BANJARMASIN - PEMERIKSAAN 16 Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ramai diberitakan media nasional dan lokal.
Namun, hingga kemarin (24/7), Rektor ULM Prof Ahmad Alim Bachri belum muncul dan memberikan pernyataan.
Kampus Kuning yang kembali diguncang skandal guru besar menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa, salah satunya Zaidan Muzaki.
Mahasiswa Fakultas Hukum ini menyebut skandal guru besar ULM ini tamparan keras bagi kampusnya.
"Para aktor pendidikan yang seharusnya menjadi teladan, malah terlibat dugaan praktik kecurangan. Ini mencoreng integritas kampus," ujar Zaidan.
Tak hanya pelanggaran integritas akademik, Zaidan juga khawatir kasus ini kembali memberikan dampak minor buat mahasiswa.
Seperti kemarin, saat akreditasi jeblok, sejumlah mahasiswa memilih menunda kelulusan.
Diceritakannya, nama besar ULM bahkan sempat menjadi bahan olok-olokan di antara mahasiswa dari kampus lain.
"Kalau situasi ini terus berulang, mahasiswa berada di posisi yang sangat dirugikan," katanya.
Nama Rektor Ahmad turut disebut dalam pusaran masalah ini. Sebab ia punya peran dalam menerbitkan SK pembentukan Tim Percepatan Promosi Guru Besar.
Mulanya, kebijakan itu memberikan kebanggaan karena jumlah guru besar ULM bertambah secara masif. Tapi kini justru menyeret ULM ke jurang krisis kepercayaan.
Zaidan menyayangkan sikap sang rektor yang terkesan lepas tangan.
"Belakangan ini beliau aktif di media sosial, bahkan rutin siaran langsung di TikTok. Tapi ketika skandal ini mencuat lagi, justru kembali menghilang," katanya.
Sebagai pimpinan tertinggi kampus, menurut Zaidan, Prof Ahmad harus tampil ke depan publik dan bertanggung jawab.
Ia mendesak transparansi dan dialog terbuka antara pimpinan kampus dan civitas akademika.
"ni menyangkut nasib banyak pihak, terutama mahasiswa. Kami semua harus ikut mengawal agar kejadian seperti ini tak terulang. Sudah cukup kami menjadi korban," tegasnya.
Mahasiswa FISIP, Tiara Karina merasa bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Saya jadi teringat momen saat ULM menjalani reakreditasi beberapa bulan lalu. Waktu itu, banyak mahasiswa merasa waswas soal reputasi kampus, kepastian jadwal wisuda, hingga kualitas pendidikan ke depan."
Menurutnya, idealnya rektorat menyampaikan pernyataan resmi kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi kian liar.
Keterbukaan soal proses pengusutan yang sedang berlangsung juga penting.
"Meski dari beberapa pemberitaan disebutkan bahwa masalah ini tidak berpengaruh terhadap status akreditasi, saya yakin tetap ada kekhawatiran di kalangan mahasiswa. Terutama bagi mereka yang sedang berada di tahap krusial studi. Bersiap wisuda, mengikuti program kampus, atau mahasiswa baru yang baru saja masuk," kata Tiara.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief