Oleh: R. K. Ariyandi
Praktisi Perbankan di Banjarmasin.
Apa yang sebenarnya kita cari ketika datang ke Banjarmasin?
Jawabannya berbeda bagi setiap orang. Ada yang mencari penghidupan, pendidikan, pengobatan, atau keluarga. Ada pula yang ingin menikmati soto Banjar, menyusuri sungai, duduk di warung kopi, atau pulang kepada suasana yang dirindukan.
Di Banjarmasin, banyak hal tumbuh berdekatan. Sungai bertemu jalan kota. Pasar lama berdampingan dengan pusat perdagangan modern. Masjid, kampus, rumah sakit, kuliner, usaha kecil, dan teknologi hadir dalam keseharian yang sama.
Bagi mereka yang lahir dan besar di sini, semuanya mungkin terasa biasa. Namun, ketika Banjarmasin genap berusia lima abad pada 24 September 2026, keseharian itu layak dipandang berbeda. Lima abad adalah perjalanan kota yang bertahan, berubah, dan terus memberi ruang bagi manusia di dalamnya.
Hari Jadi Kota Banjarmasin merujuk pada 24 September 1526, ketika Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Sejak masa awal Banjarmasih, kehidupan kota mempertemukan pemerintahan, perdagangan, keagamaan, dan sungai. Pasar, masjid, keraton, serta aktivitas syahbandar tumbuh dalam ruang yang saling berhubungan.
Lima abad kemudian, bentuk perjumpaan itu berubah. Jalan darat semakin dominan, transaksi beralih ke ruang digital, pusat aktivitas bertambah, dan generasi baru tumbuh dengan kebiasaan berbeda. Kendati begitu, Banjarmasin tetap menjadi tempat orang datang, bertemu, bekerja, belajar, berusaha, lalu membangun kehidupan.
Mungkin di situlah kalimat “Semua Ada di Sini” menemukan maknanya. Bukan berarti Banjarmasin memiliki segalanya secara harfiah, melainkan banyak lapisan kehidupan bertemu di kota ini: sejarah dan modernitas, sungai dan daratan, perdagangan dan budaya, tradisi dan harapan masa depan.
Banjarmasin terus bertransformasi melalui pembangunan infrastruktur, ruang publik, digitalisasi layanan, serta transportasi yang perlahan lebih terhubung. Dalam wilayah sekitar 98 kilometer persegi, lebih dari 680 ribu penduduk menjalani aktivitas. Pertumbuhan ekonomi kota pada 2025 berada di kisaran 5,66 persen. Namun, angka hanya menceritakan sebagian kecil kehidupan kota.
Di baliknya ada pedagang, pekerja, guru, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, mahasiswa, serta anak muda yang membangun karya dan bisnis melalui teknologi. Kota hidup karena manusia menaruh harapan di dalamnya.
Modernisasi tidak serta-merta menghilangkan wajah lokal Banjarmasin. Sungai tetap menjadi identitas. Sasirangan dikenakan, kuliner Banjar dicari, pasar tradisional berdenyut, dan kehidupan religius dekat dengan keseharian. Banjarmasin boleh berubah wajah, tetapi tidak harus kehilangan jati diri.
Hubungan kota ini dengan sungai menjadi contoh nyata. Julukan Kota Seribu Sungai tidak seharusnya berhenti sebagai identitas wisata. Dahulu sungai menjadi jalur utama perdagangan dan transportasi. Hari ini perannya dapat berkembang dalam pariwisata, ruang publik, ekonomi, lingkungan, dan mobilitas. Gedung dapat ditemukan di banyak kota, tetapi hubungan panjang masyarakat Banjarmasin dengan sungainya tidak mudah ditiru. Modernitas tidak seharusnya menjauhkan Banjarmasin dari sungai.
Hal lain yang membuat saya bangga menjadi warga Banjarmasin adalah kehidupan bersama di tengah keberagaman. Orang dengan keyakinan dan latar belakang berbeda bertemu di tempat tinggal, pasar, sekolah, kampus, tempat kerja, dan ruang publik. Kita mungkin menganggapnya biasa. Padahal, rasa aman untuk hidup berdampingan adalah salah satu kekayaan terpenting kota.
Kebanggaan itu tidak berarti menutup mata terhadap sejarah. Banjarmasin pernah mengalami Jumat Kelabu pada 23 Mei 1997. Kerusuhan saat kampanye Pemilu 1997 itu menelan banyak korban dan meninggalkan luka mendalam. Mengingatnya bukan untuk membuka luka, melainkan sebagai pengingat bahwa kerukunan tidak datang dengan sendirinya. Kerukunan perlu dirawat.
Sebuah kota dapat membangun jalan, gedung, taman, dan pusat ekonomi. Namun, semua itu kehilangan sebagian maknanya jika masyarakat tidak merasa aman hidup bersama. Di sinilah gagasan kota layak huni menjadi relevan.
Kota layak huni bukan sekadar kota dengan banyak fasilitas, tetapi kota yang membuat kehidupan masyarakat lebih baik: orang mudah bergerak, memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan, berkesempatan bekerja dan berusaha, menikmati ruang publik, hidup dalam lingkungan terjaga, serta aman dalam perbedaan.
Dengan cara pandang itu, “Semua Ada di Sini” tidak cukup menjadi ungkapan kebanggaan. Sungai, pariwisata, kuliner, UMKM, teknologi, ruang publik, dan pendidikan perlu dihubungkan sebagai satu ekosistem yang bermanfaat bagi masyarakat. Kota tidak selalu maju karena menambah sesuatu yang baru. Kadang kemajuan muncul ketika kota memberi nilai lebih besar kepada apa yang dimilikinya.
Generasi muda boleh belajar ke mana saja dan bekerja sejauh mungkin. Namun, Banjarmasin perlu memberi alasan untuk pulang: ruang untuk berkarya, berusaha, membangun keluarga, atau membawa kembali pengetahuan dan pengalaman. Masa depan kota turut ditentukan oleh apakah mereka merasa mempunyai tempat di Banjarmasin.
Semangat itu sejalan dengan tema Hari Jadi ke-500, “Lima Abad Kami Kawa Gawi Sabumi Banjarmasin Maju Sejahtera.” Kawa gawi sabumi membawa pesan sederhana: masa depan kota tidak dibangun sendiri-sendiri. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, UMKM, komunitas, generasi muda, dan masyarakat memiliki ruang kontribusi masing-masing. Tidak harus melakukan hal yang sama, tetapi arah yang dituju mesti sama.
Di situlah kawa gawi sabumi bertemu dengan filosofi yang sudah lama melekat pada Banjarmasin: Kayuh Baimbai. Sebuah perahu akan sulit mencapai tujuan jika setiap orang mendayung ke arah berbeda. Kota pun demikian.
Kembali pada pertanyaan di awal: apa yang kita cari ketika datang ke Banjarmasin? Jawabannya mungkin tetap berbeda: penghidupan, keluarga, pendidikan dan kesempatan, atau rasa masakan, suara sungai, percakapan di warung kopi, dan perasaan ketika akhirnya sampai di rumah.
Bagi saya, di situlah Banjarmasin menemukan maknanya. Kota ini tidak perlu memiliki segalanya untuk membuat kita berkata, “Semua Ada di Sini.” Yang jauh lebih penting adalah memastikan apa yang ada tetap berarti bagi manusia yang hidup di dalamnya.
Lima abad telah membawa Banjarmasin sampai sejauh ini. Kita mewarisi sejarahnya, menikmati kemajuannya, belajar dari lukanya, dan hidup di tengah perubahan. Sekarang giliran kita memegang dayungnya.
Banjarmasin boleh semakin modern. Namun, sungainya perlu dijaga, kearifan lokalnya tetap hidup, kerukunannya terus dirawat, dan setiap kemajuan hendaknya bermuara pada kualitas hidup masyarakat. Sebab, kota bukan sekadar tempat kita tinggal. Kota adalah tempat kita menaruh harapan.
Untuk perjalanan Banjarmasin setelah lima abad, semangatnya sudah kita miliki: Kawa Gawi Sabumi, tetap Kayuh Baimbai. (*)
Editor : Arief M