MARABAHAN - Bangunan toilet dan gudang di SMPN 5 Belawang, Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, nyaris roboh.
Pondasinya amblas hingga membuat bangunan miring parah, terutama di bagian toilet laki-laki.
Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, pihak sekolah menutup akses ke toilet tersebut.
Akibatnya, para siswa terpaksa pulang ke rumah atau menyeberang ke masjid untuk sekadar buang air kecil maupun besar.
Ketua Komite SMPN 5 Belawang, Romlan mengatakan kondisi bangunan yang miring itu sebenarnya sudah lama terlihat.
Namun, kerusakan terparah baru terjadi pada Sabtu (25/10/2025). Beruntung saat kejadian, tidak ada korban.
"Pihak sekolah sudah melaporkan kondisi ini ke dinas terkait sejak lama, tapi belum juga ada respons. Kami berharap ada tindak lanjut secepatnya sebelum bangunan benar-benar roboh," ujar Romlan.
Ia menambahkan kondisi bangunan yang miring membuat kegiatan belajar siswa ikut terganggu.
"Kalau bersamaan ingin ke toilet, mereka harus antre. Ada juga yang memilih pulang atau ke masjid. Kami khawatir ini berdampak pada kedisiplinan belajar mereka," tambahnya.
Salah satu siswa kelas VII, Tama mengaku kerap meminta izin pulang karena tak tahan menunggu antrean panjang di toilet.
"Kalau kebelet, mau tidak mau pulang dulu. Soalnya toiletnya cuma dua, dan satu sudah miring," ucapnya polos.
Sementara itu, Parjan, staf Tata Usaha SMPN 5 Belawang menyebut bangunan tersebut berdiri sejak tahun 1994 dan belum pernah mengalami renovasi besar.
"Dulu kerusakannya ringan saja, tapi sekarang makin parah. Pondasinya mungkin sudah tidak kuat lagi menahan beban," jelasnya.
Bangunan itu memiliki dua toilet dan satu gudang. Toilet perempuan berada di sisi kanan, sementara toilet laki-laki di sisi kiri.
"Yang paling parah di toilet laki-laki, lantainya amblas dan dinding gudang sampai terbelah. Toilet perempuan masih bisa dipakai, tapi kami juga waswas karena dindingnya mulai retak," terang Parjan.
Kepala Sekolah SMPN 5 Belawang, Ainun Nikmah mengatakan saat ini masih ada dua toilet lain yang bisa digunakan, tapi tidak cukup untuk menampung semua siswa.
"Kalau semua bersamaan ke toilet, mereka harus antre. Akhirnya ada yang izin pulang atau ke masjid. Ini tentu mengganggu kegiatan belajar," ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Daerah segera menindaklanjuti kondisi tersebut.
"Kalau dibiarkan, ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga keselamatan siswa dan guru. Kami sangat berharap perhatian dari dinas terkait," pungkasnya.
Editor : Fauzan Ridhani