Oleh: Ni’mah,S.Sos.,M.Sosio
Dosen Sosiologi, Universitas Lambung Mangkurat
Kalimat “pakai uang kamu dulu ya, nanti diganti” mungkin terdengar sederhana. Di tempat kerja, kalimat semacam ini bahkan bisa dianggap bagian dari solidaritas: ada kebutuhan yang harus segera dibayar, sementara uang organisasi atau kantor belum tersedia. Tidak ada ancaman, tidak ada perintah tertulis, dan mungkin uang tersebut benar-benar akan diganti. Karena itu, kita cenderung menganggapnya sebagai hal biasa.
Namun, justru pada hal-hal yang dianggap biasa itulah sosiologi mengajak kita berhenti sejenak. Sesuatu yang sering dilakukan belum tentu sesuatu yang seharusnya dinormalisasi. Pertanyaannya bukan semata-mata siapa yang membayar atau berapa jumlah uangnya, melainkan bagaimana sebuah kebiasaan terbentuk, siapa yang paling mudah diminta melakukannya, dan apakah orang yang diminta benar-benar merasa bebas untuk mengatakan tidak.
Dalam hubungan kerja, posisi seseorang tidak selalu setara. Ada senior dan junior, atasan dan bawahan, orang lama dan orang baru. Relasi tersebut tidak otomatis buruk. Bahkan dalam banyak situasi, senioritas dapat menjadi sumber pengalaman, bimbingan, dan solidaritas. Masalah muncul ketika perbedaan posisi membuat satu pihak merasa lebih berhak meminta, sementara pihak lain merasa harus mengiyakan agar tidak dianggap tidak kooperatif.Di sinilah tekanan sosial bekerja dengan cara yang halus. Tidak perlu ada kalimat “kamu harus”. Cukup dengan suasana yang membuat seseorang berpikir, “Masa saya tidak mau membantu?” atau “Nanti saya dianggap tidak solid.” Pilihan untuk mengatakan tidak memang secara formal masih ada, tetapi secara sosial pilihan itu bisa terasa mahal.
Dalam bahasa sosiologi, kita bisa melihatnya sebagai proses normalisasi. Sebuah tindakan yang berulang, diterima, dan jarang dipertanyakan lama-kelamaan berubah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Ketika dilakukan oleh junior kepada senior, misalnya, tindakan tersebut dapat memperoleh pembenaran melalui norma tidak tertulis: yang muda membantu yang lebih tua, anggota baru harus menunjukkan loyalitas, atau orang yang dianggap “satu tim” seharusnya tidak banyak menolak.
Padahal, solidaritas dan tekanan sosial bukan hal yang sama. Solidaritas lahir ketika seseorang membantu karena memiliki kemauan dan kesadaran untuk membantu. Tekanan sosial muncul ketika seseorang merasa perlu mengikuti harapan kelompok karena khawatir akan konsekuensi hubungan sosialnya. Batas di antara keduanya memang tidak selalu tegas. Karena itu, yang penting bukan buru-buru memberi label salah atau benar, melainkan membuka ruang untuk mempertanyakannya.
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pekerja merasa aman untuk berkata tidak? Di sinilah konsep psychological safety menjadi relevan. Amy Edmondson menjelaskan psychological safety sebagai kondisi ketika anggota kelompok merasa aman untuk menyampaikan pertanyaan, kekhawatiran, gagasan, atau kesalahan tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Dalam hubungan yang hierarkis, rasa aman semacam ini menjadi penting karena orang yang berada di posisi lebih rendah dapat menahan suara mereka ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki otoritas.
Temuan di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan rasa aman di tempat kerja bukan isu yang sepenuhnya kecil. Survei ILO bersama Never Okay Project pada 2022, yang melibatkan 1.173 responden dari berbagai sektor di Indonesia, menemukan 70,93 persen responden pernah mengalami atau menjadi korban setidaknya satu bentuk kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Dari para korban, kekerasan dan pelecehan psikologis merupakan bentuk yang paling sering dilaporkan, yakni 77,40 persen. Data ini tentu tidak berarti bahwa meminta junior memakai uang pribadi otomatis merupakan kekerasan atau pelecehan. Namun, data tersebut mengingatkan bahwa pengalaman psikologis dan relasi sosial di tempat kerja layak diperhatikan, termasuk bagaimana orang merasa aman atau tidak aman ketika berhadapan dengan struktur kerja.
Karena itu, persoalan “pakai uang dulu” sebaiknya tidak dibesar-besarkan, tetapi juga tidak selalu disepelekan. Jika terjadi sesekali, transparan, ada persetujuan, dan penggantian dilakukan sesuai kesepakatan, ia bisa saja merupakan bentuk kerja sama biasa. Tetapi jika menjadi kebiasaan yang dibebankan kepada orang tertentu, terutama mereka yang sulit menolak karena posisi sosialnya, maka kita perlu melihat ada persoalan yang lebih besar: bagaimana organisasi membagi tanggung jawab dan bagaimana norma informal bekerja di dalamnya.
Mungkin sudah waktunya tempat kerja tidak hanya bertanya apakah sebuah pekerjaan selesai, tetapi juga bagaimana pekerjaan itu diselesaikan. Apakah orang yang diminta membantu benar-benar bersedia? Apakah junior memiliki ruang untuk mengatakan tidak tanpa takut dicap tidak loyal? Apakah solidaritas masih merupakan pilihan, atau perlahan berubah menjadi kewajiban yang tidak pernah dibicarakan?
Sebab, dalam kehidupan sosial, sesuatu bisa menjadi normal hanya karena terlalu sering dilakukan. Tugas kita bukan mencurigai setiap kebiasaan, melainkan memiliki keberanian untuk bertanya ketika kebiasaan mulai membuat sebagian orang kehilangan ruang untuk memilih. Dari hal kecil seperti “pakai uang kamu dulu”, kita belajar bahwa tempat kerja bukan hanya ruang untuk menyelesaikan pekerjaan. Ia juga ruang sosial tempat kuasa, norma, solidaritas, dan rasa sungkan terus diproduksi setiap hari.
Yang biasa belum tentu bermasalah. Tetapi yang biasa juga belum tentu harus dibiarkan. Kadang-kadang, pertanyaan sederhana adalah awal dari perubahan: sebenarnya, apakah kita melakukan ini karena memang mau, atau karena merasa tidak punya pilihan? (*)