Dari anak-anak yang hampir kehilangan masa depan, Sekolah Rakyat Banjarbaru memberi mereka rumah, ilmu, dan harapan baru. Di situ tersimpan cerita perjuangan: dari broken home, putus sekolah, hingga kini punya mimpi yang kembali tumbuh.
********
Derai tawa terdengar dari sebuah ruang kelas di Jalan Trikora, Landasan Ulin, Banjarbaru. Ratusan anak berseragam sederhana tampak tekun memperhatikan papan tulis. Di sela-sela pelajaran, mereka sesekali saling melempar senyum. Suasana hangat itu terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru. Sebuah sekolah berasrama yang kini menjadi rumah kedua bagi anak-anak dari berbagai latar belakang.
Sekolah ini menjadi salah satu Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi di Kota Banjarbaru. Lokasinya di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Jalan Trikora, Kecamatan Landasan Ulin.
Ia bukan sekadar sekolah, melainkan bagian dari program besar yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto sejak tahun ajaran 2025/2026. Program tersebut dirancang untuk memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan gratis dan berkualitas.
Di Banjarbaru terdapat dua Sekolah Rakyat yang dinaungi Kementerian Sosial. Selain di BBPPKS, juga ada Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 20 Banjarbaru di Sentra Budi Luhur. Untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 terdiri dari anak-anak jenjang SMP dan SMA. Sementara SRMP 20 khusus untuk jenjang SMP.
Para siswanya bukan dari kalangan berada. Melainkan memiliki latar belakang ekonomi rendah, hingga rentan. Mereka mendapat kesempatan merasakan sekolah dengan berbagai fasilitas untuk pembelajaran, asrama, hingga konsumsi disediakan oleh negara.
Fasilitas di BBPPKS terbilang lengkap dan modern. Asrama siswa terdiri atas dua gedung. Tiap kamar dilengkapi AC, kamar mandi dalam, meja belajar, kursi dan lemari pakaian. Satu kamar diisi dua siswa.
Selain itu, tersedia gedung pendidikan dengan lima ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, tata usaha, perpustakaan, dan laboratorium komputer. Ruang kelas dibuat senyaman mungkin dengan kursi ergonomis dan white board modern.
Ada pula ruang makan berkapasitas 90 orang, musala untuk 120 orang, dan amphitheater terbuka berkapasitas 100 orang. Siswa juga bisa menjaga kebugaran di gelanggang olahraga, lapangan futsal, badminton dan area gym.
Semua serba gratis. Seluruh kebutuhan siswa juga ditanggung pemerintah melalui APBN. Mulai dari seragam, alat tulis, perlengkapan pribadi, hingga makanan dan kebutuhan di asrama seperti sabun, sikat gigi, hingga tempat tidur.
Total keseluruhan ada 125 siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9. Mereka terbagi 5 rombel. Dua rombel untuk jenjang SMP, dan 3 rombel jenjang SMA.
Sementara di Sentra Budi Luhur, para siswa menempati gedung asrama yang terpisah antara putra dan putri. Setiap gedung dirancang dengan kapasitas maksimal 26 siswa. Sementara setiap kamar diisi 6 hingga 10 siswa.
Di sentra Budi luhur telah menerima 100 siswa dari lima kabupaten/kota. Mulai dari Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarmasin, dan Kota Banjarbaru. Kini jumlahnya sebanyak 53 siswa laki-laki, dan 47 siswi perempuan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 9, Rifki Hakim menjelaskan latar belakang murid yang berbeda menjadi keunikan sendiri dalam proses belajar di Sekolah Rakyat ini. Siswanya itu tidak satu angkatan. Ada yang sudah putus sekolah selama 2 tahun. Ada pula dulu pernah SMA kelas 1, tapi berhenti. ”Terus kita ulang dari kelas 1 lagi. Bekal (pengetahuan, red) yang dimiliki mereka beda-beda,” ujar Rifki.
Meski begitu, proses belajar mengajar dilakukan layaknya sekolah pada umumnya. Para murid bersekolah pada hari Senin hingga Jumat. Kemudian pada hari Sabtu, pembelajaran ekstrakurikuler. “Belajar mengajar di sini itu sama dengan sekolah reguler, dari 08.00–16.00 untuk jenjang SMA. Kemudian untuk jenjang SMP, waktunya lebih pendek sampai 15.00 Wita saja,” sebutnya.
Keunikan lain yang jarang bisa ditemui di sekolah umum adalah pembelajaran diselingi dengan kegiatan kokurikuler, alias belajar di luar kelas yang diisi pembelajaran vokasi, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Jadi apa yang menjadi minat dan bakat mereka akan diarahkan setelah jam pembelajaran. ”Dari setelah Asar sampai Magrib, kami mengadakan pembelajaran vokasi. Sedangkan setelah Magrib, mereka diberi pendidikan karakter seperti kajian atau sesi curhat, sesi pendekatan,” jelasnya. Melalui kegiatan tambahan itu, para guru dan tenaga pendidik ingin membangun atau menambahkan motivasi tentang kehidupan pada masing-masing murid di Sekolah Rakyat.
Dinamika yang dijalani oleh anak-anak di Sekolah Rakyat berbeda-beda. Kesabaran menjadi kunci utama dipegang para tenaga pendidik, wali asuh, hingga wali asrama. “Kalau tidak sabar, kita akan kesulitan sendiri menghadapi anak-anak. Dinamikanya luar biasa, terutama lingkungan mereka, ada yang masih terbawa dari rumah sampai ke sini. Harus kita ubah satu persatu,” ungkap Rifki.
Rifki memberikan contoh anak-anak di Sekolah Rakyat ini hampir rata-rata dari lingkungan broken home. Ada yang memang tidak tinggal dengan orang tuanya. Ada juga yang tinggal dengan ayah, atau bahkan ibu saja. Beberapa murid juga tinggal dengan kakek nenek atau keluarganya.
Ada pula murid putus sekolah. Pernah berjualan dan tahu caranya mencari uang, tiba-tiba dikembalikan ke jalur sekolah. “Kalau ada anak-anak yang dari dulu suka merokok, sampai ke sini otomatis akan terbawa. Kita berikan pengertian, supaya bisa perlahan-lahan mengurangi itu,” jelasnya.
Dengan konsep boarding school, para murid tidak diperkenankan menggunakan smartphone atau gadget. Kecuali pada saat jam kunjungan orang tua atau wali murid. “Kunjungan setiap harinya dari pukul 4 sore sampai jam 8 malam. Kemudian hari Minggu jam 8 pagi sampai jam 4 sore,” ucapnya.
Rifqi berharap kampus memberi kesempatan membuka jalur khusus bagi lulusan dari Sekolah Rakyat. "Alhamdulillah, baru beberapa bulan diresmikan, ada siswa kami di sini yang berhasil tembus satu orang ke istana negara menjadi bagian paduan suara. Kami juga berhasil membawa pulang trofi juara 3 gerak jalan tingkat provinsi," ungkapnya.
Murid home sick, karena kangen rumah, menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh tenaga pendidik. Seperti di pekan pertama, kedua, bahkan sampai awal bulan pertama, hampir semua siswa merasakan ingin pulang. Rasa betah itu yang harus dikelola para pengajar. ”Yang penting mereka betah, mereka nyaman di sini. Kemudian baru kami masukan untuk proses-proses belajar mengajar,” jelasnya.
Yusril Ahsan (12) mengaku kerap rindu orang tua di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Yusril biasanya hanya dikunjungi kakaknya yang berada di Martapura, Kabupaten Banjar. “Biasanya dijenguk kakak, karena jauh kan orang tua,” ujarnya.
Yusril dari keluarga kurang berada. Ia baru lulus dari jenjang Madrasah Ibtidaiah. Ia senang bisa menjadi bagian murid Sekolah Rakyat di Banjarbaru ini. “Seru bisa belajar mendapatkan ilmu untuk menggapai cita-cita. Di sini fasilitas lengkap, cuma jauh dari orang tua,” bandingnya.
Salah satu pengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9, Diyan Oktafiani, juga dari Jawa. Ia mengaku baru pertama ke Kalimantan. Diyan juga harus meneguhkan hati karena jauh dari orang tua, dan sanak keluarga. "Dengan penuh semangat membagi ilmu kepada anak-anak di sini, insya Allah berkah," yakinnya.
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Jabatan Fungsional (PPPK JF) di bawah naungan Kementerian Sosial itu tak menyangka akan ditempatkan di Kalsel. Diyan sempat mengalami culture shock dari segi bahasa. "Pertama ke sini kaget dengan bahasa anak-anak. Tapi lambat laun bahasa Banjar bisa beradaptasi. Bahasanya lebih cenderung seperti Melayu," ucap perempuan lulusan Universitas Muhammadiyah Purworejo itu.
Diyan optimis bisa memberikan yang terbaik untuk mencerdaskan anak bangsa. Ia berharap Sekolah Rakyat tidak hanya memberi akses pendidikan gratis, tetapi juga menjamin masa depan siswa setelah lulus. “Mungkin ada yang mau kuliah. Ada yang mau tes polisi atau tentara. Pemerintah bisa fasilitasi, supaya cita-cita anak-anak itu bisa tercapai,” harapnya.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Kalsel
Harapan & Peluang :
- Gratis dan berasrama, target untuk anak-anak miskin ekstrem.
- Diharapkan jadi tonggak pemerataan pendidikan & pengentasan kemiskinan.
- Anak-anak bisa fokus belajar, tanpa terbebani kerja rumah tangga atau mencari nafkah.
Kekhawatiran & Kritik :
- Pencetus Program : Dinilai lebih berasaskan ambisi politik, bukan aspirasi masyarakat.
- Stigma baru: Sekolah Rakyat bisa dicap sebagai sekolah khusus anak miskin.
- Kecemburuan sosial: fasilitas lebih unggul (iPad, boarding school) dibanding sekolah reguler.
- Anggaran besar berpotensi mubazir, sementara banyak sekolah reguler masih rusak.
- Seleksi rawan manipulasi, dikhawatirkan anak tidak tepat sasaran bisa lolos.
- Program tumpang tindih dengan sekolah nonformal yang sudah ada.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief