BANJARMASIN — Sebanyak 177 dari 208 sekolah dasar negeri (SDN) di Banjarmasin menghadapi krisis siswa baru.
Dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 yang berlangsung pada 26-28 Mei kemarin, banyak sekolah yang kekurangan pendaftar.
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ibnul Qayyim menyebut terjadi ketimpangan distribusi pendaftar.
Beberapa sekolah mendapat pendaftar melebihi daya tampung, sementara yang lain justru kekurangan.
Fakta yang mengemuka cukup mengkhawatirkan. Beberapa sekolah bahkan nyaris tanpa pendaftar.
Contoh SDN Pemurus Dalam 8, SDN Pengambangan 10, dan SDN Pemurus Dalam 7 yang tidak menerima pendaftar sama sekali.
Sementara SDN Kuin Selatan 5 hanya menerima 1 pendaftar, sedangkan SDN Teluk Dalam 10 hanya 2 pendaftar.
Selebihnya, sebanyak 59 SDN mengalami kekurangan sekitar 10 siswa dari kuota minimum.
Untuk mengatasi masalah ini, Disdik telah membuka kembali pendaftaran secara offline. Namun mendekati Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 7-12 Juli, beberapa sekolah masih belum mendapat tambahan pendaftar yang signifikan.
Qayyim lantas mengungkap rencana penggabungan atau grouping sejumlah sekolah.
Dalam waktu dekat, merger akan dilakukan terhadap SDN Teluk Dalam 9 dan 10. Dua sekolah ini akan menjadi SDN Teluk Dalam 10.
Mengacu data Disdik, SDN Teluk Dalam 10 baru mendapatkan dua peserta didik dari kuota 25 murid atau kekurangan 23 murid.
Sementara SDN Teluk Dalam 9 mendapat 13 murid dari kuota 28 orang atau kekurangan 15 orang.
"Tentu kami juga akan melakukan penggabungan pada beberapa sekolah, namun setelah dilakukan perencanaan," ujarnya, Selasa (1/7).
Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin meminta Disdik untuk tidak terfokus pada jumlah siswa, tetapi juga melakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi fasilitas sekolah dan sebaran guru.
"Kenyamanan belajar menjadi penunjang utama minat siswa. Pemerataan guru dan fasilitas penting untuk dievaluasi," tegasnya.
Wali Kota Minta Evaluasi
Minimnya jumlah peserta didik baru di sejumlah sekolah di pinggiran kota sebenarnya bukan masalah baru.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin menyatakan kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi.
"Ini perlu menjadi perhatian khusus Dinas Pendidikan. Harus dikaji betul apa masalah dan kendalanya. Kenapa anak-anak enggan masuk ke sekolah-sekolah tersebut," ujarnya, Rabu (2/7).
Politikus Partai Gerindra ini menyebut, salah satu faktor adalah masih kuatnya anggapan "sekolah favorit". Maka menurutnya solusinya adalah pemerataan kualitas pendidikan.
"Kalau memang penyebabnya karena label sekolah favorit, berarti kita harus benahi. Harus ada pemerataan, baik dari segi fasilitas maupun tenaga pendidiknya," katanya.
Ia tak ingin ada diskriminasi dalam dunia pendidikan. Apalagi sampai terjadi kesenjangan antara sekolah unggulan dan sekolah biasa.
"Siswa harus merasa nyaman bersekolah di mana pun mereka diterima. Itu yang harus kita kejar," katanya.
Lebih lanjut, Wali Kota juga menekankan pentingnya data yang akurat dan pemetaan yang matang. Ia mencontohkan perlunya pendataan lulusan tiap jenjang secara rutin.
"Misalnya, berapa jumlah kelulusan anak-anak TK. Lalu kita hitung berapa sekolah yang bisa menampung mereka. Ini penting agar tidak terjadi ketimpangan," jelasnya.
Ia berharap, ke depan tak ada lagi sekolah yang kekurangan murid. "Pemerintah harus hadir dan mencari solusi agar pendidikan di kota ini benar-benar merata," pungkas Yamin.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief