BANJARMASIN - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (FKM UNISKA MAB) menggelar Yudisium Sarjana ke-40 Semester Ganjil Tahun Akademik 2024/2025, Selasa (3/6/2025). Kegiatan yang dilaksanakan di Rattan Inn Banjarmasin ini meluluskan sebanyak 44 orang sarjana kesehatan masyarakat.
Rektor UNISKA MAB, Assoc Prof Dr HM Zainul dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada para lulusan yang telah menyelesaikan studi dengan baik. Ia menekankan pentingnya integritas, profesionalisme, dan semangat pengabdian di tengah masyarakat, khususnya bagi lulusan di bidang kesehatan masyarakat.
"Kalian adalah agen perubahan di bidang kesehatan. Gelar yang kalian peroleh bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi awal dari pengabdian dan kontribusi nyata kepada masyarakat," ujar Rektor.
Ia juga menegaskan bahwa UNISKA akan terus mendukung pengembangan lulusan, baik dalam karier maupun pendidikan lanjutan. "Dan terus menjunjung tinggi nama almamater," pesannya.
Sementara itu, Dekan FKM UNISKA MAB, Meilya Farika Indah menyampaikan harapan besar kepada para lulusan agar menjadi pribadi unggul, baik dalam aspek keilmuan kesehatan masyarakat maupun dalam nilai-nilai keislaman.
"Keunggulan lulusan FKM UNISKA tidak hanya diukur dari penguasaan ilmu, tetapi juga dari akhlak dan adabnya. Sebagai lulusan universitas Islam, tentu harus mencerminkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat," tegas Meilya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan ilmu kesehatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar. "Jika seorang lulusan berasal dari Tanah Bumbu, maka ia diharapkan mampu menerapkan ilmunya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di daerah tersebut," ujarnya.
Dalam momentum yudisium ini, Meilya juga mengajak lulusan turut ambil bagian dalam kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei.
Menurutnya, ilmu kesehatan masyarakat berfokus pada pencegahan penyakit dan promosi gaya hidup sehat, salah satunya dengan menjauhi tembakau dan produk turunannya.
"Merokok, baik konvensional maupun elektrik (vape), membawa dampak buruk bagi kesehatan. Bahkan, informasi tentang bahayanya bisa ditemukan dari produsen rokok itu sendiri," ungkapnya.
Meilya menyoroti tema HTTS 2025 yang memperingatkan bahaya rokok elektrik, yang kerap disalahartikan sebagai alternatif lebih aman. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vape mengandung nikotin, zat adiktif yang bisa menyebabkan kecanduan hingga meningkatkan risiko kanker.
"Vape bukanlah alternatif yang aman. Zat berbahayanya tetap ada. Banyak pengguna tergoda oleh rasa dan aroma, namun tidak sadar akan dampaknya," jelasnya.
"Selain dampak kesehatan, ia juga menyinggung aspek ekonomi dari kebiasaan merokok, di mana dana yang digunakan untuk membeli rokok atau isi ulang vape seharusnya dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat," tandasnya.
Editor : Fauzan Ridhani