Asap Karhutla dan Bayi yang Belum Bisa Memilih

admin • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 12:15 WIB
Dr. Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes
Dr. Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes

Oleh: Dr. Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes
Dosen dan Peneliti
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Ketika asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti langit, perhatian publik biasanya tertuju pada jarak pandang, kualitas udara, sekolah yang diliburkan, atau warga yang mengalami batuk dan sesak napas. Pemerintah bergerak memadamkan api, masyarakat diminta menggunakan masker, sementara aplikasi kualitas udara menunjukkan angka yang terus berubah.

Namun, ada satu kelompok yang hampir tidak pernah ikut bersuara dalam percakapan itu: bayi yang masih berada di dalam kandungan.

Bayi tersebut tidak dapat memilih rumah yang lebih jauh dari sumber asap. Ia tidak dapat memilih memakai masker. Ia bahkan tidak dapat memilih udara yang masuk ke tubuh ibunya.

Ketika karhutla terjadi, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada “seberapa luas hutan terbakar?” atau “berapa tinggi indeks kualitas udara?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang terjadi pada ibu hamil dan janin ketika udara yang mereka hirup tercemar?

Asap bukan sekadar gangguan pernapasan

Asap karhutla bukan hanya kumpulan asap yang membuat mata perih. Ia merupakan campuran kompleks partikel dan gas. Salah satu komponennya yang menjadi perhatian besar adalah partikulat halus PM2.5, yang dapat masuk jauh ke paru-paru. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), partikulat dari asap kebakaran dapat mencapai aliran darah ibu hamil yang merupakan kelompok rentan terhadap dampak asap kebakaran.

Tubuh manusia bukan kumpulan organ yang bekerja sendiri-sendiri. Partikel polutan udara yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan respons inflamasi dan stres oksidatif yang berpotensi memengaruhi berbagai sistem organ termasuk Rahim ibu. Persoalan lebih serius terjadi ketika organ yang menjadi penghubung kehidupan ibu dan janin yaitu plasenta, terganggu fungsinya akibat paparan asap karhutla yang berisi milyaran partikulat jelaga.

Gangguan terhadap fungsi plasenta ini dapat berimplikasi pada perkembangan dan luaran kehamilan.

Ketika jelaga mencapai ruang kehidupan janin

Tahun 2010, saya melakukan penelitian eksperimental pada tikus bunting untuk melihat bagaimana paparan partikulat jelaga memengaruhi plasenta dan luaran kebuntingan. Penelitian tersebut kemudian dipublikasikan pada 2026 dengan judul Effect of Soot Particulate Exposure on Placental Malondialdehyde Levels, Placental Weight and Pregnancy Outcomes in Rats (Rattus norvegicus).

Dalam penelitian tersebut, tikus bunting dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok yang mendapatkan paparan partikulat jelaga sepanjang masa kebuntingan. Stres oksidatif pada plasenta dan luaran kebuntingan berupa berat plasenta, berat dan panjang fetus, jumlah fetus hidup, serta kematian intrauterine diamati.

Hasilnya patut menjadi perhatian.

Kadar MDA plasenta meningkat secara signifikan pada seluruh kelompok yang terpapar dibandingkan kelompok kontrol. Pada saat yang sama, kelompok yang terpapar menunjukkan penurunan berat plasenta, berat fetus, panjang fetus, dan jumlah fetus hidup, serta peningkatan kematian intrauterin. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa semakin besar dosis dan semakin lama durasi paparan, semakin buruk luaran kebuntingan pada tikus.

Apa artinya?

Tentu, kita tidak boleh serta-merta mengatakan bahwa hasil pada tikus pasti sama dengan yang terjadi pada ibu hamil manusia. Penelitian hewan adalah model eksperimental, bukan pengganti penelitian klinis manusia.

Penelitian eksperimental memberikan petunjuk biologis bahwa partikulat hasil pembakaran dapat berhubungan dengan stres oksidatif pada plasenta dan gangguan perkembangan kehamilan. Temuan ini sejalan dengan semakin banyaknya bukti epidemiologis mengenai paparan polusi udara dan kehamilan.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis mengenai paparan asap kebakaran selama kehamilan memberikan bukti yang mengarah pada peningkatan risiko penurunan berat lahir, berat lahir rendah, kelahiran prematur, dan beberapa luaran kesehatan lainnya, meskipun penulis menekankan adanya heterogenitas antarpenelitian dan masih dibutuhkan penelitian yang lebih kuat. Dengan kata lain, kita tidak sedang membicarakan kekhawatiran yang muncul dari ruang kosong.

Ironisnya, ketika kualitas udara memburuk, pesan perlindungan kesehatan sering kali masih bersifat umum: gunakan masker, kurangi aktivitas di luar rumah, tutup jendela, dan pantau kualitas udara. Sedangkan ibu hamil sebagai kelompok rentan di sana belum sepenuhnya diperhatikan.

Di sinilah kebijakan kesehatan perlu lebih tajam.

Pastikan ibu hamil telah memperoleh perlindungan optimal, karena di dalam rahimnya ada satu kehidupan yang belum bisa memilih bagaimana harus bersikap. Melindungi ibu hamil berarti melindungi dua kehidupan, saat ini dan masa depan. Maka perlindungannya harus menjadi bagian eksplisit dari respons bencana karhutla. Sistem peringatan kualitas udara harus mudah dipahami. Fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki protokol perlindungan kelompok rentan. Pelayanan antenatal perlu memasukkan edukasi mengenai paparan polusi udara ketika terjadi episode asap berat.

Pelayanan kesehatan jangan hanya menunggu ibu hamil datang dengan keluhan sesak napas. Pencegahan harus dimulai sebelum gejala muncul.

Jangan tunggu bayi lahir untuk bertanya

Kita sering baru berbicara tentang kesehatan bayi setelah bayi lahir: apakah berat badannya cukup, apakah prematur, apakah mengalami gangguan pernapasan, atau apakah membutuhkan perawatan intensif.

Padahal, sebagian perjalanan kesehatan itu dimulai jauh sebelum kelahiran.

Lingkungan intrauterin merupakan bagian penting dari kehidupan awal manusia. Jika lingkungan ibu selama kehamilan tercemar, maka kesehatan janin harus menjadi bagian dari perhitungan risiko.

WHO saat ini menempatkan ibu hamil dan anak sebagai kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam menghadapi dampak asap kebakaran. WHO juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini, komunikasi risiko, pelayanan kesehatan, serta penyediaan ruang dengan udara yang lebih bersih bagi kelompok rentan.

Ukuran keberhasilan penanganan karhutla tidak boleh hanya dihitung dari berapa hektare lahan yang berhasil dipadamkan. Kita juga perlu bertanya: berapa banyak ibu hamil yang terlindungi? Berapa banyak bayi yang terselamatkan dari paparan? Dan apakah pelayanan kesehatan kita siap ketika kualitas udara tiba-tiba memburuk?

Karhutla memang membakar vegetasi hari ini, sekaligus mengancam kehidupan yang jauh lebih panjang daripada usia api itu sendiri.

Bayi dalam kandungan belum bisa memilih, kitalah yang harus memilih untuk melindunginya. Bukan hanya dengan memadamkan api.

Tetapi juga dengan memastikan bahwa udara yang dihirup ibunya tidak menjadi awal dari risiko yang harus ia bawa sejak kehidupan dimulai. (*)

Editor : Arief M
karhutla bayi Opini