Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tak Punya Uang untuk Lanjutkan Pendidikan, Kini Nafija Menyusun Mimpi di Sekolah Rakyat

M Fadlan Zakiri • Selasa, 13 Januari 2026 | 12:06 WIB

 

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Senin (12/1)
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Senin (12/1)

BANJARBARU - Setiap hari, Nafija terbiasa melihat sungai. Lebih dulu sebelum melihat jalan. Gadis 16 tahun itu berasal dari Desa Aluh-aluh Kecil, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar, wilayah yang dipisahkan oleh aliran sungai.

Untuk menuju desa tetangga, warga harus menggunakan perahu. Di kampung itulah Nafija tinggal. Bersama nenek dan ibunya yang bekerja sebagai buruh tani. Hidup mereka sederhana, jauh dari kata berkecukupan.

Kini Nafija berdiri rapi di halaman Sekolah Rakyat Banjarbaru. Seragam merah marun yang dikenakannya tampak kontras dengan wajah polosnya. Senyum tipis terukir, meski matanya menyimpan cerita panjang tentang perjuangan. “Saya sangat bersyukur bisa sekolah di sini,” ucapnya pelan.

Beberapa bulan lalu, Nafija sempat berada di titik terendah. Setelah lulus SMP, ia hampir dua bulan tak melanjutkan sekolah. Bukan karena malas belajar, tapi karena biaya. Ia sempat ingin masuk SMA di Desa Bunipah. Namun, jarak tempuh membuatnya harus naik kelotok setiap hari. Ongkos pulang pergi terlalu berat bagi keluarga. “Orang tua saya hanya buruh tani. Tidak sanggup bayar ongkos naik perahu tiap hari,” katanya.

Pilihan lain sebenarnya ada. Di desa Aluh-aluh Kecil terdapat MAN 5 Banjar. Jaraknya dekat. Namun, biaya pendaftaran, seragam, dan kebutuhan lain tetap tak terjangkau. “Walaupun dekat, tetap perlu uang. Untuk daftar, beli seragam, dan keperluan lain. Jujur saya tidak mampu,” tuturnya.

Nafija sempat pasrah. Ia tak ingin memaksa orang tuanya yang sudah berjuang keras. “Saya sempat bingung dan akhirnya pasrah. Kasihan orang tua saya,” katanya.

Titik terang datang ketika seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di desanya memberi kabar tentang Sekolah Rakyat. “Petugas PKH itu bilang ada sekolah gratis untuk anak-anak seperti saya,” kenangnya.

Ia pun didaftarkan. Seleksi dilalui dengan penuh harap. Hingga akhirnya kabar baik datang. “Alhamdulillah, saya diterima,” ucapnya.

Kini Nafija menjadi siswa kelas X di Sekolah Rakyat Banjarbaru. Lingkungan sekolah yang nyaman membuatnya betah. “Fasilitasnya lengkap. Guru-gurunya baik, pendamping juga perhatian,” katanya.

Namun rindu tetap jadi teman setia. Selama satu semester, Nafija baru dua kali bertemu orang tuanya. “Bukan karena saya tidak mau pulang. Orang tua saya tidak punya uang buat membesuk. Ongkos ke Banjarbaru mahal,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia memahami kondisi itu. Justru keadaan itulah yang menguatkan tekadnya. “Itu jadi motivasi saya untuk meraih cita-cita,” katanya mantap.

Nafija bercita-cita menjadi operator alat berat di pertambangan. “Saya ingin membahagiakan orang tua. Saya tidak mau mereka hidup serba kekurangan terus,” ujarnya.

Nafija kini menatap masa depan dengan keyakinan baru. Ia membuktikan, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. “Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden. Lewat program ini saya bisa sekolah lagi,” ucapnya tulus. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Anak #Banjar #Sekolah Rakyat #siswi