Oleh: Lucas Djatmiko H.N, S.Pd.SD
Kepala SD Negeri 1 Ribang Kecamatan Muara Uya Kab.Tabalong
Setiap tahun, bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang dan menyelimuti berbagai daerah Kalimantan Selatan , bahkan di sebagian wilayah di Indonesia. Dampak yang paling nyata dan memprihatinkan dari fenomena ini adalah terganggunya hak anak-anak atas lingkungan hidup dan pendidikan yang sehat. Selama ini, solusi cepat yang kerap diambil ketika kualitas udara memburuk adalah mengubah moda pembelajaran. Dari Tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh yang oleh sebagian murid SD justru dimaknai sebagai libur sekolah. Padahal, pendidikan mitigasi bencana menjadi kebutuhan mendesak bagi murid sekolah dasar yang bermukim di wilayah rawan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tanpa pembekalan mitigasi yang memadai, kebijakan merumahkan murid , hanya memindahkan risiko tanpa membentuk ketahanan fisik maupun mental anak dalam menghadapi ancaman lingkungan yang berkepanjangan.
Langkah awal dalam membangun ketahanan tersebut harus dimulai dari penanaman fondasi pengetahuan dasar. Pemahaman yang tepat mengenai penyebab utama karhutla perlu ditanamkan sejak dini agar siswa memiliki kesadaran kritis terhadap kelestarian lingkungan di sekitarnya. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa karhutla sebagian besar bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan akibat dari ulah manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar secara tidak bertanggung jawab. Ketika murid SD mampu menghubungkan antara tindakan manusia dan kerusakan alam, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kritis dan tidak lagi menganggap bencana tahunan ini sebagai sebuah keniscayaan yang lazim.
Kesadaran kritis tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan pembiasaan perilaku positif di tingkat lokal. Pembiasaan tindakan pencegahan karhutla di lingkungan sekitar sekolah dan tempat tinggal efektif menumbuhkan rasa tanggung jawab moral anak sejak usia muda. Anak-anak dapat diajarkan untuk tidak melakukan pembakaran sampah di pekarangan, melaporkan indikasi titik api sekecil apa pun di sekitar mereka kepada orang dewasa, serta menjaga lingkungan dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Pembentukan kebiasaan sederhana ini menjadi benteng pertahanan paling mendasar dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan di lingkup terdekat mereka.
Di lingkungan pendidikan formal, pembentukan benteng ekologis ini dapat diakselerasi melalui program-program lingkungan terintegrasi. Penerapan gerakan sekolah Adiwiyata menjadi sarana strategis dalam membimbing siswa menciptakan ekosistem hijau yang mampu meredam dampak buruk pencemaran udara. Melalui program ini, sekolah dapat mengajak murid menanam vegetasi peneduh dan tanaman penyaring polutan di area sekitar kelas. Ekosistem hijau yang terjaga di lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai "paru-paru mini" yang meredam paparan debu dan polutan, tetapi juga menjadi sarana praktik langsung bagi murid untuk merawat ruang hidup mereka.
Namun, ketika krisis kabut asap tak terelakkan dan menyelimuti wilayah permukiman, aspek penyelamatan diri harus menjadi prioritas utama. Kemampuan murid untuk sigap mengambil tindakan proteksi diri saat kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya merupakan kunci utama ketahanan fisik mereka. Sekolah harus melatih anak-anak untuk peka terhadap peringatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Murid SD perlu dibiasakan memakai masker berstandar dengan benar, membatasi aktivitas luar ruang secara mandiri, menjaga asupan air putih, serta memahami langkah isolasi mandiri di dalam ruangan saat kabut asap mencapai level berbahaya.
Pengetahuan dan kesigapan mandiri ini tidak boleh berhenti hanya pada diri siswa, melainkan harus disebarluaskan ke lingkungan keluarga. Melatih siswa untuk mengkampanyekan tindakan praktis menghadapi kabut asap dapat memperluas jangkauan kesiapsiagaan bencana hingga ke tingkat keluarga dan masyarakat. Anak-anak yang dibekali pemahaman baik sering kali menjadi agent of change yang paling efektif di rumah. Mereka dapat mengingatkan orang tua untuk menutup ventilasi saat asap pekat, tidak membakar sampah pekarangan, serta menyiapkan perlengkapan darurat kesehatan keluarga.
Di sisi lain, tantangan besar yang kerap diabaikan saat bencana asap berlangsung adalah keterpurukan proses belajar mengajar. Menjaga motivasi dan semangat belajar siswa di tengah pekatnya kabut asap membutuhkan pendekatan pembelajaran yang responsif dan mendukung ketahanan mental anak. Ketika ruang gerak anak terbatasi oleh polusi udara, pendidik harus kreatif menghadirkan model pembelajaran fleksibel atau aktivitas dalam ruang yang interaktif. Dukungan psikologis dari guru dan orang tua sangat diperlukan agar anak-anak tidak merasa tertekan, cemas, atau kehilangan hak belajar mereka di masa krisis.
Agar proses pendidikan bencana ini berjalan efektif dan tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan, keakuratan informasi menjadi faktor kunci. Peningkatan literasi bencana yang tepat sangat penting agar anak-anak mampu memilah informasi yang benar serta memahami langkah mitigasi kabut asap secara ilmiah dan praktis. Sekolah perlu menyediakan bahan bacaan, komik mitigasi, atau modul interaktif yang bersumber dari lembaga resmi tepercaya. Dengan literasi yang baik, murid SD tidak hanya terhindar dari disinformasi atau mitos seputar bencana, tetapi juga mampu memahami logika ilmiah di balik setiap langkah keselamatan yang mereka ambil.
Tentu saja, tanggung jawab edukasi bencana ini tidak bisa dibebankan kepada guru dan pihak sekolah semata. Sinergi berkelanjutan antara pihak sekolah dan lembaga berkompeten seperti BPBD sangat krusial untuk menghadirkan sosialisasi keselamatan karhutla yang teruji dan aplikatif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait dapat hadir secara berkala ke sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan simulasi bencana, pelatihan pertolongan pertama, dan edukasi langsung. Kolaborasi multisektor ini akan memastikan bahwa materi mitigasi yang diterima murid selalu terstandarisasi, relevan, dan berdampak nyata.
Pada akhirnya, kita harus mengubah cara pandang dalam merespon krisis lingkungan tahunan ini. Membingkai situasi bencana karhutla sebagai bahan belajar kontekstual membentuk karakter murid yang adaptif, tangguh, dan tetap produktif meski berada dalam kondisi krisis. Bencana asap tidak lagi sekadar menjadi alasan untuk menghentikan pembelajaran, melainkan momen berharga untuk menggembleng kecerdasan ekologis anak. Dengan menjadikan mitigasi bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum dan budaya sekolah, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang siap menjaga kelestarian bumi sekaligus tangguh menghadapi berbagai tantangan iklim di masa depan. (*)
Editor : Arief M