BANJARMASIN - Tim peneliti Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) merilis temuan riset yang menunjukkan pelatihan berbasis pengalaman (experiential) mampu secara signifikan meningkatkan kompetensi guru SD dalam mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Studi kuasi-eksperimental pada 30 guru di SDN Karang Mekar 1 Banjarmasin ini memanfaatkan proyek pemanfaatan beeswax dan bunga kesumba sebagai blueprint pedagogis yang menautkan konsep P5 yang abstrak menjadi praktik pembelajaran yang konkret.
Kegiatan penelitian ini didasari pada paradigma Kurikulum Merdeka yang menempatkan P5 sebagai poros pembentukan karakter pelajar. Namun di banyak sekolah, penerapannya terkendala pada jarak antara kebijakan dan praktik kelas.
Di SDN Karang Mekar 1, tim jurusan PGSD ULM mengubah konsep P5 menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan terukur lewat proyek pembuatan lilin aromaterapi, sebuah kegiatan yang sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Upaya ini menjadi satu dengan tradisi kemitraan Universitas dan sekolah yang telah berjalan di PGSD FKIP ULM.
Sebelumnya, tim dosen dan mahasiswa mengadakan Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) pada 6–8 Juni di SDN Karang Mekar 1. Kegiatan pengabdian tersebut memfokuskan pada perencanaan proyek lintas mata pelajaran, keselamatan kerja laboratorium sederhana, formulasi lilin aromaterapi (bahan, takaran, proses), hingga strategi pengemasan dan pelabelan produk, sekaligus menguatkan literasi finansial dasar.
Melalui projek kepemimpinan mahasiswa PPG “Lebee Calm: Pemanfaatan Beeswax dan Bunga Kesumba dalam pengembangan kosmetik berbasis lahan basah”, PGSD FKIP ULM meneguhkan komitmen mendampingi sekolah dalam mengintegrasikan P5 ke praktik pembelajaran harian sekaligus mengangkat potensi lokal lahan basah secara berkelanjutan.
Harapannya, keterampilan meracik balm/lip balm berbasis beeswax dan ekstrak kesumba menjadi habituasi, dimanfaatkan di kelas sains, projek kewirausahaan, dan kegiatan ekstrakurikuler, serta memperkuat literasi keselamatan kerja, higienitas produksi, labeling, dan kemasan ramah lingkungan. Di sisi ekonomi, produk Lebee Calm diharapkan menjadi wahana wirausaha sekolah (bazaar, penggalangan dana) dan identitas kebanggaan lokal.
Ke depan, inisiatif ini akan diperluas ke sekolah mitra lain melalui pendampingan berkala, penyediaan starter kit dan modul replikasi, pelatihan student–teacher trainers, kolaborasi dengan UMKM setempat, serta mekanisme monitoring–evaluasi sederhana (portofolio P5, jurnal refleksi, dan micro-credential bagi guru), agar dampaknya kian luas, terukur, dan berkesinambungan.
Editor : Fauzan Ridhani