Oleh: M Dirga
jurnalis dan pemerhati bola
Senin (5/10) malam, magis di Gelora Bung Karno baru saja usai. Kutukan puluhan tahun itu akhirnya pecah. Indonesia juara ASEAN Cup 2026 setelah mengandaskan perlawanan "Raja Terakhir" Thailand lewat drama adu penalti, menyusul hasil imbang tanpa lelah selama 120 menit. Jutaan suporter berpesta, eforia tumpah ruah merayakan pecahnya telur juara.
Saat Kevin Diks mengangkat trofi, pikiran saya sibuk ke masa lalu. Medio 2004, Indonesia dilanda demam Timnas. Gaungnya tidak seberapa, tapi bagi saya itu adalah momentum pertama berkenalan dengan Timnas Indonesia. Tim Garuda yang kala itu ditopang sejumlah bintang seperti Ilham Jaya Kesuma, Ponaryo Astaman, Kurniawan Dwi Yulianto, hingga Boaz Solossa lolos ke final. Sayang, turnamen itu menjadi ajang antiklimaks bagi Timnas. Indonesia kalah dalam dua leg. Striker Singapura, Agu Casmir tampil sebagai pembeda.
Agu Casmir merupakan pemain naturalisasi Singapura. Sebelumnya, ia berpaspor Nigeria. Penyerang yang 'hampir' gabung dengan Persija selepas turnamen itu adalah orang pertama yang membuat saya kenal dengan kata naturalisasi.
Pikiran polos saya saat menginjak bangku SMP kala itu berandai-andai, bagaimana rupa permainan Timnas jika ada pemain naturalisasi didalamnya? Sejauh apa kepak Garuda akan terbang tinggi?
Tapi dari multiple tabloid yang saya baca kala itu (Soccer, Bola, dan Go), Nurdin Halid dan para petinggi di PSSI keukeuh tidak mau. Entah apa alasannya, saya tidak tertarik.
Seiring berjalannya waktu, mereka (atau mungkin suksesornya) luluh juga. Mungkin karena merasa sudah saatnya harus melakukan naturalisasi, atau karena alasan lain. Entahlah. Apapun motifnya, sekali lagi saya tidak tertarik.
Kehadiran El Loco Gonzales pada Piala AFF 2010 menandai era baru pemain naturalisasi di Timnas Indonesia. Kidal asal Uruguay itu layak disebut pelopor. Tampil impresif sepanjang turnamen, membuat semua sepakat bahwa program ini sukses dan layak dilanjutkan. Bayangkan jika waktu itu Gonzales melempem, bisa-bisa jadi pro kontra di publik. Bisa jadi.
Gonzales hadir di saat yang tepat. Andai yang memulai estafet adalah Tonnie Cussel, Ruben Wuarbanaran, atau Johnny van Beukering, bisa jadi proyek naturalisasi itu langsung 'bungkus'. Karena, itulah yang terjadi pasca era Gonzales. Suksesornya gagal memenuhi ekspektasi. Yang agak lumayan, mungkin cuma Igbonefo dan Maitimo. Selain itu, jauh panggang dari api.
Kiprah pemain naturalisasi di Timnas berlanjut di era Luis Milla. Beto dan Lilipaly muncul ke permukaan, ditengah mulai maraknya permohonan pindah warga negara. Keduanya boleh dibilang sukses, sebab Indonesia berhasil menapak 16 besar Asian Games 2018. Meski terdengar kurang prestisius, tapi permainannya saat itu memang sangat memikat dan pantas disebut "sukses" secara performa.
Ada fenomena menarik yang saya capture di masa itu. Regulasi Liga 2 mewajibkan seluruh peserta memakai jasa pemain lokal. Alhasil, pemain asing berusia diatas 30 tahun yang sadar diri tidak mampu bersaing di kasta teratas, berbondong-bondong mengajukan permohonan naturalisasi, sebagai akal-akalan agar tetap bisa bermain di Indonesia.
Fase pragmatis dan terkesan serampangan itu untungnya perlahan terkikis saat tongkat estafet kepelatihan jatuh ke tangan Shin Tae-yong, yang kemudian diakselerasi besar-besaran oleh Erick Thohir.
Definisi naturalisasi dirombak total. PSSI tidak lagi memungut pemain asing uzur yang kebetulan lama mencari nafkah di Liga 1. Fokusnya kini bergeser pada para diaspora (pemain keturunan berdarah Indonesia) yang lahir, tumbuh, dan terdidik di sistem sepak bola Eropa.
Hasilnya? Fantastis. Nama-nama seperti Ole Romeny, Thom Haye, hingga Calvin Verdonk tak sekadar mendongkrak performa, tapi menaikkan level Timnas ke kasta yang belum pernah kita sentuh sebelumnya. Khayalan masa SMP saya akhirnya terjawab. Saya melihat Garuda benar-benar terbang tinggi.
Tapi mengapa sekarang rasanya berbeda? Di tengah ingar-bingar pesta juara ASEAN Cup malam itu, entah mengapa euforianya terasa hambar bagi saya. Ada ruang kosong di dada.
Mengapa saya justru merindukan masa-masa melihat liukan Budi Sudarsono dan Elie Aiboy yang bikin senyum-senyum sendiri di Piala Asia 2007? Atau kesan murni saat melihat tangis haru generasi Evan Dimas di tahun 2013? Padahal secara apapun, perbandingannya tentu tidak apple to apple.
Kesimpulan saya sederhana, kebanggaan ini kehilangan akarnya. Dulu, meski hancur di fase grup atau mentok menjadi spesialis runner-up, pemain-pemain itu adalah representasi murni dari tanah kita. Dari Sabang sampai Merauke. Mereka lahir, tumbuh, dan berdarah-darah meniti karier di kompetisi lokal. Mereka wakil kita!
Sebagai catatan, saya bukanlah orang yang kaku dan anti-naturalisasi. Menyisipkan satu atau dua pemain untuk menambal tim tentu sah-sah saja. Tapi ketika melihat perjalanan ASEAN Cup kemarin, di mana seluruh starting line-up di setiap pertandingan murni diisi oleh barisan diaspora, batas antara "bantuan" dan "ketergantungan absolut" telah hancur lebur. Visualnya lebih menyerupai klub Eropa yang sedang tur pramusim ke Asia Tenggara ketimbang produk dari rahim persepakbolaan kita sendiri.
Saya sepakat dengan narasi bahwa kondisi ini idealnya menjadi cambuk bagi pemain lokal untuk menaikkan level. Toh, nama-nama seperti Rizky Ridho, Nadeo Argawinata, hingga Egy Maulana Vikri buktinya masih sanggup menyempil di kedalaman skuad. Namun, ada kekhawatiran tipis yang mengusik. Jika standar starting line-up kini ditarik setinggi langit Eropa, sementara ekosistem liga tempat anak-anak kita ditempa masih berkutat di lumpur yang sama, akankah mereka benar-benar mampu bersaing? Atau kelak mereka hanya akan layu sebelum berkembang, dan sadar bahwa mimpi mengenakan jersey timnasnya sendiri perlahan menjadi kemewahan yang sulit dijangkau?
Gelar juara ASEAN Cup ini seolah menjadi obat penahan sakit (painkiller) berdosis tinggi. Lewat jalan pintas ini, federasi sukses "memborong" produk jadi hasil tempaan akademi asing. Namun sayangnya, painkiller itu sama sekali tidak menyembuhkan penyakit kronis yang menggerogoti tubuh di dalamnya. Di balik kilau trofi ini, tercium bau anyir dari sistem pembinaan usia dini yang mandek dan karut-marut kompetisi lokal yang (katanya) sedang dibenahi.
Hari ini Garuda memang juara, mengepakkan sayapnya gagah menembus awan. Namun, jauh di lubuk hati, kita tahu. Saat ini kita sedang terbang meminjam sayap orang lain.... (*)
Editor : Arief M