(SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 
WAWANCARA: Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Abdul Basid saat diwawancarai.  (SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru terus mengoptimalkan sejumlah program strategis guna meningkatkan kualitas pendidikan. Di tengah berbagai capaian, masih terdapat tantangan serius seperti anak tidak sekolah (ATS) dan keterbatasan tenaga pendidikan. 

Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Abdul Basid, mengatakan pihaknya telah menjalankan berbagai program secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan akses hingga kualitas pembelajaran.

“Kami melaksanakan berbagai program, seperti bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa kurang mampu, rehabilitasi dan pembangunan sarana prasarana, serta peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan literasi dan numerasi,” ujarnya, Kamis (16/4).

Selain itu, Disdik juga mendorong pembelajaran berbasis teknologi melalui pemanfaatan media digital di sekolah. Pengembangan keterampilan siswa turut diperkuat lewat kegiatan minat dan bakat, seperti olahraga dan sains.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih adanya anak tidak sekolah yang berdampak pada rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah di Banjarbaru.

Selain itu, ketersediaan tenaga pendidik juga menjadi persoalan. Saat ini, jumlah guru yang memasuki masa pensiun dinilai lebih besar dibandingkan rekrutmen guru baru.

“Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap pemerataan dan keberlanjutan layanan pendidikan, sehingga perlu penataan dan distribusi guru yang lebih optimal,” tandasnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
Anak kalimantan selatan banjarbaru disdik Guru