El Nino, Sorgum, dan Diversifikasi Pangan

admin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:29 WIB
Anton Kuswoyo
Anton Kuswoyo

Oleh: Dr. Ir. Anton Kuswoyo, S.Si., M.T., M.PT
Dosen Politeknik Negeri Tanah Laut,
Doktor Ilmu Nutrisi dan Pakan,
Alumni IPB

EL NINO mulai menunjukkan wajahnya. Musim kemarau terasa lebih panjang, sementara hujan yang dinanti tak kunjung datang. Di balik kondisi tersebut terdapat fenomena iklim yang secara ilmiah ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian Tengah dan Timur. Perubahan ini kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pola hujan, termasuk di Indonesia. Dampaknya nyata: curah hujan menurun, musim kering berlangsung lebih lama, dan ancaman keringan semakin besar. Bagi petani, situasi ini bukan sekadar persoalan cuaca, tetapi menyangkut keberlangsungan usaha tani dan ketahanan pangan kita.

Hujan yang tak kunjung datang selama lebih dari dua bulan membuat sebagian masyarakat harus berhadapan dengan berbagai persoalan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga ancaman gagal panen mulai menghantui kehidupan masyarakat.

Bagi petani, kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Ia dapat berubah menjadi bencana ekonomi. Sawah dan ladang yang selama ini menjadi tumpuan harapan tiba-tiba tidak mampu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Tanaman mengering, pertumbuhan terganggu, bahkan tidak sedikit yang berujung gagal panen.

Persoalannya, biaya produksi tetap harus dikeluarkan. Benih, pupuk, pestisida, pengolahan lahan, tenaga kerja, hingga biaya lainnya telah terlanjur dikeluarkan. Ketika panen gagal, petani tidak hanya kehilangan hasil produksi, tetapi juga kehilangan modal yang menjadi bekal untuk musim tanam berikutnya.

Fenomena seperti ini seharusnya menjadi alarm bahwa pola pertanian kita tidak bisa terus berjalan dengan cara yang sama. Perubahan iklim dan fenomena iklim ekstrem menuntut petani untuk beradaptasi. Kita tidak cukup hanya berharap hujan segera turun. Petani membutuhkan strategi baru agar tetap memproduksi ketika kondisi alam tidak bersahabat.

Menyesuaikan Kalender Tanam

Langkah pertama adalah melakukan penyesuaian kalender tanam.

Selama bertahun-tahun, petani memiliki kebiasaan menentukan waktu tanam berdasarkan pengalaman musim sebelumnya. Pengetahuan lokal tersebut tentu sangat berharga. Namun, ketika pola cuaca semakin sulit diprediksi, pengalaman masa lalu saja tidak selalu cukup.

Karena itu, informasi prakiraan cuaca perlu menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan petani. Kapan mulai mengolah lahan, kapan menanam, jenis tanaman yang dipilih, hingga kapan melakukan pemupukan perlu mempertimbangkan kondisi cuaca yang diperkirakan akan terjadi.

Dalam hal ini, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) seharusnya tidak berhenti sebagai informasi di media massa. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi rekomendasi yang mudah dipahami dan digunakan petani.

Penyuluh pertanian memiliki peran penting untuk menjembatani informasi tersebut. Petani tidak cukup diberi tahu bahwa musim kemarau akan lebih panjang. Mereka membutuhkan informasi yang lebih operasional: kapan waktu tanam yang relatif aman, tanaman apa yang sesuai, dan strategi apa yang perlu dilakukan ketika terjadi kekeringan.

Dengan demikian, kalender tanam tidak lagi bersifat statis, tetapi dinamis mengikuti perkembangan prakiraan iklim.

Jangan Bergantung pada Satu Komoditas

Langkah kedua yang tidak kalah penting adalah diversifikasi pangan.

Selama ini, perhatian terhadap tanaman pangan masih sangat kuat pada komoditas tertentu, terutama padi dan jagung. Keduanya memang memiliki posisi penting dalam sistem pangan nasional. Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap komoditas tertentu juga menyimpan risiko ketika kondisi iklim tidak mendukung.

Karena itu, sudah saatnya kita memberikan ruang lebih besar bagi tanaman pangan alternatif yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang lebih ekstrem. Salah satunya adalah sorgum.

Sorgum mungkin belum sepopuler padi atau jagung di kalangan masyarakat. Namun, tanaman ini memiliki karakter yang menarik untuk dikembangkan di tengah tantangan perubahan iklim. Sorgum relatif tahan terhadap kekeringan sehingga berpotensi menjadi salah satu alternatif tanaman pangan pada wilayah yang menghadapi keterbatasan air.

Pandangan tersebut bukan semata-mata berdasarkan teori. Dalam beberapa tahun terakhir, saya melakukan penelitian mengenai budidaya sorgum, termasuk pada lahan marginal dan lahan pascatambang. Dari pengalaman penelitian tersebut, terlihat bahwa sorgum memiliki kemampuan bertahan pada kondisi lingkungan yang relatif kering.

Tentu saja, bukan berarti sorgum dapat menggantikan padi atau jagung secara keseluruhan. Diversifikasi pangan justru berarti kita tidak menggantungkan seluruh harapan pada satu atau dua komoditas. Ketika satu komoditas menghadapi risiko tinggi akibat kekeringan, komoditas lain yang lebih adaptif dapat menjadi pilihan.

Di sinilah diversifikasi pangan memiliki makna yang lebih luas. Diversifikasi bukan hanya mengganti makanan di atas meja makan, tetapi juga diversifikasi di tingkat produksi petani.

Petani perlu memiliki banyak pilihan tanaman yang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan iklim. Pemerintah pun perlu memberikan dukungan melalui penyediaan benih, pendampingan teknologi budidaya, akses pasar, hingga pengembangan industri pengolahan.

Sebab, tidak ada gunanya kita mendorong petani menanam sorgum atau komoditas alternatif lainnya jika setelah panen mereka kesulitan menjual hasilnya.

Air Harus Dipersiapkan

Langkah ketiga adalah memperkuat sumber air.

Ketika hujan tidak dapat diandalkan, maka sumber air alternatif harus dipersiapkan. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah pemanfaatan air tanah melalui pembangunan sumur bor.

Memang, pembangunan sumur bor membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, persoalan biaya tersebut dapat diatasi melalui pendekatan komunal. Petani dalam satu kelompok atau kawasan dapat membangun sumber air secara bersama-sama.

Dengan sistem seperti ini, satu sumur tidak harus dimiliki oleh satu petani. Sumber air dapat dikelola secara bersama dengan pembagian jadwal dan kebutuhan yang disepakati. Pemerintah daerah, kelompok tani, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial, maupun lembaga lainnya dapat mengambil peran dalam penyediaan infrastruktur tersebut.

Tentu pemanfaatan air tanah juga harus dilakukan secara bijaksana. Pengeboran tidak boleh dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi hidrogeologi dan kelanjutan sumber air. Karena itu, pembangunan sumur bor harus disertai perencanaan, pengaturan penggunaan, serta pengawasan agar solusi menghadapi kekeringan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Jangan Menunggu Bencana

El Nino dan perubahan iklim mengajarkan satu hal penting: pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada kondisi normal.

Ketika cuaca ekstrem semakin sering terjadi, strategi pertanian juga harus berubah. Petani perlu dibekali informasi iklim yang akurat, pilihan komoditas yang beragam, teknologi budidaya yang adaptif, serta infrastruktur air yang memadai.

Pemerintah juga perlu mengubah pendekatan dari sekadar merespons ketika kekeringan sudah terjadi menjadi membangun kesiapsiagaan sebelum musim ekstrem datang.

Kita tidak boleh menunggu sawah mengering baru mencari air. Tidak boleh menunggu tanaman mati baru mencari solusi. Dan tidak seharusnya menunggu petani gagal panen baru berbicara tentang diversifikasi pangan.

El Nino mungkin merupakan fenomena alam yang tidak dapat kita kendalikan. Tetapi dampaknya dapat kita kurangi melalui kesiapan dan strategi yang tepat.

Petani harus beradaptasi. Kalender tanam harus mengikuti informasi iklim. Sumber air harus dipersiapkan. Pilihan komoditas harus diperluas.

Sorgum mungkin bukan satu-satunya jawaban. Tetap ia adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.

Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan yang mampu kita produksi pada musim yang baik. Ketahanan pangan justru diuji ketika musim buruk datang.

Karena itu, ketika El Nino datang membawa kekeringan, jangan biarkan petani berjalan dengan cara lama. Saatnya berteman dengan membaca iklim, mengelola air, dan memperbanyak pilihan tanaman pangan.

Editor : Arief M
Opini