Salah satu jalur islamisasi di Banjarmasin adalah jalur Pendidikan. Pada zaman lampau pemegang pucuk pimpinan Pendidikan untuk rakyat adalah para ulama.
Dengan kata lain Pendidikan menjadi sarana dakwah dan penyebaran agama islam.
Dakwah islam dilakukan oleh mubalig yang datang ke Banjarmasin. Dalam tahap awal Pendidikan berlangsung secara informal.
Seperti halnya dengan proses islamisasi di nusantara pada masa awal. Tidak ada Waktu tertentu, tidak ada tempat khusus, komunikasi yang terjadi mengalir dan tidak terprogram.
Pendidikan memiliki lima unsur pokok. Pertama ada pemberi atau pendidik, kedua ada penerima atau peserta didik, ketiga adanya tujuan baik, keempat cara atau jalan yang baik, kelima dalam konteks yang positif dan menjauhi konteks negatif.
Ada dua proses pendidikan yang bisa kita pelajari sebagai pengetahuan tentang islamisasi di Banjarmasin berikut ulasannya.
Abad ke-17 hingga akhir abad ke-18, terbentuk dua pola pengajian yang berkembang di Kesultanan Banjarmasin.
Pertama, pengajian tasawuf dan tarekat yang mengambil tempat di rumah para Syekh "Mursyid" nya. Kedua, pengajian Alquran, hadis dan kitab-kitab fikih yang dikembangkan melalui sistem lembaga yang dikenal dengan: Pengajian Datu Ujung-Banua Halat (Sungai Garis Halat), Pengajian Datu Kandang Haji (Kandang Garis Barajah), dan Pengajian Datu Kalampayan (Dalam Pagar-Garis Sungai Halat).
2. Pengajian Tasawuf dan Tarekat di Rumah Syekh Mursyid
Islamisasi Banjarmasin melalui saluran pendidikan dikembangkan oleh para ulama Sufi dari kalangan tasawuf dengan tarekatnya.
Syekh Abdul Malik, setelah kedatangannya dari tanah suci Mekkah kemudian bermukim di Martapura.
Syekh Muhammad Nafis bin Ideris al-Banjari, Datu Ujung (pendiri Masjid Keramat Banua Halat, Rantau) , Datu Kandang Haji atau Surya Sakti Mangku Alam, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Buku Islamisasi Banjarmasin Abad ke 15 Sampai 19 Karya Yusliani Noor
Editor : Fauzan Ridhani