Ibu yang Cukup, Bukan Ibu yang Sempurna

admin • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 15:41 WIB

Rita Aryani

Rita Aryani

Oleh: Rita Aryani
Pengajar SMKN 1 Murung Pudak
 

Menyusui sering kali digambarkan sebagai proses yang indah dan alami. Namun, kenyataannya bisa terasa sangat susah, bahkan menguras emosi dan jiwa. Dulu saya mengira memiliki anak kedua akan lebih mudah karena pengalaman dari anak pertama. Dugaan itu salah besar. Menjalani peran dengan dua anak tetap terasa berat, dari jam tidur yang tidak teratur hingga kejar tayang setiap pagi karena harus bangun lebih awal dibandingkan penghuni rumah lainnya.

Masa pascamelahirkan memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Saat tubuh belum pulih dari persalinan, seorang ibu sudah dituntut menjalankan perannya dengan jam kerja seolah tanpa batas. Di awal masa ini, saya merasa belum mampu membagi waktu dengan adil. Ada begitu banyak topi yang harus saya pakai: ibu dari dua anak, istri, pengurus rumah tangga, dan ibu pekerja.

Ketegangan itu membuat emosi saya memuncak. Kata orang-orang di sekitar, saya mengalami baby blues pascamelahirkan. Beruntung, keluarga—terutama suami dan orang tua—membantu saya melewati masa kritis tersebut hingga perlahan bisa berdiri tegak kembali.

Pagi di rumah kami selalu dimulai dengan dua peran bersamaan. Tangan kanan sibuk membuat bekal dan menyiapkan seragam SD Si Kakak, sementara tangan kiri menggendong Si Adik yang menyusu. Dulu, saya malu jika harus menyusui sambil melakukan pekerjaan lain. Namun sekarang, keadaan mengubah saya menjadi sangat mahir. Saya terbiasa menyusui sambil menyisir rambut, membalas pesan pekerjaan, hingga menenangkan Kakak yang rewel karena kaus kakinya hilang.

Orang sering bilang multitasking tidak sehat bagi mental maupun fisik. Namun, bagi ibu menyusui yang juga bekerja, multitasking bukanlah pilihan gaya hidup, melainkan strategi untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Pergeseran peran ini juga terlihat jelas dari apa yang saya bawa setiap hari. Isi tas kerja saya kini berubah. Tidak hanya laptop dan pengisi daya, melainkan berdesakan dengan pompa dan kantong penyimpan ASI. Di sekolah, saya adalah guru yang mendidik para siswa. Namun, identitas mendasar saya tetaplah seorang ibu.

Saya harus menyempatkan sekitar 15 menit untuk memompa ASI di sela jadwal mengajar. Hasilnya tidak pasti. Kadang satu sesi mendapatkan 120 ml, tetapi tidak jarang cuma 40 ml. Mendapatkan 40 ml pun terasa seperti kemenangan besar yang patut disyukuri.

Pernah saya harus memompa ASI saat mengikuti pelatihan formal. Saya meminta izin keluar ruangan untuk mencari tempat yang layak. Sejujurnya ada rasa tidak enak hati kepada rekan peserta. Namun, jika tidak dilakukan, pasokan ASI bisa seret dan payudara membengkak seharian dengan rasa sakit luar biasa.

Inilah realitas yang jarang ditulis dalam buku parenting: menjadi ibu pekerja yang tetap menyusui penuh dengan perhitungan matematika. Setiap hari kepala kita dipenuhi angka: menghitung jam memompa, sisa stok ASI di kulkas, hingga waktu tersisa sebelum bisa pulang.

Ketika sore tiba dan saya sampai di rumah, Kakak langsung berlari memeluk sambil berseru, “Ibu lama sekali!” Di saat yang sama, Adik menangis karena seharian tidak bisa menyusu langsung. Saya memeluk keduanya erat-erat, meskipun di kepala masih tersisa pikiran tentang murid dan tugas sekolah.

Ada hari-hari ketika saya merasa gagal di kedua peran. Di sekolah, saya tidak bisa fokus 100% karena cemas memikirkan anak yang demam. Di rumah, kehadiran saya tidak bisa utuh 100% karena badan lelah dan pikiran masih tertinggal pada urusan siswa.

Di tengah rasa bersalah itu, saya belajar satu kalimat sederhana yang menjadi penyelamat jiwa: “Cukup itu sudah baik.”

Kalimat ini meredakan standar tinggi yang kita ciptakan sendiri. Hari ini ASI saya mungkin tidak banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Saya mungkin tidak lama menemani Kakak bermain sepeda, tapi sempat duduk di sampingnya menemani belajar persiapan sekolah besok—dan itu cukup. Rumah mungkin berantakan dan cucian menggunung, tapi anak-anak pulang dalam keadaan kenyang dan mendapat pelukan hangat—itu pun cukup.

Kita tidak perlu memaksakan diri menjadi ibu sempurna di segala lini. Anak-anak hanya membutuhkan ibu yang pulang ke rumah, ada dan hadir bersama mereka, serta tetap memiliki kewarasan.

Pilar utama yang menyelamatkan kesehatan mental dan fisik saya adalah support system. Suami mau bergantian menjaga bayi saat saya mengurus kebutuhan Kakak. Ibu saya membantu pekerjaan rumah dan menenangkan bayi yang rewel. Rekan-rekan guru memberikan ruang toleransi saat saya harus izin memompa ASI atau mengurus keperluan mendesak.

Di samping bantuan orang lain, memberi ruang bagi diri sendiri untuk melakukan me time juga menjadi kunci penting agar kewarasan tetap terjaga. Tidak perlu mewah—cukup bermain game sebentar di ponsel, menonton drama Korea kesukaan, atau jalan-jalan mencari jajanan sore bersama Si Kakak.

Pada akhirnya, menjadi ibu dari dua anak, menjadi ibu menyusui, sekaligus menjadi ibu pekerja itu bukanlah ajang kuat-kuatan atau membuktikan siapa paling tangguh. Ada hari ketika saya menangis sendirian di kamar mandi karena merindukan anak-anak saat bekerja. Ada pula hari ketika saya menangis di rumah karena rindu pada diri saya sebelum memiliki banyak tanggung jawab.

Namun, setiap malam kedua anak tertidur di sisi kiri dan kanan saya—yang satu masih menyusu dan yang lain memeluk tangan saya—saya menyadari satu hal. Semua rasa lelah ini kelak akan usai. Masa menyusui penuh perjuangan akan selesai. Masa ketika mereka masih kecil dan bergantung penuh pada kita pun akan berlalu.

Nanti, ketika anak-anak dewasa, yang mereka ingat bukanlah banyaknya mililiter ASI di kulkas atau seberapa bersih rumah setiap hari. Yang melekat di ingatan mereka adalah kepastian sederhana: bahwa Ibunya selalu ada untuk mereka, dengan segala cukupnya.

Untukmu para ibu yang sedang berjuang di fase yang sama, peluk jauh dari saya. Ingatlah bahwa kamu tidak pernah berjalan sendirian, dan kamu sudah menjadi ibu yang sangat hebat, apa adanya. 

Editor : Arief M
Opini