Mindfulness di Tengah Asap Karhutla

admin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 12:22 WIB
Raisya Nursyahbani
Raisya Nursyahbani

Oleh: Raisya Nursyahbani
Perencana pada BPBD Kabupaten Kotabaru

Di tengah derasnya berita buruk di media sosial, kita membutuhkan mindfulness bukan untuk melarikan diri dari realitas. Sebaliknya, mindfulness adalah cara merespons dunia dengan lebih sadar.

Kita sedang minum kopi, membuka Instagram, lalu tiba-tiba melihat video kebakaran hutan. Di TikTok muncul kabar tentang asap, di X muncul perdebatan, dan di WhatsApp beredar video yang belum jelas kapan dan di mana direkam.

Belum sempat memahami satu berita, datang berita berikutnya. Berita buruk tidak lagi mengetuk pintu. Ia masuk langsung ke layar ponsel.

Tidak mengherankan jika mindfulness semakin populer. Istilah ini kembali ramai setelah Maudy Ayunda membahas “Mindfulness in the Age of Bad News”, tentang cara menghadapi arus informasi negatif di era digital. Perdebatan pun berkembang: apakah setiap orang benar-benar punya pilihan untuk menjauh dari berita buruk?

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika dibawa ke persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bagi sebagian orang, karhutla hanya headline atau video singkat. Namun bagi warga di daerah terdampak, asap adalah realitas sehari-hari.

Ketika bencana menjadi konten

Di era media sosial, kepulan asap bisa direkam warga dan dalam hitungan menit menyebar melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, atau X. Informasi yang dahulu butuh waktu berjam-jam kini diketahui hampir secara real time.

Masyarakat bisa menjadi sumber informasi awal. Laporan tentang asap atau dugaan titik api dapat mempercepat kewaspadaan dan koordinasi. Namun kecepatan membawa risiko. Video lama bisa dianggap sebagai kejadian baru, lokasi keliru, dan narasi berkembang tanpa verifikasi. Karena itu, kecepatan tidak boleh dipisahkan dari ketepatan.

Di sinilah mindfulness relevan: berhenti sejenak sebelum bereaksi. Melihat video kebakaran tidak harus langsung berarti membagikannya. Kita bisa bertanya: Di mana kejadiannya? Kapan terjadi? Apakah sudah ada informasi resmi?

Di tengah budaya “share dulu, verifikasi kemudian”, kemampuan berhenti sejenak menjadi sangat penting.

Karhutla bukan sekadar masalah lingkungan

Karhutla bukan hanya masalah lingkungan. Dampaknya menyentuh kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi, kualitas udara, ketersediaan air, hingga kehidupan sosial.

Kondisi saat ini menunjukkan persoalan tersebut masih relevan. BMKG pada 14 September 2026 mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 wilayah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari berturut-turut, termasuk Kalimantan bagian selatan. Pada 13 September, terdapat 627 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan. BMKG juga menyatakan pengaruh El Niño masih sangat kuat dan diprakirakan bertahan hingga awal 2027 (BMKG).

Di balik angka hotspot, ada lingkungan yang berisiko terbakar. Di balik kabut asap, ada masyarakat yang menghirup udara dengan kualitas menurun dan menjalani aktivitas yang terganggu.

Kita tidak mungkin menyerap semua persoalan dunia setiap hari tanpa merasa lelah. Bencana, konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim, dan persoalan sosial datang silih berganti melalui layar. Kita boleh menjaga mental, tetapi jangan kehilangan kepedulian.

Kita boleh log out, mematikan notifikasi, dan menjaga kesehatan mental. Namun mengambil jeda dari informasi tidak sama dengan berhenti peduli. Tidak semua orang bisa disconnect dari bencana.

Bagi warga di kawasan terdampak karhutla, asap tidak bisa di-mute. Bagi petugas di lapangan, kebakaran tidak bisa di-scroll. Bagi keluarga yang aktivitasnya terganggu, karhutla bukan topik yang bisa ditutup dengan menekan tombol close.

Mindfulness tidak seharusnya berhenti pada cara menjaga diri dari bad news, tetapi juga bagaimana tetap waras tanpa menjadi apatis: dari doomscrolling menuju disaster awareness.

Generasi digital mudah mendapatkan informasi bencana, tetapi ekosistem media sosial membuatnya terlihat seperti konten biasa. Berita kebakaran muncul di antara video makanan, musik, komedi, dan lifestyle. Bencana berisiko hanya kita lihat, komentari, lalu lupakan. Di sinilah mindfulness bertemu dengan literasi kebencanaan.

Ketika melihat video karhutla, kita dapat mengubah respons: dari “Wah, viral” menjadi “Apa sebenarnya yang terjadi?”; dari “Serem banget” menjadi “Apakah informasi ini benar?”; dan dari “Kasihan” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan?” Kesadaran seperti inilah yang menjadi dasar perilaku masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

BPBD tidak bisa bekerja sendiri. Persoalan karhutla terlalu besar jika hanya dibebankan kepada satu lembaga. Pemerintah daerah, masyarakat, aparat, dunia usaha, relawan, sektor kesehatan, lingkungan hidup, kehutanan, media, bahkan pengguna media sosial memiliki peran masing-masing.

Tidak membakar sembarangan adalah pencegahan. Melaporkan indikasi kebakaran melalui kanal yang tepat adalah partisipasi. Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi adalah tanggung jawab.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat kesiapsiagaan, termasuk meningkatkan pemantauan dan melaporkan indikasi kebakaran (BMKG). Masyarakat bukan sekadar objek yang dilindungi, melainkan bagian dari sistem kebencanaan.

Mindfulness yang tidak berhenti di diri sendiri

Sudah waktunya memperluas makna mindfulness. Ia bukan hanya tentang mengatur napas, journaling, digital detox, atau menjauh dari berita buruk. Dalam konteks lingkungan, mindfulness berarti sadar sebelum membakar, ketika melihat asap, sebelum membagikan informasi, dan ketika menerima berita yang belum terverifikasi.

Keputusan kecil dapat memengaruhi orang lain. Lingkungan bukan sekadar latar belakang kehidupan. Kita tinggal di dalamnya, menghirup udaranya, dan bergantung pada ekosistemnya. Ketika lingkungan terganggu, manusia pula yang merasakan dampaknya.

Boleh pause, jangan apatis

Bagaimana tetap peduli tanpa kehilangan diri sendiri? Kita tidak harus mengikuti setiap berita atau merasa bersalah karena beristirahat. Namun jeda seharusnya memberi kesempatan untuk kembali dengan kesadaran yang lebih baik, bukan menjadi alasan untuk tidak peduli.

Begitu pula dengan karhutla. Kita tidak harus hidup dalam kecemasan setiap kali melihat berita kebakaran. Namun kita juga tidak boleh begitu terbiasa melihat asap sehingga menganggapnya normal. Boleh pause dari timeline. Jangan pause dari kepedulian. Karhutla tidak akan berhenti hanya karena kita berhenti melihat beritanya.

Inilah mindfulness yang relevan untuk zaman kita: sadar terhadap apa yang terjadi di dalam diri dan di sekitar. Pencegahan bencana bisa dimulai jauh sebelum api membesar, dari keputusan untuk tidak membakar, informasi yang diverifikasi, dan laporan yang disampaikan.

Mindfulness boleh dimulai dari diri sendiri. Namun kepedulian tidak harus berhenti di sana. Di tengah ancaman karhutla, bentuk mindfulness yang paling nyata adalah sadar sebelum api menyala. (*)

Editor : Arief M
Opini