Sikap BI Terhadap Efek Domino Keputusan The Fed

admin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 20:43 WIB
Rahma Sugihartati
Rahma Sugihartati
 

Oleh: Rahma Sugihartati
Guru Besar Sains Informasi FISIP Universitas Airlangga

Era suku bunga tinggi tampaknya bakal lama diberlakukan di Indonesia. Di tengah tekanan pelemahan rupiah yang belum juga tertangani, Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), Kamis kemarin memutuskan menaikkan 25 basis poin suku bunga acuan menjadi 3,75-4 persen. Ada kemungkinan Fed Rate yang menjadi acuan pasar keuangan global akan naik lagi dalam beberapa bulan ke depan pada 2026.

Sepanjang The Fed mempertahankan, apalagi menaikkan suku bunga, sulit bagi Bank Indonesia mempertahankan, terlebih menurunkan suku bunga acuan. BI dan pemerintah telah menyadari bahwa imbas keputusan The Fed pasti mengguncang dunia. Dampaknya tidak hanya terasa di Washington atau New York. Gelombang kejutnya menjalar seketika ke seluruh pasar keuangan global, menembus batas negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi BI, setiap keputusan The Fed adalah alarm yang menuntut respons cepat, terukur, dan penuh kalkulasi. Di sinilah integritas, independensi, dan ketajaman ramuan kebijakan moneter BI benar-benar diuji. Dibutuhkan keputusan yang bijaksana dan tepat untuk merespons imbas kebijakan The Fed yang menjalar ke seluruh dunia.

Dilematis

Sebagai pemegang otoritas moneter tertinggi di Tanah Air, BI dihadapkan pada dilema klasik: ikut menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas rupiah atau menahannya demi merawat momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Di persimpangan ini, BI tidak boleh sekadar menjadi pengikut yang reaktif. BI harus bertindak sebagai dirigen yang piawai, tahu kapan mempercepat tempo dan kapan memperlambatnya agar ekonomi nasional mampu bertahan, bukan malah kolaps.

Kalau belajar dari pengalaman, ada kecenderungan kuat bank sentral di negara berkembang langsung mengikuti keputusan The Fed. Logikanya sederhana: jika suku bunga AS naik, selisih imbal hasil (yield spread) antara aset keuangan AS dan Indonesia menyempit. Jika BI tidak ikut menaikkan BI Rate, investor asing dikhawatirkan menarik modal dari pasar domestik (capital outflow) untuk memburu imbal hasil yang lebih aman dan tinggi di AS.

Ketika arus modal keluar tinggi, cadangan devisa turun, nilai tukar rupiah melemah, dan inflasi barang impor (imported inflation) berpotensi meningkat. Inilah tantangan terberat yang harus dikalkulasi BI sebelum menentukan langkah.

Namun, menyikapi kenaikan suku bunga The Fed dengan cara "asal ikut naik" adalah strategi berisiko. Kondisi ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat berbeda sehingga kebijakan yang sama belum tentu menghasilkan dampak serupa. AS menaikkan suku bunga untuk meredam ekonomi yang terlalu panas (overheating) akibat pasar tenaga kerja yang ketat. Sementara itu, Indonesia masih merangkak pulih dari kelesuan daya beli atau konsumsi rumah tangga.

Jika BI menaikkan suku bunga acuan terlalu agresif hanya demi membendung arus modal keluar, ongkos bagi sektor ekonomi riil sangat mahal. Suku bunga kredit perbankan biasanya ikut melonjak, membuat pelaku usaha menahan ekspansi dan masyarakat mengerem kredit konsumsi seperti KPR atau kredit kendaraan. Akibatnya, roda ekonomi melambat, pertumbuhan stagnan, dan pengangguran berisiko meningkat. BI tidak boleh mengorbankan pertumbuhan domestik yang sehat hanya demi memenuhi ekspektasi jangka pendek pelaku pasar modal.

Inilah kondisi dilematis yang dihadapi BI dalam menyikapi keputusan The Fed. Ibarat berdiri di persimpangan jalan, setiap pilihan sama-sama berisiko. Hanya dengan pertimbangan matang situasi dilematis itu dapat diatasi, atau setidaknya dampak merugikannya dapat dikurangi.

Menyikapi Keputusan The Fed

Satu hal yang harus dipegang teguh BI: keputusan dan kebijakan moneter harus didukung data yang valid, bukan didikte sentimen eksternal. Sebelum memutuskan apakah suku bunga acuan dinaikkan, dipertahankan, atau diturunkan, BI wajib membedah anatomi inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Pertama, BI harus menimbang potensi inflasi. Jika kenaikan inflasi domestik murni disebabkan gangguan pasokan (supply shock), seperti kenaikan harga pangan akibat cuaca atau penyesuaian harga energi yang diatur pemerintah, menaikkan suku bunga acuan adalah obat salah alamat. Suku bunga tinggi tidak bisa menurunkan harga beras yang langka atau harga minyak dunia. Suku bunga baru layak dinaikkan jika inflasi inti, yang mencerminkan kekuatan permintaan masyarakat, meningkat secara persisten melampaui sasaran BI.

Kedua, BI harus memastikan kekuatan fundamental ekonomi. Indonesia masih boleh bernapas lega karena didukung surplus neraca perdagangan yang relatif konsisten berkat hilirisasi komoditas serta cadangan devisa yang cukup kuat. Walaupun ekonomi nasional belum pulih sepenuhnya, fondasi tersebut memberi rupiah daya tahan alami (natural buffer). BI tidak perlu panik berlebihan setiap kali pejabat The Fed mengeluarkan pernyataan bernada elang (hawkish).

Menyikapi keputusan The Fed bukanlah tentang siapa yang paling cepat menaikkan suku bunga, melainkan siapa yang paling piawai mengelola ketidakpastian. BI tidak boleh terjebak dalam kepanikan pasar global. BI harus tenang dan mengalkulasi setiap risiko yang dihadapi. Setiap keputusan harus mencerminkan kalkulasi matang yang menempatkan kepentingan ekonomi nasional di atas segalanya.

Sikap BI seharusnya waspada, tetapi tetap tenang (vigilant but calm). BI dapat menjadikan suku bunga acuan sebagai benteng pertahanan terakhir apabila stabilitas benar-benar terancam oleh inflasi permintaan yang tak terkendali. Selama inflasi domestik masih dalam rentang sasaran dan pertumbuhan membutuhkan ruang bernapas, BI perlu mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan non-suku bunga yang tersedia.

Dalam menghadapi tekanan eksternal, BI dapat terlebih dahulu mengoptimalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan. Dengan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kompetitif, BI bisa menyerap likuiditas asing dan memperkuat rupiah tanpa menaikkan suku bunga acuan yang berdampak langsung pada sektor riil. Jika keadaan benar-benar memaksa, barulah senjata terakhir dikeluarkan, yakni mengikuti langkah The Fed menaikkan suku bunga acuan. Dengan kepala dingin dan racikan kebijakan yang presisi, BI diharapkan mampu membawa Indonesia keluar dari kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. (*)

Editor : Arief M
Opini