MARTAPURA - Pagi di Paramasan belum sepenuhnya terang ketika ruang Laboratorium Komputer SMPN 1 Paramasan mulai terisi.
Satu per satu siswa kelas 9 datang dengan seragam rapi, duduk di depan laptop di atas meja kayu sederhana.
Di luar jendela, hijau Pegunungan Meratus terbentang syahdu. Di dalam ruangan, suasana justru sebaliknya hening yang menegang.
Akhmad Riduan duduk di salah satu sudut ruangan. Siswa 16 tahun asal Dusun Munggulahung, Desa Paramasan Bawah itu tampak sesekali merapikan posisi duduknya, lalu kembali menatap layar laptop di depannya.
Ini adalah kali pertama ia mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Ia datang lebih pagi dari biasanya. Perjalanan dari dusunnya menuju sekolah bukan perkara sepele.
Jalan berbatu, jarak yang tidak dekat, dan keterbatasan akses menjadi bagian dari rutinitas yang sudah akrab baginya.
Namun pagi itu, yang ia hadapi bukan lagi soal jarak, melainkan ketidakpastian.
“Dari rumah saya memang sudah niat berangkat lebih awal. Takut terlambat dan ingin benar-benar siap ikut simulasi,” ujarnya.
Pukul 05.50 WITA, sistem masih terlihat normal.
Namun hanya berselang 20 menit, suasana berubah. Nama pengawas beserta kartu login mendadak hilang dari sistem
Di ruang yang sama, Proktor TKA, Rilo Adityo, langsung bergerak.
Ponsel di tangan, koordinasi dilakukan secepat mungkin dengan tim teknis kabupaten.
Waktu berjalan, sementara para siswa sudah duduk menunggu di depan layar.
“Momen itu cukup menegangkan. Tapi kami berusaha tetap tenang, supaya siswa juga tidak ikut panik,” ujar Rilo.
Di hadapan mereka, layar-layar laptop masih menyala. Namun belum ada soal yang bisa dikerjakan. Hanya tampilan sistem yang belum sepenuhnya siap.
Beberapa siswa tampak menunduk, menatap layar. Ada yang sesekali melirik ke depan, menunggu instruksi.
Tidak ada keluhan. Tidak ada keributan. Mereka memilih diam sembari menunggu kepastian.
Waktu terus berjalan, sementara para siswa tetap duduk menunggu. Riduan mengaku sempat bingung.
“Sudah siap dari pagi, tapi belum bisa mulai. Jadi agak cemas juga,” ujarnya pelan.
Namun ia memilih tetap bertahan di kursinya.
Seperti siswa lainnya, Riduan menunggu instruksi tanpa banyak bertanya. Sesekali matanya beralih dari layar ke depan kelas, lalu kembali lagi.
Jemarinya menggenggam mouse, seolah siap kapan saja ujian dimulai.
“Saya ingin tetap ikut sampai selesai. Ini kesempatan penting, jadi harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” ucapnya.
Bukan tanpa alasan, baginya, simulasi TKA bukan sekadar rutinitas sekolah. Ini adalah langkah awal menuju masa depan yang lebih baik.
Keterbatasan yang selama ini ia hadapi justru menjadi alasan untuk tidak menyerah.
“Meskipun tadi sempat ada kendala, saya tetap semangat. Yang penting bisa belajar dan mencoba,” tambahnya.
Di sekolah yang berada di pedalaman Meratus, akses dan fasilitas bukanlah hal yang selalu mudah. Namun pagi itu, yang diuji bukan hanya kesiapan perangkat, melainkan juga kesabaran.
Pukul 07.00 WITA, secercah harapan muncul. Solusi sementara diberikan agar persiapan tetap berjalan sambil menunggu perbaikan sistem pusat.
Aktivitas di ruang laboratorium perlahan kembali hidup, meski bayang-bayang gangguan belum sepenuhnya hilang.
Waktu berjalan lambat. Hingga akhirnya, pukul 09.30 WITA, pemberitahuan resmi diterima sistem TKA Nasional tengah dalam proses pemulihan dan peningkatan serentak.
“Katanya sistem TKA Nasional tengah dalam proses pemulihan dan peningkatan secara serentak,” ujar Rilo.
Penantian panjang itu akhirnya berbuah hasil.
Pukul 10.00 WITA, sistem dinyatakan pulih. Sesi kedua TKA pun bisa dimulai.
Kali ini tanpa gangguan berarti. Satu per satu siswa mulai fokus mengerjakan soal.
Suasana yang sempat tegang perlahan berubah menjadi hening yang penuh konsentrasi.
Di balik layar laptop sederhana di ruang kelas pedalaman Meratus, tercipta cerita tentang ketekunan. Tentang siswa yang menempuh jarak, menahan cemas, dan tetap bertahan dalam ketidakpastian.
Pagi itu, bagi Akhmad Riduan dan teman-temannya, ujian bukan sekadar soal angka. Melainkan tentang bagaimana menjaga semangat meski harus menunggu lama untuk memulainya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Paramasan, Rahmiatun, menyebut situasi tersebut sebagai ujian sesungguhnya.
“Ini bukan hanya soal kesiapan teknologi, tapi juga mental. Kami sangat mengapresiasi tim proktor dan siswa yang tetap tenang dan kondusif,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti