Ketika Kapal Tak Menjawab

M. Ramli Arisno • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:09 WIB
M Ramli Arisno, Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
M Ramli Arisno, Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Oleh: M Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Ada momen ketika dering telepon atau notifikasi Chat WA menjadi bunyi yang paling ditunggu, sekaligus paling dicemasi.

Saya memikirkan itu ketika membaca kabar Virgo Transport 8, kapal yang sedang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, dilaporkan hilang kontak. Di dalamnya ada ratusan orang. Di darat, ada lebih banyak lagi yang menunggu mereka pulang.

Entah bagaimana rasanya jadi bagian dari keluarga yang sedang menunggu kabar semacam itu. Saya tak ingin berpura-pura tahu. Tapi sebagai sesama manusia, saya bisa membayangkan betapa panjangnya waktu, ketika orang yang kita sayangi belum bisa dihubungi.

Dua kata -hilang kontak- kedengarannya sederhana dalam bahasa berita. Sebagai orang yang cukup akrab dengan dunia berita, saya tahu betapa mudahnya dua kata itu ditulis: ditaruh di judul, lalu dilengkapi koordinat, jam keberangkatan, jumlah penumpang, operasi pencarian.

Tapi kali ini saya mencoba berhenti sebentar di situ. Sebab bagi keluarga, hilang kontak bukan sekadar informasi. Ia adalah ketidakpastian.

Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang bisa dijangkau. Pesan melintasi ribuan kilometer dalam hitungan detik. Posisi perjalanan bisa dilihat lewat layar handphone. Kita jadi terbiasa mendapat jawaban segera.

Laut mengingatkan kita bahwa tak semuanya ada dalam kendali manusia. Di tengah hamparan air yang begitu luas, komunikasi bisa terputus begitu saja. Lalu manusia kembali pada pengalaman yang sudah berabad-abad umurnya: menunggu seseorang yang sedang berada di laut dengan doa tanpa putus.

Saya membayangkan juga orang-orang yang turun dalam operasi pencarian itu. Mereka berangkat menuju titik terakhir yang diketahui, memeriksa koordinat, mengumpulkan setiap informasi yang mungkin jadi petunjuk. Bagi mereka, waktu bukan sekadar angka di jam. Ada manusia yang harus ditemukan.

Bagi kita di Kalimantan Selatan, laut sebenarnya tak pernah jauh. Laut Jawa adalah jalan yang menghubungkan kita dengan Jawa. Kapal-kapal yang melintasinya membawa manusia, kendaraan, barang--juga kerinduan orang-orang yang ingin pulang. Karena itu lah, kabar tentang Virgo Transport 8 terasa begitu dekat.

Dan justru karena ada manusia yang sedang menunggu, ada juga tanggung jawab di pihak kita: jangan menambah kecemasan mereka. Jangan mendahului tim yang sedang mencari. Jangan mengubah dugaan jadi fakta. Jangan menjadikan ketidakpastian sebagai bahan sensasi.

Hari ini saya memilih ikut menunggu, dengan harapan dan doa. Semoga pencarian menemukan jawaban. Semoga keluarga yang berkali-kali menatap layar telepon mereka, segera mendapat kabar yang dinanti.

Sebab yang sedang dicari di Laut Jawa bukan sekadar sebuah kapal, atau sebuah titik di layar pemantauan. Di sana ada manusia. Dan di darat, ada hati-hati lain yang menanti mereka pulang. (*)

 

Editor : Arief M
kapal virgo transport 8 kapal tenggelam ruang jeda